Monday, September 10, 2012

Review Film : The Taqwacores (2010)

Tentang Taqwacore
          Akan terasa asing di telinga ketika pertama kali mendengar istilah taqwacore. Ditambah pula rasa penasaran tentang istilah tersebut. Apa sebenarnya taqwacore? Istilah tersebut berasal dari penggabungan dua kata, taqwa dan core. Taqwa berasal dari bahasa Arab yang tentu kita sudah tahu artinya, secara Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Yak, taqwa bisa diartikan seperti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan core diambil dari hardcore. Taqwacore adalah subgenre dari musik punk yang hidup berkembang di scene hc/punk muslim di negara-negara barat. Dan secara garis besar, taqwacore adalah sebuah konsep gabungan antara subkultur dengan agama/religion. Scene taqwacore diisi oleh kaum muslim (pendatang/perantau/keturunan) yang merupakan sebuah minoritas di suatu negara, misalnya Amerika Serikat. Mereka menyuarakan persamaan dan anti diskriminasi atas kaum mereka. Sebagian besar di antara mereka sengaja memodifikasi/merubah tatanan ajaran Islam tradisional di kehidupan mereka, disesuaikan dengan kehidupan masa kini. Contoh band-band tawqacore antara lain The Kominas, Al-Thawra, Vote Hezbollah, dan sebagainya.

Review Film
          The Taqwacores adalah film karya Eyad Zahra yang dirilis pada tahun 2010. Film ini diadaptasi dari sebuah novel karya Michael Muhammad Knight yang berjudul sama, The Taqwacores (2003). Bersifat fiktif, namun merupakan sebuah gambaran nyata tentang kehidupan di scene muslim punk Amerika Serikat.


          Tokoh utama bernama Yusef, seorang mahasiswa teknik asal Pakistan yang berstudi di Amerika dan tinggal di sebuah rumah yang dihuni sekelompok punk muslim di Buffalo, New York. Selain sosoknya yang religius, bisa dibilang Yusef adalah seorang yang kutu buku dan kurang pergaulan. Rumah yang mereka huni terkesan berantakan, siang bisa digunakan sebagai masjid untuk beribadah bersama-sama dan ketika malam tiba digunakan pula untuk berpesta. Kawan-kawan serumah Yusef memliki karakter yang masing-masing berbeda satu sama lain. Termasuk penerapan ideologi Islam yang beragam di antara mereka. Umar, adalah seorang muslim taat dan penganut straight edge. Dia tidak mengkonsumsi rokok, minuman keras, obat-obat, serta menolak free sex. Umar juga menerapkan seluruh ajaran Al Quran di setiap sisi kehidupannya. Berbeda dengan Rabeya, seorang wanita bercadar yang mencoret sebagian isi Al Quran karena ayat tersebut dianggapnya sudah tidak cocok lagi untuk diterapkan di kehidupannya. Begitu pula dengan Jehangir, baginya Islam bukan tentang Quran dan Hadist, tetapi tentang diri sendiri. Karena menurutnya, Allah terlalu besar dan terbuka kuasa-Nya untuk membatasi ke-Islamannya. Lalu, Fasiq yang hobi menghisap ganja. Menurutnya, sesuai ajaran Quran, Allah memberkati semua benda dari alam, termasuk ganja. Teman-teman mereka juga memiliki kepribadian yang beragam. Lynn, adalah seorang wanita yang mempercayai Katolik sekaligus Islam. Fatima, membawa teman seorang gay yang bernama Muzammil. Dan keberadaan Muzammil di rumah tersebut awalnya ditolak mentah olah Umar. Keberagaman tersebut terus menempa kepribadian Yusef. Ia menjadi terbuka akan perbedaan gender yang menurutnya disrespectful. Ia juga mulai mengenal wanita dan sex. Menjelang akhir film, diadakanlah sebuah gig di dalam rumah yang mereka tempati. Mendatangkan tamu dan band-band taqwacore dari segala penjuru Amerika Serikat. Salah satu band yang sengaja diundang adalah Bilal's Boulder, band yang menolak kehadiran wanita di setiap penampilannya. Sehari sebelum gig berlangsung, mereka berpesta sepanjang malam dan tidur bersama-sama secara berserakan di rumah tersebut. Bilal's Boulder dan Umar menolak tidur di dalam rumah dan memilih di luar. Saat gig berlangsung, terjadilah kericuhan yang disebabkan ketidaksukaan sebagian besar orang akan Bilal's Boulder, yang menyebabkan tersungkurnya Jehangir. Pada akhir film ada adegan wawancara dengan Yusef, yang dilakukan oleh Harun, seorang penulis zine tawqacore Ordinance Twenty, untuk merespon tentang kericuhan yang terjadi tempo hari. Ending memang terkesan menggantung dan tidak menunjukkan sebuah akhir dari sesuatu. Yak, mungkin dengan maksud bahwa taqwacore scene is never ends!

Wednesday, September 5, 2012

The Punk Syndrome (2012) : Never Mind The Sex Pistols, Here's Pertti Kurikan Nimipäivät

          Lupakan sejenak tentang sang legenda Sex Pistols, karena kita punya Pertti Kurikan Nimipäivät, sebuah band punk rock asal Helsinki, ibu kota Finlandia. Pertti Kurikan Nimipäivät bukan sembarang band, karena band yang berdiri pada tahun 2009 ini diisi oleh orang-orang yang menderita keterbelakangan/cacat mental. Mereka adalah Pertti Kurikka (Gitar), Kari Aalto (Vokal), Sami Helle (Bass), dan Toni Välitalo (Drum). Bagian dari kisah perjalanan mereka dipresentasikan di dalam sebuah film dokumenter yang berjudul The Punk Syndrome. Film ini tayang premier di negara asal mereka, Finlandia, pada tanggal 4 Mei 2012 lalu. The Punk Syndrome adalah sebuah rangkuman dari keseharian dan suka duka di dalam sebuah band punk rock. Dimana Pertti Kurikan Nimipäivät menghabiskan waktu di studio, rekaman, tour, on stage, dan berinteraksi dengan penonton. Lagu-lagu yang mereka bawakan adalah seputar apa yang mereka hadapi di setiap harinya, masalah yang terjadi di sekitar, hingga tuntutan persamaan antar manusia. Tak hanya dalam bermusik, dalam film dokumenter ini juga diceritakan kehidupan mereka dalam berkeluarga, hingga kisah-kisah cinta yang mereka alami. Faktor psikologi/emosional menjadi bumbu yang menambah rasa dalam film ini. Kita akan melihat tingkah laku dari para personil Pertti Kurikan Nimipäivät yang nantinya mampu membuat kita salut akan keterbatasan yang mereka miliki.