Wednesday, December 5, 2012

Interview with Rude Rich & The High Notes (Bahasa Indonesia)

          Dibentuk pada tahun 1998, Rude Rich & The High Notes digawangi muka-muka lama yang sudah aktif di scene sejak akhir dekade 70an. Band asal Amsterdam, Belanda pengusung Authentic Jamaican Music (Ska, Rocksteady, Reggae, Dub) ini sudah melanglang buana ke penjuru Eropa. Bermain di berbagai macam gigs dan festival, serta menjadi backing-band musisi Jamaika pendahulu seperti Alton Ellis, Derrick Morgan, Rico Rodriguez, Dennis Alcapone, Winston Francis, The Heptones, Ernest Ranglin, Ken Boothe, dan sebagainya. Kecintaan dan dedikasi mereka terhadap musik ini membuat mereka dihargai dan dihormati sebagai duta musik Jamaika. Berikut adalah tanya jawab yang saya lakukan bersama mereka.

Hai Rude Rich & The High Notes, salam hangat dari Indonesia. Apa yang saat ini sedang kalian kerjakan?
          Salam, saya yang menjawab pertanyaan ini adalah Ras P, pemain keyboard dan co-founder dari The High Notes. Saai ini kami sedang menjalani beberapa show di Belanda dan Jerman. Kami juga sedang membangun sebuah studio rekaman baru di Amsterdam. Serta mempersiapkan diri untuk gig-gig di awal tahun dan festival di musim panas.

Band kalian sudah berjalan kira-kira 15 tahun. Bagaimana cara mempertahankan suapaya band kalian tetap jalan?
          Ya, sudah cukup lama. Masih ada tiga personil inti yang juga merupakan personil asli, yang jelas kami sudah mengalami pergantian personil selama bertahun-tahun. Sebagian besar musisi yang terlibat bersama kami telah memainkan musik ini selama lebih dari 20 tahun dan sudah mengenal segala seluk-beluk tentang musik ini. Tetapi yang benar-benar membuat kami tetap jalan adalah kecintaan kami akan musik yang indah ini, dan juga reaksi positif dari audience di seluruh dunia.

Bagaimana rasanya menjadi backing-band dari sekian banyak musisi Jamaika pendahulu?
          Ini adalah salah satu hal terindah yang bisa terwujud bagi sebuah band (tidak peduli musik apa yang kamu mainkan) untuk tampil dan berkolaborasi dengan musisi idolanya di panggung. Bagi kami, karena musisi-musisi Jamaika tersebut berasal dari tempat lahirnya musik yang kami mainkan, mereka memiliki banyak hal yang bisa diajarkan dan dibagikan. Ini adalah sebuah kehormatan bagi kami, dan kami selalu menjaga kualitas kami sebaik-baiknya untuk dapat memainkan musik yang berasal dari Jamaika ini se-otentik mungkin. Sehingga mereka menghargai dan selalu memberi kami pujian seperti ini, "Musik kalian terdengar seperti era Studio One atau Treasure Isle."

Ceritakan tentang rilisan terbaru kalian!
          Rilisan terbaru kami adalah sebuah album tribute yang berisi kumpulan lagu-lagu dari musisi-musisi yang telah pergi mendahului kita. Kami memilih beberapa lagu yang paling kami sukai, lalu merekamnya. Album ini seperti yang telah dikatakan, adalah sebuah penghargaan kepada musisi-musisi yang warisan musiknya akan selalu menginspirasi orang di seluruh dunia.

Apa kegiatan para personil di luar band?
          Hampir semua dari kami memiliki pekerjaan tetap di luar band, untuk membayar sewa dan tagihan bulanan serta makan dan minum sehari-hari. Pada masa sekarang ini, tidak memungkinkan bagi kami untuk hidup dengan mengandalkan pendapatan dari bermusik saja. Dan di sini, di Belanda, semakin sulit dari tahun ke tahun dengan adanya hukum dan peraturan pajak yang setiap waktu diubah-ubah oleh pemerintah. Hal ini juga berpengaruh bagi band dan musisi-musisi baru serta venue-venue skala kecil, mereka sedang dalam masa sulit sekarang ini.

Kalian memainkan musik asli Jamaika seperti Ska, Rocksteady, Reggae, dan Dub. Apa pendapat kalian tentang modifikasi dari musik-musik tersebut seperti Ska-Punk/Core dan sebagainya?
          Seperti yang kamu katakan, kami memainkan musik asli Jamaika, dengan kata lain, memainkan musik seperti yang dimainkan pada masa lalu di tempat musik tersebut berasal. Kami mempertahankan keasliannya. Tetapi musik tetaplah musik, jika memang musisi merasa harus mencampuradukkan/memodifikasi musik-musik tersebut, boleh-boleh saja. Namun bagi saya pribadi, saya lebih memilih untuk membiarkan musik tersebut sebagaimana adanya, sesuai dengan akarnya.

Bagaimana dengan scene Ska/musik Jamaika di Belanda? Kapan dimulainya? Dan bagaimana keadaan scene di sana sekarang?
          Semuanya dimulai pada akhir 1970an, itulah waktu ketika band Reggae pertama kali muncul di sini. Saya sendiri mulai terlibat pada tahun 1979 bersama band Reggae yang bernama Inity. Pada tahun 80an musik ini benar-benar booming, banyak band bermunculan, dan venue yang selalu penuh merupakan hal yang biasa terjadi. Ska dan Rocksteady belum benar-benar dimainkan pada waktu itu. Keduanya adalah akar sebenarnya dan musik pendahulu yang dipandang rendah. Ketertarikan pada Ska dan Rocksteady muncul melalui adanya scene Two Tone di Inggris, yang membuat orang mempelajari lebih dalam tentang sejarah musik Reggae, tetapi belum ada band yang benar-benar bisa memainkan Ska dan Rocksteady. Sampai akhirnya, Ska dan Rocksteady mulai dimainkan di sini pada tahun 90an ketika Rude Rich & The High Notes terbentuk dan terlibat di scene. Apa yang saya lihat sekarang ini adalah perubahan dari audience yang sangat berbeda dari biasanya, banyak orang dari berbagai kalangan yang memberikan apresiasi mereka terhadap musik Jamaika sekarang ini, dan itu merupakan hal yang bagus.

Apa yang kamu tahu tentang scene Ska/musik Jamaika di Indonesia?
          Sejujurnya, kami tak tahu apa-apa tentang scene Ska/musik Jamaika di Indonesia. Kami baru mempelajarinya semenjak kamu meng-interview kami. Tetapi lagi-lagi saya tidak kaget. Musik yang berasal dari pulau kecil di Karibia yang bernama Jamaika, di sebuah ibukota kecil yang bernama Kingston, di bagian kecil dari ibukota yang bernama Trenchtown (Ghetto di wilayah barat Kingston), kini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Musik ini sekarang sudah dimainkan dimana-mana, hebat!

Ngomong-ngomong, bagaimana dengan penggunaan dan jual beli marijuana di Belanda?
          Di sini, penjualan dan pemakaian ganja tidak sepenuhnya legal. Dinyatakan ilegal jika barang tersebut dibawa masuk dan dipakai di coffeshop, tetapi bagi pihak coffeeshop diperbolehkan/legal untuk menjualnya, dalam jumlah yang terbatas. Coffeeshop tersebut juga diwajibkan membayar pajak atas ganja yang mereka jual. Pemerintah Belanda kini telah memperkenalkan Weedpass bagi warga Belanda di wilayah-wilayah tertentu. Mereka memberlakukan ini untuk mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke Belanda, terutama Amsterdam. Warga Amsterdam tidak senang dengan peraturan pemerintah tersebut, karena wisatawan yang datang untuk merasakan pengalaman menghisap ganja secara bebas di coffeeshop tanpa takut ditangkap tersebut memberikan pendapatan dalam jumlah besar.

Kata-kata penutup bagi para pembaca?
          Ya, bagi kalian semua pecinta musik, keep on listening to the real authentic music, keep in touch dengan kami Rude Rich & The High Notes, dan nikmati hidupmu sepenuhnya. Nuff respect and love to all.

Ras P, Rude Rich and the High Notes

PS : Kami sangat ingin mengunjungimu dan bermain di beberapa show di Indonesia. Mungkin kamu bisa membantu kami?


          Nah, itu tadi interview dengan Rude Rich & The High Notes yang dijawab oleh Ras P, keyboardist dan co-founder dari band tersebut. Banyak informasi tentang band, scene, ganja, dan sebagainya. Mereka juga mengutarakan keinginan untuk mengunjungi Indonesia. Mungkin bagi kalian yang ingin mengorganisir show bagi Rude Rich & The High Notes, dalam artian mengundang atau menampung jika barangkali mereka mengadakan tour, bisa mengontak langsung via facebook : Rude Rich and the High Notes. Dan kunjungi website mereka di : www.ruderich.nl

Interview with Rude Rich & The High Notes (Netherlands)

          Dibentuk pada tahun 1998, Rude Rich & The High Notes digawangi muka-muka lama yang sudah aktif di scene sejak akhir dekade 70an. Band asal Amsterdam, Belanda pengusung Authentic Jamaican Music (Ska, Rocksteady, Reggae, Dub) ini sudah melanglang buana ke penjuru Eropa. Bermain di berbagai macam gigs dan festival, serta menjadi backing-band musisi Jamaika pendahulu seperti Alton Ellis, Derrick Morgan, Rico Rodriguez, Dennis Alcapone, Winston Francis, The Heptones, Ernest Ranglin, Ken Boothe, dan sebagainya. Kecintaan dan dedikasi mereka terhadap musik ini membuat mereka dihargai dan dihormati sebagai duta musik Jamaika. Berikut adalah tanya jawab yang saya lakukan bersama mereka.

Hi Rude Rich and The High Notes, greeting from Indonesia! What are you currently doing in the band?
          Greetings, I, personally, am the keyboard player and co-founder of the High Notes.Currently we are doing some shows in the Netherlands and Germany and building a new recording studio in Amsterdam and preparing for next year's gigs and fetivals for the summer season.

It's about 15 years on, how to keep your band alive?
          Yes it has been a while. There is still a core of three original members so obviously we had some personel changes over the years. Most of the musicians that we worked with have been playing this music for more than 20 years and know every aspect of it. But what really keeps us going is the love of this wonderfull music and the possitive reactions of our audiences all over the world.

How it feels to be a backing band for many Jamaican artists?
          This is one of the greatest things that can happen to a band (whatever kind of music you play) to actually perform with your musical hero's on stage. Because these people stood at the cradle of reggae music they have so much to teach and share. It is a great honour for us and we allways put the standard real high to play their music as authentic as is possible. This they do appreciate very much and allways give us compliments like; "You guys sound just like Studio One or Treasure Isle".

Tell me about your latest release!
          Our latest release is a compilation album of artists who are sadly no longer with us. We picked out certain tunes which we liked best and recorded them. The album is what it says it is, a tribute to these wonderful artists who's musical legacy will allways inspire people all over the globe.

What's the activities of each members outside the bands?
          Most of us have a regular job besides the band to pay the rent and the monthly bills and to eat and drink. At this stage it is not possible for us to live from musical incomes alone and here in Holland it's getting harder year by year with different laws and tax regulations made up by the government every time. This is also relevant for upcomming new artist and bands and small venues, they are having a hard time now.

You play authentic Jamaican music such as ska, rocksteady, reggae, and dub. What do you think about the modification of itself like ska-punk/core, etc?
          As you say, we play authentic, in other words, the real stuff as it was played at the time it was originated. We are purists so to speak. But music is music and if artists feel like they have to mix it all up, that's fine with me, but speaking for myself, I prevere to keep things as they are, stick with the roots of things.

How about the ska/Jamaican music scene in Netherlands? When it's started? And how's the scene today?
          It all started here in the late 1970ties that's the time when the first reggae bands emerged. I myself started in 1979 with a reggae band called "Inity". In the 80ties it was really booming, a lot of bands and sold out venues was the order of the day. Ska and Rocksteady wasn't done in those days, it was stricktly Roots and what came before that was looked down upon. Interest in Ska and Rocksteady came through the English Two Tone scene which made some people look further into the history of reggae music but there weren't any bands who could actually play the authentic Ska and Rocksteady. That all started to happen in the 90ties when Rude Rich and the High Notes hit the scene. What I see nowadays is that the make up of the audiences is very different from what it used to be, a lot of different people appreciate Jamaican music now, which is a very good thing.

What do you know about the ska/Jamaican music scene in Indonesia?
          To tell you the honest truth, we didn't know anything about that, we looked in to it because of your interview. But then again I am not surprised. This music that started in a small Island in the Carribean, called Jamaica, in a small capital city of Kingston, in a small part of that capital called Trenchtown (Ghetto of Western Kingston) has spread to the four corners of the globe. This music is now played everywhere, which is great!

By the way, how about the usage also buying-and-selling of marijuana in Netherlands?
          Here in the Netherlands it is kind of legal to sell and use herb. It's illegal though to bring it to the so called "Coffeeshops, but once in the shop it is legal to sell, up to a certain amount. These shops are also entittled to pay taxes over what they sell! The Dutch government has now introduced a "Weedpass" for Dutch people, in certain parts of Holland. They did this in order to reduce the amount of tourists that come to the Netherlands and particular Amsterdam just to smoke freely. The city of Amsterdam is not happy with this for it will cost them an enormous amount of income since the majority of tourists come to the city just to do that; experience a visit to a coffeeshop and smoke some herb without being afraid of getting arrested.

Any last words for our readers?
Yes, all you music lovers, keep on listening to the real authentic music, keep in touch with Rude Rich and the High Notes and enjoy live to the fullness. Nuff respect and love to all.

Ras P, Rude Rich and the High Notes

PS : We would really love to visit you and do some shows in your beatiful country! Mabey u can help us out?


          Nah, itu tadi interview dengan Rude Rich & The High Notes yang dijawab oleh Ras P, keyboardist dan co-founder dari band tersebut. Banyak informasi tentang band, scene, ganja, dan sebagainya. Mereka juga mengutarakan keinginan untuk mengunjungi Indonesia. Mungkin bagi kalian yang ingin mengorganisir show bagi Rude Rich & The High Notes, dalam artian mengundang atau menampung jika barangkali mereka mengadakan tour, bisa mengontak langsung via facebook : Ride Rich and the High Notes. Dan kunjungi website mereka di : www.ruderich.nl

Interview with Count Kutu & The Balmers (Bahasa Indonesia)


          Count Kutu & The Balmers adalah sebuah band yang berasal dari Manila, Filipina. Mengusung musik Mento/Calypso yang merupakan akar dari musik Ska, Rocksteady, Reggae, Dub, Dancehall, dan musik-musik kulit hitam lainnya. Terbentuk pada tahun 2002 oleh nama-nama seperti Count Kutu (Ryan), Senyor Lucca (Greg), Don Ustollano (Joy), Lord Santadio (Corlasito), dan Doctor Turbo (Ompong). Namun beberapa diantara mereka sudah menikah dan tidak aktif lagi di band. Sempat mengalami masa sulit setelah ditinggal beberapa personil asli mereka, akhirnya pada tahun 2010 Count Kutu dan Senyor Lucca mendirikan kembali Count Kutu & The Balmers bersama Cardinal Jones (Jong), Lord Francis (Francis), Bob Marlou (Marlou), dan Atty Justin. Masih mengusung musik Mento/Calypso dengan ciri khas vokal sengau dan menggunakan instrumen-instrumen seperti gitar akustik, tenor banjo, marakas, catacoo, sand block, bamboo drum, dan rumba box. Jalan mereka tidaklah mulus, album-album yang mereka hasilkan tidak begitu laku. Pembelinya kebanyakan adalah wisatawan dan pejalan kaki yang melintas di tempat Count Kutu & The Balmers biasa mengamen, seperti di kawasan pantai dan sudut-sudut kota. Akhirnya, kerja keras mereka membuahkan hasil. Pada tahun 2012, album terbaru mereka dirilis dalam format vinyl 10 inch oleh Jump Up Records, sebuah label rekaman asal Chicago, Amerika Serikat. Label yang berdiri tahun 1993 ini mengawali langkah dengan merilis kompilasi-kompilasi yang memperkenalkan band-band Amerika seperti Mustard Plug, Suicide Machines, dan sebagainya. Kini, Jump Up sudah menegeluarkan ratusan rilisan dari berbagai musisi Ska, Rocksteady, Reggae, dan Calypso dari seluruh dunia, antara lain Mr. Symarip, Mr. T-Bone, Moon Invaders, Firebug, Go Jimmy Go, See Spot, Babylove & The Van Dangos, Dr. Ring Ding, dan lain-lain, termasuk Count Kutu & The Balmers. Sehingga, penjualan album terbaru dari Count Kutu & The Balmers kini sudah mampu menjangkau seluruh belahan bumi. Semakin penasaran dengan Count Kutu & The Balmers, akhirnya saya ajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Tidak terlalu panjang lebar, namun sudah cukup sebagai info tambahan dan mencakup pula segala seluk beluk band ini. Berikut adalah interview kami.

Mengapa kalian memilih nama Count Kutu & The Balmers?
          Kami hanya mengadaptasi cara musisi-musisi Mento dalam memberi nama band mereka. Sama seperti halnya kebanyakan musisi Mento Jamaika mengadopsi gaya musisi Calypso dalam memberi nama. Berikut adalah sejarah singkat dan sedikit lebih dalam tentang sejarah nama musisi Calypso. Musisi Calypso yang merupakan budak memilih nama mereka dengan meniru nama depan tuan mereka seperti Lord, King, Great, Mighty, dll. Mereka mengejek secara licik satu sama lain, terutama mengejek tuan mereka, dengan menyanyikan lagu-lagu Calypso.

Kalian biasa bermain dalam pertunjukan seperti apa?
          Kami biasa bermain di sudut-sudut jalanan dan tempat-tempat umum di sekitar Metro Manila, serta di pantai-pantai lokal sekaligus sebagai rekreasi bagi kami. Memancing kerumunan penonton dan orang-orang yang lewat supaya membeli CD kami dan menjatuhkan koin ke dalam kotak gitar banjo sebagai sumbangan atas lagu-lagu Calypso yang kami nyanyikan. Kami juga bermain secara regular di bar lokal yang berbeda-beda seperti Scarlet Café, B-Sides, Mercy’s, dan Black Bird. Serta event-event seperti festival Ska atau Reggae pada waktu tertentu.

Bagaimana kalian bisa menjalin hubungan kerjasama dengan Jump Up Records?
          Teman kami yang bernama Hil (seorang organizer gig lokal) mengirimkan video-video band yang berbeda-beda termasuk video kami, Count Kutu & The Balmers di halaman facebook Jump Up Records. Barangkali Jump Up menyukai musik kami. Lalu, mereka mulai mengontak kami dan mengirimkan proposal via email. Begitulah cara kami mendapat kesepakatan kontrak dengan Jump Up Records. Terima kasih untuk Hil, dialah yang membuat seluruh kesepakatan kontrak ini terwujud, dan untuk Luv Gaerlan Nogoy atas dukungan dan bantuannya yang sangat berharga.

Ceritakan tentang album kalian yang dirilis oleh Jump Up Records tersebut!
          Album yang berjudul "Take Me" ini adalah album ke lima kami, dirilis oleh Jump Up Records dalam format vinyl 10 inch. Kami tidak mengharapkan kesuksesan yang muluk-muluk, karena target pemasaran kami adalah menjual merchandise kami dalam wilayah lokal saja. Tetapi mengejutkan bagi kami, sekarang mulai dijual ke seluruh belahan bumi semenjak bekerjasama dengan Jump Up. Terima kasih kepada Tuhan atas berkat-Nya yang diberikan kepada kami.

Kebanyakan lagu kalian ditulis menggunakan bahasa daerah kalian. Lagu-lagu kalian menceritakan tentang apa saja?
          Lagu-lagu kami bercerita tentang apa yang terjadi di sekitar, skandal, penghinaan, politik, gosip, keberanian, dan sindiran-sindiran. Yang jelas, kami mempelajari teknik-teknik yang banyak terpengaruh dari ketrampilan musisi-musisi Calypso tradisional, serta musisi Calypso lokal, Max Surban.

Bagaimana dengan scene musik di kota dan negara kalian?
          Musik Reggae dan Ska baik tradisional maupun modern merajalela di negara kami saat ini. Sebagian besar memiliki kualitas yang pantas diacungi jempol. Scene Ska, Reggae, dan Mento di Filipina memang selalu ramai. Kami sangat menikmati menjadi bagian dari scene tersebut. Selalu menyenangkan karena semuanya memberikan support secara antusias terhadap scene baik penggemar musik Jamaika maupun bukan.

Ini sebuah karir atau hanya hobi bagi kalian? Adakah proyek lain?
          Sebenarnya, Count Kutu & The Balmers adalah sebuah band side project dan hanya merupakan hobi bagi kami. Band asli kami adalah The Sneekers, sebuah band Punk Rock/Psychobilly, dan band tersebut juga masih aktif.

Banyak yang masih bingung dalam membedakan Mento dengan Calypso karena keduanya memang hampir sama. Apa perbedaan diantara keduanya?
          Perbedaan antara Calypso dengan Mento adalah sebagai berikut, yang jelas, Calypso berasal dari Trinidad & Tobago, sedangkan Mento berasal dari Jamaika. Keduanya memiliki gaya yang hampir sama pada kecerdasan lirik, mungkin karena keduanya memiliki akar yang sama, dari Afrika. Perbedaanya hanya dari suaranya, Mento memiliki sound yang unik dan eksotis, sebagai contoh, Mento biasanya menggunakan banjo sebagai lead guitar, dan dipetik dengan gaya mirip Early Reggae, atau teknik memetik yang tak terduga namun teratur. Sedangkan Calypso menggunakan gitar akustik khusus yang dipetik atau bermain lead dengan sedikit nge-jazz. Tetapi itu tidak mempengaruhi antusiasme saya terhadap Calypso, karena saya benar-benar menyukai keduanya, baik Mento maupun Calypso. Perbedaan yang lain, Mento menggunakan rumba box yang menghasilkan suara bass yang jelas dan dalam seperti jantung berdebar, sedangkan Calypso menggunakan kontra bass. Menurut saya, itu tadi adalah beberapa perbedaan antara Mento dan Calypso.

Kalimat-kalimat penutup untuk para pembaca?
          Untuk orang-orang Indonesia yang selalu memberikan support, terima kasih atas sambutan kalian yang hangat kepada band kami. Ini adalah sebuah kehormatan besar bagi kami bisa berpartisipasi dalam zine lokal kalian (Fotokopi Buram Zine). Kami sangat menghargainya. Kami berharap supaya bisa mengunjungi Indonesia suatu hari nanti. Sukses buat kalian. Terima kasih untuk semuanya.

Interview with Count Kutu & The Balmers (Philippines)


          Count Kutu & The Balmers adalah sebuah band yang berasal dari Manila, Filipina. Mengusung musik Mento/Calypso yang merupakan akar dari musik Ska, Rocksteady, Reggae, Dub, Dancehall, dan musik-musik kulit hitam lainnya. Terbentuk pada tahun 2002 oleh nama-nama seperti Count Kutu (Ryan), Senyor Lucca (Greg), Don Ustollano (Joy), Lord Santadio (Corlasito), dan Doctor Turbo (Ompong). Namun beberapa diantara mereka sudah menikah dan tidak aktif lagi di band. Sempat mengalami masa sulit setelah ditinggal beberapa personil asli mereka, akhirnya pada tahun 2010 Count Kutu dan Senyor Lucca mendirikan kembali Count Kutu & The Balmers bersama Cardinal Jones (Jong), Lord Francis (Francis), Bob Marlou (Marlou), dan Atty Justin. Masih mengusung musik Mento/Calypso dengan ciri khas vokal sengau dan menggunakan instrumen-instrumen seperti gitar akustik, tenor banjo, marakas, catacoo, sand block, bamboo drum, dan rumba box. Jalan mereka tidaklah mulus, album-album yang mereka hasilkan tidak begitu laku. Pembelinya kebanyakan adalah wisatawan dan pejalan kaki yang melintas di tempat Count Kutu & The Balmers biasa mengamen, seperti di kawasan pantai dan sudut-sudut kota. Akhirnya, kerja keras mereka membuahkan hasil. Pada tahun 2012, album terbaru mereka dirilis dalam format vinyl 10 inch oleh Jump Up Records, sebuah label rekaman asal Chicago, Amerika Serikat. Label yang berdiri tahun 1993 ini mengawali langkah dengan merilis kompilasi-kompilasi yang memperkenalkan band-band Amerika seperti Mustard Plug, Suicide Machines, dan sebagainya. Kini, Jump Up sudah menegeluarkan ratusan rilisan dari berbagai musisi Ska, Rocksteady, Reggae, dan Calypso dari seluruh dunia, antara lain Mr. Symarip, Mr. T-Bone, Moon Invaders, Firebug, Go Jimmy Go, See Spot, Babylove & The Van Dangos, Dr. Ring Ding, dan lain-lain, termasuk Count Kutu & The Balmers. Sehingga, penjualan album terbaru dari Count Kutu & The Balmers kini sudah mampu menjangkau seluruh belahan bumi. Semakin penasaran dengan Count Kutu & The Balmers, akhirnya saya ajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Tidak terlalu panjang lebar, namun sudah cukup sebagai info tambahan dan mencakup pula segala seluk beluk band ini. Berikut adalah interview kami.

Why do you choose the name "Count Kutu and The Balmers"?
          We simply adopt the mento musician's idea of naming their band. The same theory as most Jamaican mento musicians adopt the Calypsonians style of naming theirs. Here's somewhat very short and a bit deeper history of Calypsonians names. Slave Calypsonians have pick their names by mimicking their masters first names such as Lord, King, Great, Mighty just to name a few and they mock slyly each other but mostly their masters by singing calypso songs.

What kind of shows do you play?
          We used to play on the street corners and public places around Metro Manila and local beaches as our pastime, hustling the onlookers and passersby to buy our cd’s and to drop their coins into the banjo guitar box as donations by singing calypso songs. And we regularly play to our different local bars like Scarlet Café, B-Sides, Mercy’s, Black Bird and event like ska festival or reggae festival in different schedules.

You release 10 inch records from Jump up records in US. How do you get relationship with Jump Up Records?
          My friend named Hil (local gig organizer) posted different band videos including Count Kutu & The Balmers on Jump Up facebook page. Perhaps the Jump Up liked CK&TB's sound as the effect, so they start to contact us and sending proposal via email. That’s how we got the Jump Up record deal. Thanks to sir Hil, he made this whole deal happen and to Luv Gaerlan Nogoy for her valued support and assistance.

Tell me the story about your album that released by Jump Up Records!
          "Take Me" album is our fifth album that was released by Jump Up Records in vinyls. We did not expect such success would come to us because our main target-market of this business is to sell our merchandise for locals only. But to our surprise it appeared now to be selling worldwide since Jump Up's. Thanks to God for giving us these blessings.

Many of your songs are written in your mother-tongue/local language. What are your songs talking about?
          It's all about local news, scandals, insults, politics, gossips, bravado and innuendos. Of course, we have learned these technics from cunning traditional Calypsonians and our local calypsonian Max Surban.

How about the music scene in your town also your country?
          Reggae and Ska music both traditional and modern are rampant in my country nowadays. Most of them are good. Philippine Ska, Reggae, and Mento scene are always great. We really enjoy most of the scenes. It was always joyful because everyone supports the scenes with enthusiasm both Jamaican music supporters and non-supporters.

Is a career or just a hobby for you? Any other project outside the band?
          Actually, Count Kutu & The Balmers is my side project band and it is only a hobby for us. Our original band is The Sneekers - a Punk Rock/Psychobilly band and still active.

Mento is often confused with Calypso because of their similarities. What are the differences between them?
          The differences between calypso and mento is that, of course, calypso was originated in Trinidad and Tobago, and mento was originated in Jamaica. They have almost the same style of wit on their lyrics, maybe because they have the same african roots. It differs only to the sound because mento has very uniquely exotic sound like for example, mento usually used banjo as lead guitar and strummed in antediluvian reggae style or in predictably unpredictable strumming technics, while calypso used typical acostic guitars and strummed or lead in slight jazz form but it does not affect my enthusiasm in calypso because I simply like them both. Another example, mento used Rumba box that produces very distinctly deep and heart-pounding sound of bass, while calypso used upright bass. I think those are some of the differences between calypso and mento.

Any last words for our readers?
          To all Indonesian supporters thank you for your warm patronage to the band. It’s a great honor for the band to be featured of your local fanzine (Fotokopi Buram Zine). We really appreciate this stuff. We hope to see Indonesia someday. We wish you all god speed. Thanks to everyone.