Wednesday, December 5, 2012

Interview with Rude Rich & The High Notes (Bahasa Indonesia)

          Dibentuk pada tahun 1998, Rude Rich & The High Notes digawangi muka-muka lama yang sudah aktif di scene sejak akhir dekade 70an. Band asal Amsterdam, Belanda pengusung Authentic Jamaican Music (Ska, Rocksteady, Reggae, Dub) ini sudah melanglang buana ke penjuru Eropa. Bermain di berbagai macam gigs dan festival, serta menjadi backing-band musisi Jamaika pendahulu seperti Alton Ellis, Derrick Morgan, Rico Rodriguez, Dennis Alcapone, Winston Francis, The Heptones, Ernest Ranglin, Ken Boothe, dan sebagainya. Kecintaan dan dedikasi mereka terhadap musik ini membuat mereka dihargai dan dihormati sebagai duta musik Jamaika. Berikut adalah tanya jawab yang saya lakukan bersama mereka.

Hai Rude Rich & The High Notes, salam hangat dari Indonesia. Apa yang saat ini sedang kalian kerjakan?
          Salam, saya yang menjawab pertanyaan ini adalah Ras P, pemain keyboard dan co-founder dari The High Notes. Saai ini kami sedang menjalani beberapa show di Belanda dan Jerman. Kami juga sedang membangun sebuah studio rekaman baru di Amsterdam. Serta mempersiapkan diri untuk gig-gig di awal tahun dan festival di musim panas.

Band kalian sudah berjalan kira-kira 15 tahun. Bagaimana cara mempertahankan suapaya band kalian tetap jalan?
          Ya, sudah cukup lama. Masih ada tiga personil inti yang juga merupakan personil asli, yang jelas kami sudah mengalami pergantian personil selama bertahun-tahun. Sebagian besar musisi yang terlibat bersama kami telah memainkan musik ini selama lebih dari 20 tahun dan sudah mengenal segala seluk-beluk tentang musik ini. Tetapi yang benar-benar membuat kami tetap jalan adalah kecintaan kami akan musik yang indah ini, dan juga reaksi positif dari audience di seluruh dunia.

Bagaimana rasanya menjadi backing-band dari sekian banyak musisi Jamaika pendahulu?
          Ini adalah salah satu hal terindah yang bisa terwujud bagi sebuah band (tidak peduli musik apa yang kamu mainkan) untuk tampil dan berkolaborasi dengan musisi idolanya di panggung. Bagi kami, karena musisi-musisi Jamaika tersebut berasal dari tempat lahirnya musik yang kami mainkan, mereka memiliki banyak hal yang bisa diajarkan dan dibagikan. Ini adalah sebuah kehormatan bagi kami, dan kami selalu menjaga kualitas kami sebaik-baiknya untuk dapat memainkan musik yang berasal dari Jamaika ini se-otentik mungkin. Sehingga mereka menghargai dan selalu memberi kami pujian seperti ini, "Musik kalian terdengar seperti era Studio One atau Treasure Isle."

Ceritakan tentang rilisan terbaru kalian!
          Rilisan terbaru kami adalah sebuah album tribute yang berisi kumpulan lagu-lagu dari musisi-musisi yang telah pergi mendahului kita. Kami memilih beberapa lagu yang paling kami sukai, lalu merekamnya. Album ini seperti yang telah dikatakan, adalah sebuah penghargaan kepada musisi-musisi yang warisan musiknya akan selalu menginspirasi orang di seluruh dunia.

Apa kegiatan para personil di luar band?
          Hampir semua dari kami memiliki pekerjaan tetap di luar band, untuk membayar sewa dan tagihan bulanan serta makan dan minum sehari-hari. Pada masa sekarang ini, tidak memungkinkan bagi kami untuk hidup dengan mengandalkan pendapatan dari bermusik saja. Dan di sini, di Belanda, semakin sulit dari tahun ke tahun dengan adanya hukum dan peraturan pajak yang setiap waktu diubah-ubah oleh pemerintah. Hal ini juga berpengaruh bagi band dan musisi-musisi baru serta venue-venue skala kecil, mereka sedang dalam masa sulit sekarang ini.

Kalian memainkan musik asli Jamaika seperti Ska, Rocksteady, Reggae, dan Dub. Apa pendapat kalian tentang modifikasi dari musik-musik tersebut seperti Ska-Punk/Core dan sebagainya?
          Seperti yang kamu katakan, kami memainkan musik asli Jamaika, dengan kata lain, memainkan musik seperti yang dimainkan pada masa lalu di tempat musik tersebut berasal. Kami mempertahankan keasliannya. Tetapi musik tetaplah musik, jika memang musisi merasa harus mencampuradukkan/memodifikasi musik-musik tersebut, boleh-boleh saja. Namun bagi saya pribadi, saya lebih memilih untuk membiarkan musik tersebut sebagaimana adanya, sesuai dengan akarnya.

Bagaimana dengan scene Ska/musik Jamaika di Belanda? Kapan dimulainya? Dan bagaimana keadaan scene di sana sekarang?
          Semuanya dimulai pada akhir 1970an, itulah waktu ketika band Reggae pertama kali muncul di sini. Saya sendiri mulai terlibat pada tahun 1979 bersama band Reggae yang bernama Inity. Pada tahun 80an musik ini benar-benar booming, banyak band bermunculan, dan venue yang selalu penuh merupakan hal yang biasa terjadi. Ska dan Rocksteady belum benar-benar dimainkan pada waktu itu. Keduanya adalah akar sebenarnya dan musik pendahulu yang dipandang rendah. Ketertarikan pada Ska dan Rocksteady muncul melalui adanya scene Two Tone di Inggris, yang membuat orang mempelajari lebih dalam tentang sejarah musik Reggae, tetapi belum ada band yang benar-benar bisa memainkan Ska dan Rocksteady. Sampai akhirnya, Ska dan Rocksteady mulai dimainkan di sini pada tahun 90an ketika Rude Rich & The High Notes terbentuk dan terlibat di scene. Apa yang saya lihat sekarang ini adalah perubahan dari audience yang sangat berbeda dari biasanya, banyak orang dari berbagai kalangan yang memberikan apresiasi mereka terhadap musik Jamaika sekarang ini, dan itu merupakan hal yang bagus.

Apa yang kamu tahu tentang scene Ska/musik Jamaika di Indonesia?
          Sejujurnya, kami tak tahu apa-apa tentang scene Ska/musik Jamaika di Indonesia. Kami baru mempelajarinya semenjak kamu meng-interview kami. Tetapi lagi-lagi saya tidak kaget. Musik yang berasal dari pulau kecil di Karibia yang bernama Jamaika, di sebuah ibukota kecil yang bernama Kingston, di bagian kecil dari ibukota yang bernama Trenchtown (Ghetto di wilayah barat Kingston), kini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Musik ini sekarang sudah dimainkan dimana-mana, hebat!

Ngomong-ngomong, bagaimana dengan penggunaan dan jual beli marijuana di Belanda?
          Di sini, penjualan dan pemakaian ganja tidak sepenuhnya legal. Dinyatakan ilegal jika barang tersebut dibawa masuk dan dipakai di coffeshop, tetapi bagi pihak coffeeshop diperbolehkan/legal untuk menjualnya, dalam jumlah yang terbatas. Coffeeshop tersebut juga diwajibkan membayar pajak atas ganja yang mereka jual. Pemerintah Belanda kini telah memperkenalkan Weedpass bagi warga Belanda di wilayah-wilayah tertentu. Mereka memberlakukan ini untuk mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke Belanda, terutama Amsterdam. Warga Amsterdam tidak senang dengan peraturan pemerintah tersebut, karena wisatawan yang datang untuk merasakan pengalaman menghisap ganja secara bebas di coffeeshop tanpa takut ditangkap tersebut memberikan pendapatan dalam jumlah besar.

Kata-kata penutup bagi para pembaca?
          Ya, bagi kalian semua pecinta musik, keep on listening to the real authentic music, keep in touch dengan kami Rude Rich & The High Notes, dan nikmati hidupmu sepenuhnya. Nuff respect and love to all.

Ras P, Rude Rich and the High Notes

PS : Kami sangat ingin mengunjungimu dan bermain di beberapa show di Indonesia. Mungkin kamu bisa membantu kami?


          Nah, itu tadi interview dengan Rude Rich & The High Notes yang dijawab oleh Ras P, keyboardist dan co-founder dari band tersebut. Banyak informasi tentang band, scene, ganja, dan sebagainya. Mereka juga mengutarakan keinginan untuk mengunjungi Indonesia. Mungkin bagi kalian yang ingin mengorganisir show bagi Rude Rich & The High Notes, dalam artian mengundang atau menampung jika barangkali mereka mengadakan tour, bisa mengontak langsung via facebook : Rude Rich and the High Notes. Dan kunjungi website mereka di : www.ruderich.nl

Interview with Rude Rich & The High Notes (Netherlands)

          Dibentuk pada tahun 1998, Rude Rich & The High Notes digawangi muka-muka lama yang sudah aktif di scene sejak akhir dekade 70an. Band asal Amsterdam, Belanda pengusung Authentic Jamaican Music (Ska, Rocksteady, Reggae, Dub) ini sudah melanglang buana ke penjuru Eropa. Bermain di berbagai macam gigs dan festival, serta menjadi backing-band musisi Jamaika pendahulu seperti Alton Ellis, Derrick Morgan, Rico Rodriguez, Dennis Alcapone, Winston Francis, The Heptones, Ernest Ranglin, Ken Boothe, dan sebagainya. Kecintaan dan dedikasi mereka terhadap musik ini membuat mereka dihargai dan dihormati sebagai duta musik Jamaika. Berikut adalah tanya jawab yang saya lakukan bersama mereka.

Hi Rude Rich and The High Notes, greeting from Indonesia! What are you currently doing in the band?
          Greetings, I, personally, am the keyboard player and co-founder of the High Notes.Currently we are doing some shows in the Netherlands and Germany and building a new recording studio in Amsterdam and preparing for next year's gigs and fetivals for the summer season.

It's about 15 years on, how to keep your band alive?
          Yes it has been a while. There is still a core of three original members so obviously we had some personel changes over the years. Most of the musicians that we worked with have been playing this music for more than 20 years and know every aspect of it. But what really keeps us going is the love of this wonderfull music and the possitive reactions of our audiences all over the world.

How it feels to be a backing band for many Jamaican artists?
          This is one of the greatest things that can happen to a band (whatever kind of music you play) to actually perform with your musical hero's on stage. Because these people stood at the cradle of reggae music they have so much to teach and share. It is a great honour for us and we allways put the standard real high to play their music as authentic as is possible. This they do appreciate very much and allways give us compliments like; "You guys sound just like Studio One or Treasure Isle".

Tell me about your latest release!
          Our latest release is a compilation album of artists who are sadly no longer with us. We picked out certain tunes which we liked best and recorded them. The album is what it says it is, a tribute to these wonderful artists who's musical legacy will allways inspire people all over the globe.

What's the activities of each members outside the bands?
          Most of us have a regular job besides the band to pay the rent and the monthly bills and to eat and drink. At this stage it is not possible for us to live from musical incomes alone and here in Holland it's getting harder year by year with different laws and tax regulations made up by the government every time. This is also relevant for upcomming new artist and bands and small venues, they are having a hard time now.

You play authentic Jamaican music such as ska, rocksteady, reggae, and dub. What do you think about the modification of itself like ska-punk/core, etc?
          As you say, we play authentic, in other words, the real stuff as it was played at the time it was originated. We are purists so to speak. But music is music and if artists feel like they have to mix it all up, that's fine with me, but speaking for myself, I prevere to keep things as they are, stick with the roots of things.

How about the ska/Jamaican music scene in Netherlands? When it's started? And how's the scene today?
          It all started here in the late 1970ties that's the time when the first reggae bands emerged. I myself started in 1979 with a reggae band called "Inity". In the 80ties it was really booming, a lot of bands and sold out venues was the order of the day. Ska and Rocksteady wasn't done in those days, it was stricktly Roots and what came before that was looked down upon. Interest in Ska and Rocksteady came through the English Two Tone scene which made some people look further into the history of reggae music but there weren't any bands who could actually play the authentic Ska and Rocksteady. That all started to happen in the 90ties when Rude Rich and the High Notes hit the scene. What I see nowadays is that the make up of the audiences is very different from what it used to be, a lot of different people appreciate Jamaican music now, which is a very good thing.

What do you know about the ska/Jamaican music scene in Indonesia?
          To tell you the honest truth, we didn't know anything about that, we looked in to it because of your interview. But then again I am not surprised. This music that started in a small Island in the Carribean, called Jamaica, in a small capital city of Kingston, in a small part of that capital called Trenchtown (Ghetto of Western Kingston) has spread to the four corners of the globe. This music is now played everywhere, which is great!

By the way, how about the usage also buying-and-selling of marijuana in Netherlands?
          Here in the Netherlands it is kind of legal to sell and use herb. It's illegal though to bring it to the so called "Coffeeshops, but once in the shop it is legal to sell, up to a certain amount. These shops are also entittled to pay taxes over what they sell! The Dutch government has now introduced a "Weedpass" for Dutch people, in certain parts of Holland. They did this in order to reduce the amount of tourists that come to the Netherlands and particular Amsterdam just to smoke freely. The city of Amsterdam is not happy with this for it will cost them an enormous amount of income since the majority of tourists come to the city just to do that; experience a visit to a coffeeshop and smoke some herb without being afraid of getting arrested.

Any last words for our readers?
Yes, all you music lovers, keep on listening to the real authentic music, keep in touch with Rude Rich and the High Notes and enjoy live to the fullness. Nuff respect and love to all.

Ras P, Rude Rich and the High Notes

PS : We would really love to visit you and do some shows in your beatiful country! Mabey u can help us out?


          Nah, itu tadi interview dengan Rude Rich & The High Notes yang dijawab oleh Ras P, keyboardist dan co-founder dari band tersebut. Banyak informasi tentang band, scene, ganja, dan sebagainya. Mereka juga mengutarakan keinginan untuk mengunjungi Indonesia. Mungkin bagi kalian yang ingin mengorganisir show bagi Rude Rich & The High Notes, dalam artian mengundang atau menampung jika barangkali mereka mengadakan tour, bisa mengontak langsung via facebook : Ride Rich and the High Notes. Dan kunjungi website mereka di : www.ruderich.nl

Interview with Count Kutu & The Balmers (Bahasa Indonesia)


          Count Kutu & The Balmers adalah sebuah band yang berasal dari Manila, Filipina. Mengusung musik Mento/Calypso yang merupakan akar dari musik Ska, Rocksteady, Reggae, Dub, Dancehall, dan musik-musik kulit hitam lainnya. Terbentuk pada tahun 2002 oleh nama-nama seperti Count Kutu (Ryan), Senyor Lucca (Greg), Don Ustollano (Joy), Lord Santadio (Corlasito), dan Doctor Turbo (Ompong). Namun beberapa diantara mereka sudah menikah dan tidak aktif lagi di band. Sempat mengalami masa sulit setelah ditinggal beberapa personil asli mereka, akhirnya pada tahun 2010 Count Kutu dan Senyor Lucca mendirikan kembali Count Kutu & The Balmers bersama Cardinal Jones (Jong), Lord Francis (Francis), Bob Marlou (Marlou), dan Atty Justin. Masih mengusung musik Mento/Calypso dengan ciri khas vokal sengau dan menggunakan instrumen-instrumen seperti gitar akustik, tenor banjo, marakas, catacoo, sand block, bamboo drum, dan rumba box. Jalan mereka tidaklah mulus, album-album yang mereka hasilkan tidak begitu laku. Pembelinya kebanyakan adalah wisatawan dan pejalan kaki yang melintas di tempat Count Kutu & The Balmers biasa mengamen, seperti di kawasan pantai dan sudut-sudut kota. Akhirnya, kerja keras mereka membuahkan hasil. Pada tahun 2012, album terbaru mereka dirilis dalam format vinyl 10 inch oleh Jump Up Records, sebuah label rekaman asal Chicago, Amerika Serikat. Label yang berdiri tahun 1993 ini mengawali langkah dengan merilis kompilasi-kompilasi yang memperkenalkan band-band Amerika seperti Mustard Plug, Suicide Machines, dan sebagainya. Kini, Jump Up sudah menegeluarkan ratusan rilisan dari berbagai musisi Ska, Rocksteady, Reggae, dan Calypso dari seluruh dunia, antara lain Mr. Symarip, Mr. T-Bone, Moon Invaders, Firebug, Go Jimmy Go, See Spot, Babylove & The Van Dangos, Dr. Ring Ding, dan lain-lain, termasuk Count Kutu & The Balmers. Sehingga, penjualan album terbaru dari Count Kutu & The Balmers kini sudah mampu menjangkau seluruh belahan bumi. Semakin penasaran dengan Count Kutu & The Balmers, akhirnya saya ajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Tidak terlalu panjang lebar, namun sudah cukup sebagai info tambahan dan mencakup pula segala seluk beluk band ini. Berikut adalah interview kami.

Mengapa kalian memilih nama Count Kutu & The Balmers?
          Kami hanya mengadaptasi cara musisi-musisi Mento dalam memberi nama band mereka. Sama seperti halnya kebanyakan musisi Mento Jamaika mengadopsi gaya musisi Calypso dalam memberi nama. Berikut adalah sejarah singkat dan sedikit lebih dalam tentang sejarah nama musisi Calypso. Musisi Calypso yang merupakan budak memilih nama mereka dengan meniru nama depan tuan mereka seperti Lord, King, Great, Mighty, dll. Mereka mengejek secara licik satu sama lain, terutama mengejek tuan mereka, dengan menyanyikan lagu-lagu Calypso.

Kalian biasa bermain dalam pertunjukan seperti apa?
          Kami biasa bermain di sudut-sudut jalanan dan tempat-tempat umum di sekitar Metro Manila, serta di pantai-pantai lokal sekaligus sebagai rekreasi bagi kami. Memancing kerumunan penonton dan orang-orang yang lewat supaya membeli CD kami dan menjatuhkan koin ke dalam kotak gitar banjo sebagai sumbangan atas lagu-lagu Calypso yang kami nyanyikan. Kami juga bermain secara regular di bar lokal yang berbeda-beda seperti Scarlet CafĂ©, B-Sides, Mercy’s, dan Black Bird. Serta event-event seperti festival Ska atau Reggae pada waktu tertentu.

Bagaimana kalian bisa menjalin hubungan kerjasama dengan Jump Up Records?
          Teman kami yang bernama Hil (seorang organizer gig lokal) mengirimkan video-video band yang berbeda-beda termasuk video kami, Count Kutu & The Balmers di halaman facebook Jump Up Records. Barangkali Jump Up menyukai musik kami. Lalu, mereka mulai mengontak kami dan mengirimkan proposal via email. Begitulah cara kami mendapat kesepakatan kontrak dengan Jump Up Records. Terima kasih untuk Hil, dialah yang membuat seluruh kesepakatan kontrak ini terwujud, dan untuk Luv Gaerlan Nogoy atas dukungan dan bantuannya yang sangat berharga.

Ceritakan tentang album kalian yang dirilis oleh Jump Up Records tersebut!
          Album yang berjudul "Take Me" ini adalah album ke lima kami, dirilis oleh Jump Up Records dalam format vinyl 10 inch. Kami tidak mengharapkan kesuksesan yang muluk-muluk, karena target pemasaran kami adalah menjual merchandise kami dalam wilayah lokal saja. Tetapi mengejutkan bagi kami, sekarang mulai dijual ke seluruh belahan bumi semenjak bekerjasama dengan Jump Up. Terima kasih kepada Tuhan atas berkat-Nya yang diberikan kepada kami.

Kebanyakan lagu kalian ditulis menggunakan bahasa daerah kalian. Lagu-lagu kalian menceritakan tentang apa saja?
          Lagu-lagu kami bercerita tentang apa yang terjadi di sekitar, skandal, penghinaan, politik, gosip, keberanian, dan sindiran-sindiran. Yang jelas, kami mempelajari teknik-teknik yang banyak terpengaruh dari ketrampilan musisi-musisi Calypso tradisional, serta musisi Calypso lokal, Max Surban.

Bagaimana dengan scene musik di kota dan negara kalian?
          Musik Reggae dan Ska baik tradisional maupun modern merajalela di negara kami saat ini. Sebagian besar memiliki kualitas yang pantas diacungi jempol. Scene Ska, Reggae, dan Mento di Filipina memang selalu ramai. Kami sangat menikmati menjadi bagian dari scene tersebut. Selalu menyenangkan karena semuanya memberikan support secara antusias terhadap scene baik penggemar musik Jamaika maupun bukan.

Ini sebuah karir atau hanya hobi bagi kalian? Adakah proyek lain?
          Sebenarnya, Count Kutu & The Balmers adalah sebuah band side project dan hanya merupakan hobi bagi kami. Band asli kami adalah The Sneekers, sebuah band Punk Rock/Psychobilly, dan band tersebut juga masih aktif.

Banyak yang masih bingung dalam membedakan Mento dengan Calypso karena keduanya memang hampir sama. Apa perbedaan diantara keduanya?
          Perbedaan antara Calypso dengan Mento adalah sebagai berikut, yang jelas, Calypso berasal dari Trinidad & Tobago, sedangkan Mento berasal dari Jamaika. Keduanya memiliki gaya yang hampir sama pada kecerdasan lirik, mungkin karena keduanya memiliki akar yang sama, dari Afrika. Perbedaanya hanya dari suaranya, Mento memiliki sound yang unik dan eksotis, sebagai contoh, Mento biasanya menggunakan banjo sebagai lead guitar, dan dipetik dengan gaya mirip Early Reggae, atau teknik memetik yang tak terduga namun teratur. Sedangkan Calypso menggunakan gitar akustik khusus yang dipetik atau bermain lead dengan sedikit nge-jazz. Tetapi itu tidak mempengaruhi antusiasme saya terhadap Calypso, karena saya benar-benar menyukai keduanya, baik Mento maupun Calypso. Perbedaan yang lain, Mento menggunakan rumba box yang menghasilkan suara bass yang jelas dan dalam seperti jantung berdebar, sedangkan Calypso menggunakan kontra bass. Menurut saya, itu tadi adalah beberapa perbedaan antara Mento dan Calypso.

Kalimat-kalimat penutup untuk para pembaca?
          Untuk orang-orang Indonesia yang selalu memberikan support, terima kasih atas sambutan kalian yang hangat kepada band kami. Ini adalah sebuah kehormatan besar bagi kami bisa berpartisipasi dalam zine lokal kalian (Fotokopi Buram Zine). Kami sangat menghargainya. Kami berharap supaya bisa mengunjungi Indonesia suatu hari nanti. Sukses buat kalian. Terima kasih untuk semuanya.

Interview with Count Kutu & The Balmers (Philippines)


          Count Kutu & The Balmers adalah sebuah band yang berasal dari Manila, Filipina. Mengusung musik Mento/Calypso yang merupakan akar dari musik Ska, Rocksteady, Reggae, Dub, Dancehall, dan musik-musik kulit hitam lainnya. Terbentuk pada tahun 2002 oleh nama-nama seperti Count Kutu (Ryan), Senyor Lucca (Greg), Don Ustollano (Joy), Lord Santadio (Corlasito), dan Doctor Turbo (Ompong). Namun beberapa diantara mereka sudah menikah dan tidak aktif lagi di band. Sempat mengalami masa sulit setelah ditinggal beberapa personil asli mereka, akhirnya pada tahun 2010 Count Kutu dan Senyor Lucca mendirikan kembali Count Kutu & The Balmers bersama Cardinal Jones (Jong), Lord Francis (Francis), Bob Marlou (Marlou), dan Atty Justin. Masih mengusung musik Mento/Calypso dengan ciri khas vokal sengau dan menggunakan instrumen-instrumen seperti gitar akustik, tenor banjo, marakas, catacoo, sand block, bamboo drum, dan rumba box. Jalan mereka tidaklah mulus, album-album yang mereka hasilkan tidak begitu laku. Pembelinya kebanyakan adalah wisatawan dan pejalan kaki yang melintas di tempat Count Kutu & The Balmers biasa mengamen, seperti di kawasan pantai dan sudut-sudut kota. Akhirnya, kerja keras mereka membuahkan hasil. Pada tahun 2012, album terbaru mereka dirilis dalam format vinyl 10 inch oleh Jump Up Records, sebuah label rekaman asal Chicago, Amerika Serikat. Label yang berdiri tahun 1993 ini mengawali langkah dengan merilis kompilasi-kompilasi yang memperkenalkan band-band Amerika seperti Mustard Plug, Suicide Machines, dan sebagainya. Kini, Jump Up sudah menegeluarkan ratusan rilisan dari berbagai musisi Ska, Rocksteady, Reggae, dan Calypso dari seluruh dunia, antara lain Mr. Symarip, Mr. T-Bone, Moon Invaders, Firebug, Go Jimmy Go, See Spot, Babylove & The Van Dangos, Dr. Ring Ding, dan lain-lain, termasuk Count Kutu & The Balmers. Sehingga, penjualan album terbaru dari Count Kutu & The Balmers kini sudah mampu menjangkau seluruh belahan bumi. Semakin penasaran dengan Count Kutu & The Balmers, akhirnya saya ajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Tidak terlalu panjang lebar, namun sudah cukup sebagai info tambahan dan mencakup pula segala seluk beluk band ini. Berikut adalah interview kami.

Why do you choose the name "Count Kutu and The Balmers"?
          We simply adopt the mento musician's idea of naming their band. The same theory as most Jamaican mento musicians adopt the Calypsonians style of naming theirs. Here's somewhat very short and a bit deeper history of Calypsonians names. Slave Calypsonians have pick their names by mimicking their masters first names such as Lord, King, Great, Mighty just to name a few and they mock slyly each other but mostly their masters by singing calypso songs.

What kind of shows do you play?
          We used to play on the street corners and public places around Metro Manila and local beaches as our pastime, hustling the onlookers and passersby to buy our cd’s and to drop their coins into the banjo guitar box as donations by singing calypso songs. And we regularly play to our different local bars like Scarlet CafĂ©, B-Sides, Mercy’s, Black Bird and event like ska festival or reggae festival in different schedules.

You release 10 inch records from Jump up records in US. How do you get relationship with Jump Up Records?
          My friend named Hil (local gig organizer) posted different band videos including Count Kutu & The Balmers on Jump Up facebook page. Perhaps the Jump Up liked CK&TB's sound as the effect, so they start to contact us and sending proposal via email. That’s how we got the Jump Up record deal. Thanks to sir Hil, he made this whole deal happen and to Luv Gaerlan Nogoy for her valued support and assistance.

Tell me the story about your album that released by Jump Up Records!
          "Take Me" album is our fifth album that was released by Jump Up Records in vinyls. We did not expect such success would come to us because our main target-market of this business is to sell our merchandise for locals only. But to our surprise it appeared now to be selling worldwide since Jump Up's. Thanks to God for giving us these blessings.

Many of your songs are written in your mother-tongue/local language. What are your songs talking about?
          It's all about local news, scandals, insults, politics, gossips, bravado and innuendos. Of course, we have learned these technics from cunning traditional Calypsonians and our local calypsonian Max Surban.

How about the music scene in your town also your country?
          Reggae and Ska music both traditional and modern are rampant in my country nowadays. Most of them are good. Philippine Ska, Reggae, and Mento scene are always great. We really enjoy most of the scenes. It was always joyful because everyone supports the scenes with enthusiasm both Jamaican music supporters and non-supporters.

Is a career or just a hobby for you? Any other project outside the band?
          Actually, Count Kutu & The Balmers is my side project band and it is only a hobby for us. Our original band is The Sneekers - a Punk Rock/Psychobilly band and still active.

Mento is often confused with Calypso because of their similarities. What are the differences between them?
          The differences between calypso and mento is that, of course, calypso was originated in Trinidad and Tobago, and mento was originated in Jamaica. They have almost the same style of wit on their lyrics, maybe because they have the same african roots. It differs only to the sound because mento has very uniquely exotic sound like for example, mento usually used banjo as lead guitar and strummed in antediluvian reggae style or in predictably unpredictable strumming technics, while calypso used typical acostic guitars and strummed or lead in slight jazz form but it does not affect my enthusiasm in calypso because I simply like them both. Another example, mento used Rumba box that produces very distinctly deep and heart-pounding sound of bass, while calypso used upright bass. I think those are some of the differences between calypso and mento.

Any last words for our readers?
          To all Indonesian supporters thank you for your warm patronage to the band. It’s a great honor for the band to be featured of your local fanzine (Fotokopi Buram Zine). We really appreciate this stuff. We hope to see Indonesia someday. We wish you all god speed. Thanks to everyone.

Tuesday, November 6, 2012

Nostalgia Kaset Pita

          Belum lengkap rasanya apabila kita seorang pecinta musik atau mungkin musisi jika belum mengenal apa itu kaset pita. Saya pribadi mengenal benda tersebut semasa kanak-kanak, sedari era Bondan Prakoso si Lumba-Lumba sampai Trio Kwek-Kwek. Yaa, sedikit contoh lagu anak-anak yang kini sudah hampir punah. Mungkin saat ini lagu anak-anak tersebut hanya mampu kita jumpai sebagai backsound wahana permainan keliling bernama odong-odong. Mulai beranjak dewasa, tentu selera musik berubah dengan sendirinya. Musik seakan menjadi kebutuhan tambahan yang harus dipenuhi pula. Berbahagialah jika pernah merasakan mencari kaset yang diinginkan dan akhirnya menemukannya setelah pusing berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Karena pada saat itu, yang kita inginkan belum pasti tersedia di toko kaset terdekat. Tak semudah men-download lagu seperti masa sekarang ini. Lebih menyenangkan lagi jika membelinya dengan uang tabunganmu sendiri. Selain membeli, ada teknik tradisional semacam barter/trade dengan orang lain. Bisa juga pinjam meminjam, sampai ada kaset yang jejaknya hilang entah kemana. Dan satu hal lagi yang unik adalah merekam lagu-lagu yang kita sukai di sebuah siaran radio menggunakan tape recorder dengan media kaset pita kosongan (blank cassette). Oh iya, generasi sekarang dan mendatang mungkin tidak akan pernah mengenal rasanya memutar kaset pita tepat di kedua lubangnya menggunakan bolpoin atau pensil ketika kaset tersebut nglokor, atau memang sengaja diputar untuk menghindari pita kaset yang bermasalah akibat terlalu sering melakukan fast forward dan rewind. Seiring berjalannya waktu, keberadaan dan peredaran kaset pita mulai tergeser oleh compact disc (CD), Kebanyakan dari para musisi pun kini merilis album mereka secara digital dengan media CD. Meski masih ada sebagian kecil yang merilis format kaset pita. Dan masih ada pula segelintir orang yang mengoleksi rilisan-rilisan dalam format kaset pita tersebut.

Donlot

          Semakin berkembang teknologi, kita pun semakin mudah untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu. Salah satunya yang akan disoroti dalam artikel ini adalah tentang download, khususnya dalam dunia musik. Demi memenuhi kebutuhan telinga yang selalu lapar akan musik, kini kita tak perlu susah payah untuk mencari dan membeli album original. Ketersediaan akses internet yang hampir dimiliki setiap orang menjadi pendukung yang utama. Kini, kita tinggal browsing, cari file yang berkaitan/diinginkan, dan langsung download. Dengan proses se-instant itu kita dapat langsung mendengarkan musik/lagu yang kita inginkan.
          Download, untuk musik/lagu khususnya, pada dasarnya terbagi dalam dua macam. Pertama, adalah link download yang disediakan sendiri oleh pihak musisi/artist yang bersangkutan. Link download seperti ini biasanya digunakan sebagai sarana untuk membagikan sample/demo dari musisi-musisi tersebut. Namun, ada pula musisi yang memang mereka tidak pernah menjual rilisan album dan dengan sukarela membagikan karya-karya mereka. Kedua, adalah murni pembajakan, yang sengaja disebarluaskan oleh pihak tertentu tanpa sepengetahuan/izin dari musisi yang bersangkutan.
          Kita tidak perlu munafik. Banyak dari kita pasti memanfaatkan kemudahan tersebut, men-download lagu/album dari sekian banyak link yang tersedia di samudera internet. Terutama untuk lagu/album mancanegara yang kita tidak tahu dimana harus membeli jika tidak ada di toko kaset/CD terdekat. Apalagi untuk rilisan lama dan langka yang memang sudah tidak beredar di pasaran. Kita tidak perlu susah-susah mencari dan merogoh kocek lebih dalam.
          Namun, lain halnya untuk rilisan lokal, terutama bagi yang berada di jalur independen. Rilisan tersebut biasanya mampu dijangkau dan mudah ditemukan. Kita bisa menjumpainya di distro atau lapak. Selain di tempat-tempat tersebut, ada juga dengan sistem online, bahkan bisa menghubungi/mengontak langsung musisi yang bersangkutan. Yak, sudah seharusnya kita memberikan support secara langsung. Membeli t-shirt band saja mampu, mengapa tidak membeli albumnya?


Local CDs

Saturday, November 3, 2012

amarahXhitam (Bekasi Hardcore)


Profil
          amarahXhitam berdiri kisaran awal 2011 dan berisi muka2 lama dari skena Bekasi diantaranya Sterly AKA Cilay, vokalis band metal hardcore lawas, Wallride. Hendri AKA Ucox, gitaris salah satu band generasi awal bekasi hardcore, Full Of Respect. Agni, drumer yang sudah malang melintang di scene indie Bekasi maupun Jakarta. Abud AKA Kebot new kid from Jatimulya Crew, ex-gitaris dari band potensial, Freewiily. Dan yang terakhir Endro, seorang perantauan dari kota Bengawan Solo yang tinggal di Tangerang, salah satu personel dari band Solo City Hardcore, Cause Of Damage. Dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda ini, amarahXhitam hadir dengan menyatukan unsur-unsur tersebut menjadi sebuah kombinasi baru dalam skena Bekasi Hardcore. amarahXhitam telah merampungkan proses pembuatan  EP yang berisikan 5 tracks diantaranya Sounds of Power, Strike Back, Lawan Stamina, dan 1 lagu remix version amarahXhitam yang di-mix oleh Endro. Untuk proses rekaman dilakukan di studio Rajawali, Bekasi, dengan engineer Erix Trashline. Dan lumayan memakan waktu lama dari akhir September 2011 sampai pertengahan 2012 dikarenakan kesibukan pekerjaan masing-masing personil. Menjelang akhir 2012 akhirnya EP yang berisikan 5 track rampung dan diproduksi sendiri secara DIY dengan bantuan DIY record Masasiorangutan Record untuk hal distribusi. amarahXhitam masih menyisakan beberapa lagu yang tidak dimasukkan dalam EP ini dan berencana awal atau pertengahan tahun 2013 akan merilis full album dibawah label Masasiorangutan record.




EP Review
          EP dari amarahXhitam ini diawali dengan intro (welcome) sebagai pemanasan. Berdurasi tak sampai satu menit, berupa instrumental disertai sampling di detik-detik awal. Setelah berhenti, langsung dikebut dengan beat cepat dari lagu yang berjudul Sounds Of Power. Lewat lirik dari lagu Sounds Of Power ini, AXH menunjukkan bahwa suara-suara yang mereka suarakan memiliki kekuatan. Track ketiga berjudul Strike Back!!!, sesuai judul album. Lagi, track ini diisi sampling, tepatnya di awal dan di tengah-tengah lagu. Kali ini yang dipakai adalah suara-suara pukulan, suasana dalam sebuah pertandingan tinju yang membuat lagu berjudul Strike Back!!! ini semakin hidup. Lagu ini adalah tentang bagaimana kita menjalani kehidupan yang kadang berada di atas dan juga di bawah, yang harus dihadapi dengan perjuangan keras dan pantang menyerah. Kemudian, track keempat yang berjudul Lawan Stamina. Masih menceritakan bagaimana cara menghadapi kerasnya hidup. Tentang semangat, kekuatan, keteguhan, melawan stamina! Terakhir, sebagai penutup adalah sebuah anthem remix version bernuansa digital hardcore/industrial yang berjudul 4M4R4HxH1T4M. Untuk mendapatkan CD EP Strike Back!!! ini silakan menghubungi kontak yang tercantum di bawah.

amarahXhitam :
- Sterly AKA Cilay | @sterlycilay : Vocal
- Hendri AKA Ucox | @hendri_tdf : Guitar
- Agni| | @Agni54 : Drum
- Abud AKA Kebot | @abudkariza : Bass
- Endro | @Endwicakso : Guitar

Contact :
amarahxhitam@yahoo.com
Facebook Page : Amarahxhitam
http://www.reverbnation.com/amarahxhitam
Endro (+628569946738)
Hendri (+6281511171105)

Pengen Support Tapi Kok Mahal? (Oleh : Jr. Miko)

          Akhir-akhir ini mungkin kita sering mendengar keluhan dari teman ataupun orang yang belum kita kenal tentang harga merchandise band dan harga tiket masuk gigs yang makin mahal. Hal tersebut bisa terjadi pasti ada faktor-faktor penyebabnya. Mari kita telaah bersama faktor-faktor tersebut.
          Pertama, naiknya bahan baku produksi kaos yg makin lama makin naik. Dengan kenaikan harga bahan baku, otomatis biaya produksi yang digunakan juga akan semakin naik pula. Kedua, design yang bagus dan menarik. Jangan dikira bikin design itu mudah. Ini membutuhkan keterampilan dan memakan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan sebuah design. Ketiga, kelangsungan hidup band. Sebuah band memproduksi merchandise salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan untung (bukan komersil). Keuntungan tersebut dimanfaatkan untuk biaya latihan, bikin merchandise, rekaman, dll.
          Jadi, jangan dikira mereka membuat merchandise hanya untuk mencari keuntungan pribadi saja. Keperluan band banyak, sewa studio buat latihan, kemudian rekaman. Itupun dengan budget yang tidak sedikit tentunya. Kalau kita mensupport mereka dengan membeli merchandise-nya secara tidak langsung kita membantu kelangsungan hidup band itu. Toh uang yang kita keluarkan nantinya juga akan kita rasakan kembali setelah band tersebut rekaman, dan kita akan menikmati hasil karyanya tersebut.
          Tapi ada juga band yang menghidupi band nya dengan modal sendiri. Jangan salah sangka ketika mereka setelah merilis album dan menjual kasetnya ke umum dengan nominal tentunya. Biaya yang mereka keluarkan untuk merampungkan sebuah album tidaklah murah, jadi wajar kalau mereka menjualnya dengan nominal tertentu. Kalau kita suka terhadap karya band tersebut ya supportlah, kalau tidak suka ya tinggalkan saja. Tak usah banyak bicara ini itu.
          Lantas bagaimana jika kita ingin mensupport mereka tapi tidak mampu membeli merchandise ataupun rilisan album mereka? Mudah saja, pinjamlah kaset/CD teman kamu yang sudah beli lalu dengarkan hasil karyanya. Saat mereka main dalam suatu gigs datanglah, ikutlah sing along dan meramaikan gigs tersebut. Dengan seperti itu kita telah mensupport mereka secara langsung, dan mereka juga akan respect kepada kita.
          Permasalahan kedua muncul. Mau support band teman yang main kok harga tiket masuknya mahal? Telah kita ketahui bikin gigs itu selain ribet juga membutuhkan budget yg tidak sedikit. Budget itu digunakan untuk memberikan fee kepada band luar kota yg diundang, sewa tempat, ijin polisi, sewa alat, sewa sound, dll. Katakanlah ada gigs yang tiketnya 10ribu. Kita merasa keberatan untuk mengeluarkan uang dengan nominal itu. Tapi disisi lain ada band teman kita yang main. Kalau bukan kita yang support lalu siapa lagi yang akan mensupport mereka? Tak usah pikir panjanglah kalau mau mensupport teman sendiri. Kalau ingin disupport ya kita juga harus mensupport. Hubungan timbal balik itu selalu ada. Tak usah ragu mengeluarkan uang segitu untuk masuk ke dalam suatu gigs, kita juga akan menikmati gigs tersebut kan akhirnya.
          Ada juga gigs dengan harga tiket masuk yg lebih mahal lagi. Kalau kita gak suka acaranya, ya gak perlu memaksakan masuk. Datang saja dan berada diluar tempat acara biar bisa ketemu teman-teman yang lain. Tak perlu membicarakan harga tiketnya yang mahal. Ngapain juga kita beli tiket kalau tidak ada kepuasan setelah berada didalam gigsnya? Yang ada cuma kecewa, "Wah, wis larang gek band e ra ono sing tak senengi, ngerti ngono duite tak nggo tuku sego tempe wae malah wareg".

Industri Seks Indonesia (Oleh : Ari "Ayik" Suryanto)

          Mendengar kata  prostitusi pasti bayangan kita langsung mengartikannya kegiatan pelacuran. Ya, memang begitu adanya, tapi kenapa masalah prostitusi ini begitu menjadi masalah klasik, menjadi hal yang umum dalam kehidupan sehari-hari kita? Kadang tercetus sebuah pertanyaan tentang cara penanggulangan, solusi atas masalah pelik ini serta bagaimana masalah ini tercipta atau sebut saja sejarah terbentuknya prostitusi itu sendiri.
Setelah melalui obrolan dengan beberapa teman yang sekali lagi hanya sekedar obrolan ringan di wedangan, salah seorang teman saya beranggapan/berargumen bahwa masalah prostitusi itu adalah budaya atau hal yang diwariskan oleh leluhur. Mengapa begitu? Teman saya menerangkan, hal ini (masalah prostitusi) sudah berjalan dari jaman kerajaan (feodal). Hal itu membuat saya semakin penasaran, dan atas rasa penasaran tersebut saya memutuskan untuk mecari-cari artikel yang menjelaskan pendapat teman saya tadi. Hingga saya menemukan dala suatu blog yang menuturkan bahwa memang prostitusi telah mengakar dan menjadi budaya dalam masyarakat kita.
          Masalah prostitusi di Indonesia sejarahnya dimulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa, di mana perdagangan perempuan pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal. Dan raja pada saat itu mempunyai kekuasaan penuh. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tertentu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. Status perempuan pada masa itu adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir. Di Bali misalnya, seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga, secara otomatis menjadi milik raja. Jika raja memutuskan tidak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana, maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur.
          Dan bentuk-bentuk industri seks yang lebih terorganisasi berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda. Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Umumnya, aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di nusantara. Pemuasan seks untuk para serdadu, pedagang, dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara. Dari semula, isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. Dari satu sisi, banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia, telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia, terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Pada sisi lain, baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu. Perkawinan antar ras umumnya ditentang atau dilarang, dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Dalam hal ini, hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka.
          Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia, karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum, tidak diterima secara baik dalam masyarakat, dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. Maka sekitar tahun 1600-an, pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan “baik-baik”. Pada tahun 1650, “panti perbaikan perempuan” (house of correction for women) didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang-orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Seratus enam belas tahun kemudian, peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan “tanpa izin” menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toleransi komersialisasi seks pada saat itu. Tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengan serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Meskipun istilah-istilah yang digunakan berbeda, tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai “wanita publik” menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852. Dalam peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi waktu itu. Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphilis atau penyakit kelamin lainnya. Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin, perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrouwen) yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks, para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil. Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks, termasuk juga membingungkan pemerintah. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. Meskipun perbedaan antara pengakuan dan persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah, tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri.
          Dua dekade kemudian tanggung jawab pengawasan rumah bordil dialihkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Peraturan pemerintah tahun 1852 secara efektif dicabut digantikan dengan peraturan penguasa daerah setempat. Berkaitan dengan aktivitas industri seks ini, penyakit kelamin merupakan persoalan serius yang paling mengkhawatirkan pemerintah daerah. Tetapi terbatasnya tenaga medis dan terbatasnya alternatif cara pencegahan membuat upaya mengurangi penyebaran penyakit tersebut menjadi sia-sia.
Pengalihan tanggung jawab pengawasan rumah bordil ini menghendaki upaya tertentu agar setiap lingkungan permukiman membuat sendiri peraturan untuk mengendalikan aktivitas prostitusi setempat. Di Surabaya misalnya, pemerintah daerah menetapkan tiga daerah lokalisasi di tiga desa sebagai upaya untuk mengendalikan aktivitas pelacuran dan penyebaran penyakit kelamin. Selain itu, para pelacur dilarang beroperasi di luar lokalisasi tersebut. Semua pelacur di lokalisasi ini terdaftar dan diharuskan mengikuti pemeriksaan kesehatan secara berkala .Tahun 1875, pemerintah Batavia (kini Jakarta), mengeluarkan peraturan berkenaan dengan pemeriksaan kesehatan. Peraturan tersebut menyebutkan, antara lain bahwa para petugas kesehatan bertanggung jawab untuk memeriksa kesehatan para wanita publik. Para petugas kesehatan ini pada peringkat kerja ketiga (tidak setara dengan eselon III zaman sekarang yaitu kepala biro pada organisasi pemerintahan) mempunyai kewajiban untuk mengunjungi dan memeriksa wanita publik pada setiap hari Sabtu pagi. Sedangkan para petugas pada peringkat lebih tinggi (peringkat II) bertanggung jawab untuk mengatur wadah yang diperuntukkan bagi wanita umumnya yang sakit dan perawatan lebih lanjut. Berdasarkan laporan pada umumnya meskipun telah dikeluarkan banyak peraturan, aktivitas pelacuran tetap saja meningkat secara drastis pada abad ke-19, terutama setelah diadakannya pembenahan hukum agraria tahun 1870, di mana pada saat itu perekonomian negara jajahan terbuka bagi para penanam modal swasta. Perluasan areal perkebunan terutama di Jawa Barat, pertumbuhan industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pendirian perkebunan-perkebunan di Sumatera dan pembangunan jalan raya serta jalur kereta api telah merangsang terjadinya migrasi tenaga kerja laki-laki secara besar-besaran. Sebagian besar dari pekerja tersebut adalah bujangan yang akan menciptakan permintaan terhada aktivitas prostitusi. Selama pembangunan kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa seperti Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Cilacap, Yogyarakta, dan Surabaya tahun 1884, tak hanya aktivitas pelacuran yang timbul untuk melayani para pekerja bangunan di setiap kota yang dilalui kereta api, tapi juga pembangunan tempat-tempat penginapan dan fasilitas lainnya meningkat bersamaan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan konstruksi jalan kereta api. Oleh sebab itu dapat dimengerti mengapa banyak kompleks pelacuran tumbuh di sekitar stasiun kereta api hampir di setiap kota. Contohnya di Bandung, kompleks pelacuran berkembang di beberapa lokasi di sekitar stasiun kereta api termasuk Kebonjeruk, Kebontangkil, Sukamanah, dan Saritem. Di Yogyakarta , kompleks pelacuran didirikan di daerah Pasar Kembang, Balongan, dan Sosrowijayan. Di Surabaya, kawasan pelacuran pertama adalah di dekat Stasiun Semut dan di dekat pelabuhan di daerah Kremil, Tandes, dan Bangunsari. Sebagian besar dari kompleks pelacuran ini masih beroperasi sampai sekarang, meskipun peranan kereta api sebagai angkutan umum telah menurun dan keberadaan tempat-tempat penginapan atau hotel-hotel di sekitar stasiun kereta api juga telah berubah.
          Nah, dari artikel di atas kita sudah tahu akar dan sejarah bagaimana masalah prostitusi tersebut. Lantas bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi masalah prostitusiitu sendiri? Apakah dengan melegalkan industri prostistusi? Dari artikel di atas juga sebenarnya cara melegalkan industri prostitusi dengan membangunkan sebuah lokalisai, memberlakukan cek kesehatan kepada  WTS (Wanita Tuna Susila)/wanita publik/pelacur (istilah kasarnya), melakukan pendataan, pengawasan hingga membuat peraturan-peraturan yang melarang atau tidaknya membatasi industri prostitusi itu semua sudah dilakukan. Namun, toh masalah prostistusi masih berjalan.
          Ini adalah masalah mental, kesadaran, dan budaya. Masalah mental, pemerintah kita patut bertanggung jawab untuk membangun mental masyarakat dengan cara memberikan pendidikan yang layak kepada masyarakatnya agar wawasan, pengetahuan serta keterampilan yang bisa dijadikan pegangan untuk hidup. Lihat saja dunia pendidikan kita sekarang, masih banyak sekolah-sekolah yang tidak layak dijadikan tempat berlangsung belajar-mengajar. Masih banyak sekolah-sekolah yang rubuh, masih banyak juga tenaga didik yang tidak tersebar merata, belum lagi bantuan-bantuan seperti beasiswa atau BOS (Bantuan Operasi Sekolah) yang tidak tepat tujuan atau malah tidak sampai tujuan. Belum lagi ketersediaan lapangan kerja yang sangat-sangatlah berbanding terbalik dengan jumlah populasi penduduk di negeri ini. Sementara masyarakat kita belum sadar akan berwirausaha, meskipun sadar, mereka sudah pasti terbentur pada masalah modal, dll. Sangat tidaklah patut jika masalah sekompleks ini kita hanya menyalahkan pemeritah sepenuhnya. Masyarakat kita, saya, kamu, anda, dan semuanya harus sadar bahwa pelacur bukanlah predikat kerja. Dan yang terlebih penting sekarang adalah kesadaran kita akan bahaya industri prostitusi itu sendiri. Balik lagi, kesadaran dan bagaimana membentuk mental serta karakter tersebut bisa berjalan bila masyarakat kita terbekali dengan pengetahuan, wawasan, dan keterampilan yang bisa kita dapat dari pendidikan yang layak dan sehat. Lalu saya menemukan lagi artikel mengenai solusi masalah prostistusi  yang masih berkaitan dengan pendidikan. Dalam metrotv.com tepatnya di rubrik Lifestyle + / Rabu, 21 April 2010 13:39 WIB. Dalam artikel “Meredam Bibit Prostitusi” saya tertarik dengan sebuah pendapat dari Rahayu Dewi Mende, dosen Universitas Negeri Surabaya yang juga seorang aktifis yang memerangi prostitusi. Wanita yang akrab dipanggil Dewi, menerangkan, “Supaya mereka sadar sesadarsadarnya, tidak hanya sadar bersekolah, tetapi juga sadar untuk kelanjutan pendidikan. Kalau sudah punya pendidikan, mereka bisa berpikir bahwa menjadi PSK bukan suatu pekerjaan."
          Demikian sejarah sekilas bagaimana "industri" pelacuran berkembang di negara kita, tidak lepas dari peran "penjajah" negara kita dulu. Sekarang mungkin "praktek" dan jenis pelacuran semakin canggih sesuai perkembangan jaman. Tidak hanya pelacur perempuan, pelacur lelaki juga semakin marak. Yang menakutkan selain meningkatnya resiko penyebaran penyakit kelamin dan AIDS, adalah pelacuran yang dilakukan oleh anak-anak dibawah umur. Inilah yang harus segera diantisipasi oleh pemerintah.


*Dari berbagai sumber.

Smartphone for Smart People? (Oleh : Ari "Ayik" Suryanto)

          Mungkin memang sudah terlambat untuk menyampaikan hal ini, tapi memang sangat perlu hal ini untuk kita paparkan lagi. Mari kita urai masalah ini dari awal, seiring dengan pesatnya perkembangan/kemajuan teknologi yang mau tak mau ikut juga menyeret pada kemajuan aspek lainnya yang masih mempunyai benang yang saling berhubungan. Salah satunya adalah aspek tekhnologi komunikasi yang ditandai dengan semakin mudahnya menggunakan akses internet. Saking mudahnya,kita bisa mengakses internet via handphone.
          Nah, mari kita langsung ke fenomena smartphone. "Smartphone for Smart People". Benarkah? Yakin? Ciyus? Miapah? :p Quote yang benar hanya untuk segelintir orang saja menurut saya. Sekarang banyak orang memiliki berbagai merk, series, jenis, jembut dari smartphone tersebut tanpa memperhatikan segi fungsi, porsi, dan kemampuan. Mereka lebih mengedepankan gengsi. Gadget up to date sama dengan gaul, terus pamer kanan kiri. :D
          Hampir setiap orang kini sudah memegang smartphone. Gadget tersebut memang smart, bekerja layaknya komputer, memberi kemudahan bagi kita dari segi teknologi, khusunya komunikasi. Dari segi fungsi, pastinya bermanfaat bagi kita untuk mengakses apa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tentu dengan porsi yang sesuai. Apakah kalian mau menjadi orang yang gagap berkomunikasi secara langsung akibat pemberian porsi berlebih dalam penggunaan smartphone? Seringkali kita jumpai, ketika nongkrong bareng pasti ada dari pengguna smartphone yang justru sibuk dengan gadget pujaannya tersebut. Dewasa ini banyak generasi muda kita yang menjadikan produk-produk canggih tersebut sebagai kebutuhan eksistensi diri, kebutuhan palsu (false need), dan bukan karena kebutuhan sejati. Kebutuhan palsu diciptakan melalui rayuan iklan yang berbarengan dengan  rayuan gaya hidup, gaya bicara, gaya bertingkahlaku, obsesi, dan kebiasaan lainya. Jadi, point yang saya tekankan dan perlu kalian garis bawahi disini  adalah mereka (generai muda sekarang ini) membeli atau mengkonsumsi barang-barang atau gadget-gadget canggih tersebut bukan untuk memenuhi kebutuhan sejati mereka, tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan palsu mereka saja dan hanya untuk menunjukan bahwa mereka itu gaul, up to date, modis, keren, dll. Contoh nyatanya, sesorang yang sudah punya Blekberi ingin membeli AyPhone. It’s okay jika kalian mampu, namun akan miris jadinya jika user pecandu gadget tersebut adalah orang yang masih berada dalam tanggungan orang tua. Mereka belum mampu mencukupi kebutuhan hidup sendiri tetapi sudah merengek dan memaksa orang tua mereka untuk membelikan berhala-berhala canggih tersebut. Apakah kalian termasuk di dalamnya? Jadi, apakah benar istilah "Smartphone for Smart People" itu? Silakan nilai sendiri.

Apa Kau Sudah Bangun? (Oleh : Cix Moreno)

          Terkadang saya melihat di sekitar, hidup seakan-akan adalah suatu hal yang mudah di tebak, dan seakan-akan pula banyak orang yang bisa membuat dunianya sendiri. Ada yang bilang ini modernisasi, ini era globalisasi, ini jaman modern, segala sesuatu bisa di akses, bisa dibeli, bisa didapatkan! Benarkah? Hhmm??!!! Kita memang bisa membuat dunia kita sendiri “sekedar kiasan” seperti ketika kita asik dengan telepon genggam/ipad kita, dan kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia manapun dan dimanapun kita berada dengan mudah, hanya dengan cara mengakses berita melalui media online. Memang itu terkesan suatu hal yang mengasyikan, dan suatu cara yang menunjukan bahwasanya manusia semakin pintar, “tentu bagus bukan?” Saya rasa itu wajar, karena biar bagaimanapun kita tidak bisa menolak kemudahan-kemudahan itu “bagi sebagian orang”. Tetapi terkadang saya heran, tipis sekali batasan antara maya dan nyata. Bukankah pada dasarnya itu adalah 2 hal yang sangat jauh berbeda, bahkan bisa dibilang mereka berantonim?! Bagai hitam dan putih naturalnya, tapi menjadi hal yang dipaksa kontaminasi oleh jaman dan menjadi abu-abu. Banyak pangkal problematika yang bermula dari media online. Dari hal yang paling konyol semisal adu argumen di status facebook/YM/BBM/twitter, atau saling meng-intrik lewat blogspot pribadi yang bisa di akses siapa saja. Ada yang bilang mencemarkan nama baik, ada yang bilang ini masalah harga diri! Ahh!! Watefak! Bagi saya situs jejaring sosial seperti di atas sekarang sudah sedikit alih fungsi. Siapa yang salah? Medianya? Penggunanya? Retoris jika saya harus bertanya, anda pasti tahu jawabanya. Itu dari segi permasalahan kecil, ada juga yang menjadikan jejaring sosial seperti itu sebagai ajang cari jodoh “wajar sih sebenarnya, karena itu menjadi bagian dari hidup” bahkan parahnya ada yang bisa membeli ideologi dari situ dan maraknya kasus pembajakan karya. Memang saya tidak begitu paham untuk apa jejaring sosial seperti itu dibuat, untuk benefit si owner-owner terkaitkah, atau untuk mempermudah komunikasi, atau untuk apa saya tidak tau, yang pasti alasan itu saya rasa bersimbiosis. Ada kritikus yang berpendapat bahwa media seperti itu malah memisahkan manusia dengan manusia lainya. Tidak begitu juga sih kalau menurut saya, kembali lagi bagaimana kita memberi porsi dalam setiap aktivitas hidup kita masing-masing. Jika semua bisa berjalan seimbang saya rasa itu tidak menjadi sebuah masalah besar. Tapi jika kita begitu menghamba dengan hal-hal seperti itu memang terkadang kita menjadi apatis (autis) terhadap dunia sekitar kita. Hidup yang kita jalani sebenarnya adalah kehidupan yang nyata, dan jangan mengabaikan itu! Bagi orang jaman dulu mungkin kemudahan seperti ini adalah mimpi, dan sekarang mimpi itu menjadi nyata, tapi kita malah asyik bermain di dalam mimpi kita, dan kita terkadang melupakan kehidupan kita yang sebenarnya. Jangan begitu larut dalam mimpi-mimpi seperti itu, karena sejatinya kita sudah diberi kemudahan yang lebih bisa membuat kita mengerti arti kehidupan itu sendiri. Coba buka mata kita, dunia ini luas tidak hanya seluas layar HP yang sedang anda genggam, dan semua hal yang ada di dunia ini adalah bagian dari sebuah proses.
          Saya bukan orang yang anti media atau anti apapun, hanya sekedar mencoba merespon apa yang terjadi di sekitar saya, dan ini sangat saya rasakan, apakah kau juga merasakan? Mungkin sudah, mungkin juga belum. Kenapa kau bingung? Apa kau masih larut dalam mimpi itu? Dan sekarang, apakah kau sudah bangun?

Playlist :
Efek Rumah Kaca - Kenakalan Remaja di Era Informatika
Efek Rumah Kaca - Laki-Laki Pemalu
Efek Rumah Kaca - Lagu Kesepian
Sore - Aku
Sore - Cermin
Sore - Keangkuhanku
Monopolice - Arti Kehidupan
Pure Saturday - Langit Terbuka Luas, Mengapa Tidak Pikiranku, Pikiranmu?
Melancholic Bitch - Mars Penyembah Berhala
Melancholic Bitch - Nasihat yang Baik

Interview with Mooca Caboel

"..We've been blessed with the power to survive, after all these years we're still alive.."


Ceritakan dulu tentang Mooca Caboel, dari awal berdiri hingga sekarang!
          Kisaran 2005, kami : Alby (Encik) - Gitar, Iman (Kece) Bass/Vocal, Nanda (Gundul) - Gitar, Wiwin - Drum. Bicara soal masalah genre musik ya tentu saja kami dari awal hingga sekarang masih memainkan genre musik punk rock. Karena memang kita lahir dari scene punk, hehehe. Dulu scene kami bernama Berondongan Punk yang sekarang menjadi Maladaptif Terror Crew. Dan selama kurun waktu lebih dari 7 tahun, banyak sekali sebenarnya hal-hal yang bisa saya muat dalam zine ini, tapi saya rasa ada yang lebih penting, hehehe. Dan rasanya bicara masalah histori, kami tidak jauh berbeda dengan band-band minor label yang lain, mulai dari show kecil acara kampung (bazar) hingga gigs underground yang menjadi wadah kreatifitas kita semua.

Line up (personil) dari awal hingga sekarang?
          Awal mula band kami digawangi oleh 4 orang dari scene yang sama, seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Dan untuk pergantian personil di mulai di awal tahun 2006, yaitu di posisi drumer awal Wiwin, dengan alasan yang tidak harus saya jelaskan di media ini, digantikan oleh Budi, Budi awalnya adalah drumer dari and melodic punk dari kota Solo juga "Kambing Hitam". Kemudian di kisaran tahun 2008, Iman atau Kece pada posisi bassis keluar dengan alasan yang tidak perlu saya sebutkan juga, dan di gantikan oleh Yusuf, vokalis "The Partner". Bertahan hingga beberapa tahun dengan formasi ini kita pikir ini adalah line up terakhir kami, tapi di akhir tahun 2011 Yusuf keluar dan posisi bassis digantikan oleh Tommy yang sampai sekarang masih aktif dengan band d-beat punk-nya "Street Army". Sedikit menambah armada kami di pertengahan 2012 ini kami memasukkan Iwan Prakoso, ex-"Something Suck" sebagai gitaris kami. Hingga sekarang line up kami adalah Alby (Encik) Vocal - Nanda (Gundul) - Gitar, Iwan - Gitar, Tommy (Tombol) - Bass, dan Budi (Capres) - Drum. Dan kami berharap ini yang terakhir.

Influence?
          Berbicara masalah influence, sebenarnya boleh dibilang kami sangat abstrak dalam memilih influence "secara musik", kami coba untuk merespon kejadian di sekitar kami,dan kami sadur ke dalam bait-bait lagu kami. Tapi untuk beberapa band yang sedikit banyak berpengaruh dalam musikalitas kami antara lain Social Distortion, Misfits, Rancid, Bad Religion, Ramones, Black Flag, Dead Kennedys, Crass, G.I.S.M, Anti-Nowhere League, Johnny Thunders & The Heartbreakers, Against Me!, Dropkick Murphys, New York Dolls, Iwan Fals, dan masih banyak sebenernya. Bisa dibilang kita semua cinta musik gitu lah, hehehe.

Diskografi?
EP Against! (2009)
V/A The Gank Is Back (2009)
Split Album with Gerbang Singa (2010)
V/A Don't Let Them Take Over (2011)
4 Way Split Maladaptif Terror Crew (2011)

Dalam waktu dekat ini Mooca Caboel akan merilis full album bukan? Ceritakan tentang album tersebut!
          Yah, benar. Sedikit review tentang album kami yang akan rilis tahun ini oleh Trapin Records, ada 12 track yang akan kami record, tepatnya di Biru Studio. Sedikit beda mungkin dengan beberapa band punk rock sejenis kami, musik kami yang akan kami kemas dalam album ini tidak bertendensi pada apapun, yang pasti lagu-lagu kami menyorot tentang apa yang ada di sekitar kami. Alam, politik, pertemanan, cinta, perdamaian, dan yang pasti tentang kebersamaan dalam koridor sebuah komunitas. Dan di album ini kami mencoba berkolaborasi dengan beberapa musisi lokal dari kota Solo sendiri. Diantaranya, Meisinta ,dia adalah seorang penyanyi classic rock yang kami paksa menyumbangkan suara merdunya dalam satu lagu yang berjudul Aku, Tuhan, dan Semesta. Kemudian ada Tedjowulan, notabenenya dia bukanlah seorang penyanyi sih, tapi gak ada salahnya ketika saya harus melibatkan dia di dalam salah satu lagu kita yang berjudul Kita Selalu Bersama, karena kita memang bukan sedang mencari/mengaudisi penyanyi sih. Dan berikutnya di dalam lagu yang berjudul Konsolidasi Harga Mati kami berkolaborasi dengan Catur, vokalis The Obstinate, sebuah band crust punk, dengan alasan kita ingin menambah sentuhan crust dalam lagu ini. Berikutnya dalam lagu Muda Penuh Ambisi kita berkolaborasi dengan Wahyu Mbelek "Sampah Pribadi", kebetulan dia adalah pencipta lagu ini. Dan masih banyak yang akan kita sajikan dalam album kita ini, tunggu saja albumnya, dan respon balik ya? 

Akan ada berapa lagu? Sedikit minta bocoran, ceritakan juga tentang satu atau beberapa lagu baru yang akan keluar dalam full album kalian!
          Pertanyaan nomer lima saya rasa sudah mewakili jawaban saya untuk pertanyaan yang ini, hehehe.

Lalu, tentang scene/komunitas/kolektif tempat kalian lahir dan tumbuh, Maladaptif Terror Crew. Apa makna dari nama Maladaptif Terror Crew itu sendiri?
          Nama ini sebenarnya bisa kalian buka atau bertanya pada kawan-kawan yang kebetulan mendalami dunia psychology. Bukan arti sebenarnya yang kami gunakan disini, ada beberapa hal yang hampir mirip dengan pribadi kawan-kawan saat itu seperti sensitif terhadap kritik, individu tidak bias merespon secara positif terhadap koreksi, juga tidak dapat mengkritisi diri sendiri, individu hanya mau berkompetisi dengan kawan yang jelas dapat dikalahkan. Ya, itu sebenarnya hanya sekedar sarkasme untuk orang-orang yang "mungkin" mengalami pribadi seperti itu, dan kami mencoba meng-counter situasi tersebut, dalam scene kami.

Maladaptif Terror Crew (MTC) adalah sebuah scene/komunitas/kolektif yang cukup aktif di kota Solo, aktivitasnya pun beragam. Tentu ada tujuannya bukan? Apa saja? Sebutkan!
          Sebenarnya jika berbicara masalah movement, kami tidak jauh berbeda dengan scene-scene yang lain. Seperti masih aktif dalam gigs "do it yourself", seperti apa gigs do it yourself (DIY)? Saya rasa tidak perlu ber-eksplanasi panjang lebar di sini. Kegiatan lain seperti Food Not Bombs (FNB) yang masih rutin kami lakukan setiap 1 bulan sekali. Tujuan? Tujuan dari aksi itu bukan semata-mata karena kami ingin berbagi atas nama "PUNK", lebih dari itu kami melakukan itu atas dasar kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama. Aksi yang lain yang pernah kami lakukan antara lain, aksi penghormatan pejalan kaki, dengan turun ke jalan dan memberikan himbauan terhadap para pengendara motor untuk lebih taat terhadap pejalan kaki. Berikutnya aksi reboisasi atau yang kami sebut dengan "green vacation", aksi penanaman pohon di daerah yang bisa di bilang sangat membutuhkan reboisasi itu sendiri. Dari mana dana kita untuk melakukan aksi itu? Tidak ada sama sekali campur tangan sponsor/media dalam setiap aksi kami, semua murni kita kumpulkan dari dana kolektif kita bersama baik dari kawan-kawan MTC atau semua volunteer yang terlibat dalam aksi-aksi kami.

Pendapat tentang pandangan negatif terhadap punk?
          Haha, itu masalah kolosal! Saya rasa stigma yang dibikin orang terhadap punk itu, sudah ada ketika kita mengenal adat istiadat di kota yang saya tempati saat ini, mungkin juga di kota lain. Punk negatif, mabuk-mabukan, radikal, gembel, atau apalah judgement orang terhadap punk, saya sedikit apatis masalah itu. Kita tidak bisa mendikte orang untuk merubah citra dan stigma orang terhadap punk itu sendiri. Sekarang jika kita selalu berfikir bahwasanya semua hal yang luarnya negatif pasti dalamnya negatif, itu konyol! Menjadi pelajaran untuk kedua pelaku dalam kasus ini, masyarakat dan punkers. Orang semakin pintar untuk menilai suatu hal, jadi jika memang kita ingin membuktikan bahwasanya stigma itu salah, tunjukan dari individu kita sendiri dulu. Banyak esensi positif yang bisa kita dapatkan dari empat huruf pembangkangan itu sendiri, "P.U.N.K" Jadi, apapun judgement orang terhadap kita, tanggapi dengan positif, karena kekerasan bukan solusi untuk memecahkan sebuah masalah! berfikirlah pintar!

Pesan-pesan untuk pembaca? Oh iya, tambahkan pula kalau ada yang perlu ditambahkan, terutama informasi tentang album baru kalian!
          Untuk para pembaca, saya rasa jangan hanya sekedar mengkoleksi zine atau apapun untuk perbendaharaan pola pikir kalian. Karena parahnya itu akan bisa jadi doktrin yang salah jika kalian tidak bisa memahami esensi dari setiap bait yang kalian baca. Making zine threat again! Share ke temen-temen kalian, make friend not war! Untuk album baru kita saya rasa review di atas sudah cukup untuk mewakili seperti apa album kita yang akan rilis tahun ini. Matur suwun, making punk threat again, don't make the punk for violence! Oi!