Friday, July 27, 2012

Moonshine, Cahaya Rembulan dari Kota Pahlawan

          Kota Pahlawan, Surabaya, tak ada habisnya menghasilkan talenta-talenta berbakat. Salah satunya adalah Moonshine. Sebuah band ska yang pantas untuk kita kenali lebih jauh. Berikut adalah perkenalan dari mereka.
          Moonshine adalah sebuah band ska dari Surabaya, Indonesia. Awalnya nama ini muncul dari ide perkusi kami yang juga tergabung dalam band Oi! yang bernama Fat King. Dia bersaran untuk memberikan nama band ini dengan Moonshine, yang bermakna secara harfiah Moon adalah Bulan dan Shine adalah Terang. Moonshine adalah Terang Bulan. Dan asal tahu saja, Terang Bulan adalah salah satu makanan enak di kota kami. Ide membentuk Moonshine muncul ketika scene Menganti Ska Foundation dan Anti Famous berkumpul. Dengan beberapa teman seperti Melon - RAT (band Punk) dan Firman Angga - Roti Lapiska dan Juga Ratmi B29 ini membantu mempertemukan kedua scene ini. Padahal Menganti Ska Foundation dan Anti Famous berada di kota yang berbeda, Gresik dan Surabaya. Menganti Ska Foundation melahirkan beberapa band, Rat Captain (Ska Punk), Rayuan Pulau Kelapa/RPK (2 Tone), dan Chicken Track di awal Tahun 2004an silam. Demikian juga di Anti Famous (Jl. Arjuno) ada Roti Lapiska (Ska) dan The Fat King (Oi!). Bisa dikatakan rata-rata scene di Menganti Ska Foundation adalah mengadopsi subkultur Rude Boy dan di Anti Famous beraneka ragam, tapi yang jelas kebanyakan adalah Skinhead. Dengan berjalannya waktu 2004 sampai ke 2008, kami sering berkumpul, ke gigs bersama-sama serta saling support. Pada akhirnya kami berpikir untuk melahirkan band ska tradisional dengan komposisi anggota dari singkronisasi Menganti Ska Foundation dan Anti Famous. Maka dari itu lahirlah Moonshine Ska Band!
          Band ini seperti angin berlalu, di antara hidup dan dalam ketiadaan. Untung para sesepuh seperti Firman Angga, Herman (Heavy Monster), dan Resha Sasongko terus dan terus mencaci maki kami (support maksudnya), tanpa mereka apalah band kami ini. Belum lagi keluarga besar Menganti dan Arjuno, terus-terusan mendukung kami untuk terus bermusik dan keep root! Oh iya, ada satu lagi tokoh yang support dan membantu kami, QQ Bretel/ Fishska juga sangat membantu. Termasuk desain stiker dan kaos Moonshine, beliaulah yang mengatur semuanya, serta pendidikan yang begitu hebat untuk kami. Cukup sekian dan terima kasih, doakan selalu biar ngeband terus!

Interview dengan Aplek dari Los Javanian di Semarang Ska Fest Music Radio


          Los Javanian (Jakarta Early Ska/Original Rocksteady/Early Reggae) berdiri di awal 2008. Diawali dengan kecintaan masing-masig personil terhadap musik. Dan akhirnya terbentuklah Los Javanian. Dalam bermusik, Los Javanian tidak hanya terpaku dalam membuat lagu sendiri, namun juga mencoba untuk mengaransemen ulang lagu-lagu yang sudah jarang didengar oleh banyak orang. Meng-cover lagu penyanyi atau band lain bukan bermaksud untuk melakukan plagiat, melainkan untuk menyajikan lagu lama dengan nuansa yang baru dan dengan tidak mengurangi rasa menghargai terhadap para pencipta ataupun penyanyinya. Karena menurut kami, berkarya bukanlah terpaku pada apa yang kita ciptakan, namun mengembangkan dan menghargai ciptaan orang lain juga dapat dijadikan sebagai bentuk berkarya.
         Sekiranya, itu tadi adalah profil singkat dari Los Javanian. Merasa ingin tahu lebih lanjut, apa salahnya bertanya? Berikut adalah sebuah interview singkat dan dadakan ketika sedang bertemu dengan Aplek, frontman dari Los Javanian dalam sebuah chatroom di grup Semarang Ska Fest Music Radio menggunakan aplikasi RaidCall. Dimana kita bisa bertemu secara online dengan kawan-kawan pecinta musik Ska, ngobrol bareng, diskusi, bahkan bisa siaran serta mendengarkan dan me-request lagu. Sesi tanya jawab ini dilakukan sembari mendengar lagu-lagu dari Los Javanian yang diputar secara online di SemarangSkaFest MusicRadio dan menunggu kiriman single-single terbaru dari Los Javanian melalui email. Selamat menyimak.

Coba ceritain secara singkat dong mas, bagaimana awal mula berdirinya Los Javanian?
          Sebenarnya ini adalah band gabungan dari bandku dulu, Soulshaker yang bubar. Gabungan dari Soulshaker dan Lord Agusto and The Tropical Vibration. Dan Lord Agusto and The Tropical Vibration juga punya nasib yang sama, seiring berjalan waktu Lord Agusto pun break. Lalu saya bertemu dengan Dika AKA Lord Agusto dan bincang-bincang soal band. Akhirnya cari personil dan kami tadinya bertujuan membuat band soul, tapi endingnya tetep dapet soul ke pure original rocksteady sound. Ya, kalau sejarah singkatnya Los Javanian seperti itu tadi. Penggabungan 2 karakter musik dari Lord Agusto dan Soulshaker.

Mengapa dinamakan Los Javanian?
          Karena mayoritas tinggal di pulau Jawa. Kami merupakan orang yang berada di pulau Jawa, namun terbuang di pulau Jawa sendiri.

Kok bisa berpikir terbuang di pulau sendiri?
          Karena banyak dari kami yang belum mendapatkan suatu hasil yang maksimal pada saat itu.

Hasil seperti apa yang dimaksud?
          Semua hal, entah itu dalam bermusik maupun dalam kehidupan.

Tapi kalau sekarang gimana? Sudah merasa tak terbuang kan?
          Jadi dengan adanya nama Los Javanian kami mencoba berusaha menjadi lebih baik. Pastinya toh yo.

Dulu mas Aplek juga sempet gabung sama Apollo Ten kan?
          Saya dulu vokal setelah Anto Jahkimpling dan Piyel cabut. Saya sempat melanjutkan Apollo Ten. Sempat lah beberapa kesempatan yang cukup lama saya bersama Apollo Ten.

Tuesday, July 24, 2012

Pentingnya Dokumentasi dalam Scene Lokal

          Dokumentasi adalah sebuah kegiatan mengabadikan, merekam, menulis suatu hal maupun obyek dalam sebuah peristiwa yang dianggap penting atau memiliki nilai tertentu. Hasil dokumentasi dapat berupa foto, video, berita, dan tulisan, dan sebagainya. Lepas dari penting atau tidaknya sebuah peristiwa, menurut saya pribadi dokumentasi memiliki manfaat tersendiri. Dan kali ini, saya menulis tentang pentingnya dokumentasi dalam scene lokal.
          Solo, adalah sebuah kota dimana saya dilahirkan dan tumbuh hingga sekarang ini. Kota ini memiliki banyak scene dari keberagaman kultur anak muda. Mulai dari punk, hardcore, metal, grunge, ska, reggae, indie-pop, dan sebagainya. Saya rasa, semua tetap hidup dari masa ke masa. Meskipun beberapa diantaranya pernah mengalami pasang surut, stagnasi, dan mati suri. Hidupnya scene-scene tersebut jelas tak luput dari peran penting dokumentasi. Segala bentuk dokumentasi selalu menjadi aspek utama dalam penyampain informasi dari satu orang ke orang yang lain. Scene yang hidup ditandai dengan adanya aktivitas/pergerakan di dalam maupun di luar scene tersebut, yang tentunya bermula dan diketahui melalui andil dokumentasi.
          Beberapa contoh kegiatan dokumentasi dalam scene adalah, ketika sebuah band menjalani proses recording lalu mendistribusikannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada sekitar melalui setiap kalimat yang terkandung dalam sebuah karya/lagu yang mereka ciptakan. Jika kita datang ke sebuah gig dan menjumpai beberapa orang membidik salah satu sudut menggunakan kamera, itu juga salah satu bentuk proses dokumentasi. Entah sekedar hobi, atau apalah itu, ia pasti akan menghasilkan foto atau video yang nantinya bisa disimak pula oleh orang lain. Atau ketika kita membaca tulisan mengenai review gig maupun rilisan pada sebuah zine/blog. Sebenarnya masih ada banyak lagi contoh dokumentasi. Tak hanya berupa fisik, bahkan sampai hal kecil seperti cerita dari mulut ke mulut, yang merupakan bentuk hasil dokumentasi berupa lisan.

Bidikan Kamera pada Sebuah Gig

          Apapun bentuk dokumentasi, selalu menjadi jembatan yang sangat vital untuk menuju tersampaikannya informasi. Kelak, dokumentasi-dokumentasi tersebut tak hanya berguna sebagai komposisi pokok dalam sebuah informasi dan menunjang kelangsungan hidup sebuah scene, tetapi juga mampu menjadi warisan yang manis bagi generasi-generasi berikutnya.

Sunday, July 22, 2012

Sriwedari Bootbois Berbagi : Preview

          Setelah pada bulan puasa tahun lalu digelar sebuah acara akustik dan ngabuburit di Gedung Kesenian Solo (GKS), tahun ini sebuah scene tertua di Solo, Sriwedari Bootbois kembali mengadakan sebuah acara yang bertema hampir sama. Sriwedari Bootbois Berbagi, pada tanggal 4 Agustus 2012 mendatang di Panggung Meriam pelataran kompleks Taman Sriwedari, dan dimulai pukul 4 sore. Sebuah acara ngabuburit sambil berbagi kepada sesama, diisi beberapa band akustik seperti Tendangan Badut, The Working Class Symphony, Mooca Caboel, Samalona, The Suspender, The Radio, dan lain-lain. Kali ini diperluas, jika tahun lalu aksi berbagi makanan hanya dilakukan di seputar venue (GKS), maka acara tahun ini akan digerakkan hingga sepanjang jalan raya Slamet Riyadi. Juga akan ditambah aksi pengumpulan pakaian bekas pantas pakai untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan. Sedikit cerita, acara akustik dan ngabuburit tahun lalu molor sampai beberapa jam. Waktu ngabuburit yang semula disediakan untuk menampilkan performance akustik band terbuang banyak untuk mempersiapkan alat serta check sound. Hingga setelah waktu berbuka masih menyisakan beberapa band. Semoga penggunaan waktu untuk acara Sriwedari Bootbois Berbagi kali ini mampu berjalan efektif sesuai rencana. Satu yang masih menjadi pertanyaan, masihkah ada yang mabuk-mabukan dan berkeliaran di sekitar venue tanpa menggubris kelangsungan acara? Haha, kita tunggu saja besok pada tanggal 4 Agustus 2012 di Panggung Meriam pelataran kompleks Taman Sriwedari pukul 4 sore, Sriwedari Bootbois Berbagi!

NB : Bagi yang ingin berkontribusi, atau membutuhkan info lebih lanjut, bisa menghubungi nomor-nomor berikut, 08170440646 (Lius) & 081915318414 (Encik).

Wiji Thukul - Bunga dan Tembok

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun tirani harus tumbang!

Friday, July 13, 2012

Muchas Gracias, Supeltas!

          Saya sebagai warga kota Solo sangat berterima kasih dengan keberadaan Supeltas. Mereka biasa memakai rompi hijau menyala, membawa peluit, dan mengatur lalu lintas, tetapi mereka bukanlah Polisi. Lalu siapakah Supeltas? Kepanjangan dari Supeltas adalah Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas. Sudah jelas apa tugas dari Supeltas, yaitu sebagai sukarelawan yang mengatur lalu lintas di beberapa ruas jalan tanpa rambu maupun lampu lalu lintas, dimana pada titik tersebut biasa terjadi kemacetan bahkan kecelakaan. Seperti yang sering dijumpai di daerah perempatan Coyudan, bundaran Baron, bundaran Purwosari, Lawang Gapit sebelah barat, dan masih banyak lagi.
Keramahan Supeltas
          Tidak bisa dipungkiri, Supeltas memang sebuah evolusi dari  Pak Ogah atau Polisi Cepek yang dibina oleh kepolisian. Tugas mereka pun juga membantu Polantas. Tetapi apa yang terjadi? Menurut saya kinerja Supeltas malah lebih nyata, lebih hebat mengalahkan para Polisi yang sebenarnya. Pihak kepolisian sudah seharusnya merasa malu. Yang saya lihat berdasarkan apa yang terjadi di sekitar, ada oknum-oknum Polantas (Polisi Lalu Lintas) yang seringkali hanya duduk manis di pos perempatan jalan raya sembari memantau jalanan untuk mencari-cari kesalahan dari para pengguna jalan, lalu secara halus memalak dengan dalih memberikan tilang. Memang, menertibkan pengguna jalan merupakan salah satu tugas mereka, sayangnya banyak oknum Polantas yang menerapkan praktek "damai di tempat", membebaskan si pengguna jalan yang kena tilang namun diharuskan membayar denda, lebih tepatnya saya sebut "uang damai" yang akhirnya masuk ke kantong Polisi itu sendiri. Berbeda dengan para Supeltas yang dengan sukarela turun berpanas-panas di jalanan hingga berpeluh. Bekerja secara ikhlas tanpa perlu meminta-minta dan hanya menerima uang sukarela sebagai tanda terima kasih dari para pengguna jalan. Mereka juga murah senyum dan rendah hati ketika mengatur lalu lintas.
          Ke depannya, saya berharap keberadaan Supeltas di kota Solo ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah atau dari pihak manapun. Syukur-syukur juga diberi penghargaan khusus atas jasa mereka sebagai sukarelawan pengatur lalu lintas. Muchas gracias, Supeltas!

Thursday, July 12, 2012

Kesepakatan Bersama #2 : Review

Flyer
          Menjelang bulan puasa tahun 2012 yang jatuh pada pertengahan bulan Juli, kota Solo banyak menyuguhkan perhelatan musik dalam skala kecil maupun besar. Banyak yang berlomba-lomba mencari hari dan tanggal yang tepat sebelum bulan Ramadhan tiba. Sampai ada beberapa acara yang hari dan tanggalnya bersamaan.
          Kali ini, saya akan mengulas salah satu gig, yaitu Kesepakatan Bersama #2 yang diadakan pada hari Minggu tanggal 8 Juli 2012. Kebetulan, setahu saya pada hari dan tanggal tersebut juga bersamaan dengan diadakannya sebuah gig yang melibatkan band-band Metal - Hardcore di Auditorium AUB. Kesepakatan Bersama #2 persembahan kawan-kawan The Teenage Fraternity yang merupakan kelanjutan dari Kesepakatan Bersama #1 kali ini melibatkan band-band Melodic Punk dan Ska di dalamnya. Tak hanya local act kota Solo, tetapi juga mendatangkan kawan-kawan luar kota seperti Stay Funny dan Write The Future dari Malang, Pyong Pyong dari Semarang, serta mereka yang menyebut dirinya sebagai Wonogiri Rudeboys, The Yanto Brothers. Dimulai pukul 8 pagi seperti yang tertera pada flyer, nampaknya budaya molor masih menjadi tradisi. But it's okay, pukul 8 pagi mungkin masih terlalu pagi untuk konteks gigs. Lagipula molornya waktu dimulainya gig ini tidak menghalangi jalannya acara dan tak mengurangi kualitas acara yang disuguhkan. Untuk rundown berjalan mulus, tidak terjadi kekacauan sampai terjadi cari-mencari band yang belum hadir. Band-band dari panitia sengaja diletakkan di awal acara demi menghindari jam karet yang fatal. Venue terletak di GOR Bulutangkis Universitas Surakarta (UNSA), Palur. Bagi yang baru pertama kali mendatangi tempat tersebut seperti saya, memang butuh perjuangan untuk mencapainya, haha. Sebelum sampai di venue, saya sempat tersesat salah gang, dan akhirnya harus bertanya pada salah satu orang yang sedang berada di tepian jalan. Memang benar apa kata pepatah, "Malu bertanya sesat di jalan." Berkaitan dengan hal tersebut, saya salut bagi semua yang telah hadir dan berpartisipasi dalam gig Kesepakatan Bersama #2. Semua band tampil dalam top form mereka, tidak setengah-setengah meskipun kuantitas penonton tidak mengisi kapasitas gedung secara penuh. Tidak adanya panggung, atau bisa dikatakan lesehan juga menciptakan aura yang lebih panas. Hingga tindakan apresiatif seperti pogo, dancing, skanking, moshing, dan crowd-surfing, bahkan ngibing tak mampu dihindarkan, hahaha. There's no border between performers and audience, it looks great! Semoga tak cukup sampai di sini, kita semua pasti akan dengan setia menunggu part-part dari Kesepakatan Bersama berikutnya. :)

Crowd of Audience
          Selain foto di atas, juga saya sisakan dokumentasi berupa video yang telah diunggah ke Youtube. Sebuah performance dari salah satu band pengisi, yaitu The Suspender dengan lagu mereka yang berjudul Realize.


Wednesday, July 4, 2012

Remote Control - Reflection (2012) : Review, Info, & Free Download

Review
          Kembali me-review sebuah rilisan album. Tak perlu jauh-jauh, kali ini sebuah album band kawan dari Sukoharjo, Remote Control. Band Melodic/Punk Rock yang banyak ter-influence band-band seperti Bad Religion, NOFX, No Use For A Name, Slick Shoes, dsb ini lahir pada tahun 2003. Dimotori oleh Boim pada posisi Gitar & Vokal, disusul Bimbim pada Bass & Vokal, Rothul pada Lead Guitar, dan Nano pada Drum. Mereka telah menetaskan sebuah full album pada awal bulan April tahun 2012 berjudul Reflection, yang dirilis di bawah naungan label independen bernama Resistance Record. Diisi 11 track dengan judul-judul seperti Artikulasi, Lupakan, Simple Life, Parents and Son, Trust Yourself, Takkan Menyerah, First Kiss, Don't Give Fuck For Me, Lost and Found, Untuk Masa Depan, dan tentunya Reflection. Yak, sesuai judul, album Reflection ini memang berupa refleksi atau pencerminan dari kehidupan sehari-hari. Keseluruhan lirik dalam lagu-lagu yang terdapat pada album ini disusun secara cerdas. Serta jelas memaparkan apa yang ingin disampaikan Remote Control kepada audience. Seperti pada lagu Parents and Son, yang menceritakan bagaimana ketika kita hidup di masa muda yang penuh dilema dan problematika atas apa saja yang kita lakukan. Tak hanya sebagai pencerita, Remote Control juga mampu kita jadikan sebagai motivator dalam setiap lirik-liriknya. Seperti penggalan lirik berikut, "Life is so short, let’s must we know that meaning of life. We learn from the small thing that’s we’re have." yang terdapat dalam lagu Simple Life yang menceritakan kepada kita akan keindahan dalam kehidupan yang sederhana. Semua lagu dalam album Reflection ini pantas untuk disimak dan jangan sampai terlewatkan. Bagi kalian pecandu musik-musik cepat, wajib mendengarkan album yang satu ini!



Album Remote Control - Reflection (2012) ini dapat dibeli atau dipesan di :
- Mirror Merch (Sukoharjo)
- Badless (Sukoharjo)
- Duck (Sukoharjo)
- Trapin (Solo)
- Hoofd Awesome (Solo)
- Cagak Tink (Sragen)
- Maximum Rockshop (Karanganyar)
- Karanganyar (Dona : 083866750767)
- Wonogiri (Heho : 085642065889)
- Jogjakarta (Fae : 081915552623)
- Malang (Bowo : 085760722340)

Atau free download melalui link berikut ini : Remote Control - Reflection (2012)

More Info :
Facebook Page : Remote Control
Twitter : @REMOTECONTROL03