Showing posts with label Point Of View. Show all posts
Showing posts with label Point Of View. Show all posts

Thursday, April 18, 2013

Mutualisme Filmmaker dan Street-Artist di Solo

          Dari tahun ke tahun, dimanapun tempat yang kita tinggali ini, seakan tak pernah kehabisan individu ataupun kelompok potensial dalam bidangnya. Point yang saya singgung di sini adalah tentang kultur anak muda, komunitas, dan karya-karyanya. Tak khayal hal tersebut seringkali memicu persaingan. Jegal-menjegal, saling nyinyir dan mengkritisi, terobsesi dan rasa tak mau kalah sudah biasa terjadi. Namun di sini saya tidak akan membahas persaingan tak sehat tersebut. Buat apa? Lebih baik membicarakan hal yang positif saja. Saling mendukung satu sama lain. Jika kalian memberikan dukungan secara riil kepada orang lain, otomatis kalian akan mendapatkan timbal balik yang sama.
          Seperti halnya yang dilakukan oleh seniman-seniman muda berbakat dari Kota Solo belum lama ini, mereka adalah para filmmaker dan street-artist. Tahun ini, Festival Film Solo atau yang biasa disingkat FFS memasuki gelaran ketiganya. Berawal pada tahun 2011 lalu, diprakarsai oleh beberapa pegiat sinema yang berkumpul di Solo, FFS selalu diagendakan pada bulan Mei di setiap tahunnya. Dan FFS ketiga tahun ini diadakan pada tanggal 1 sampai 5 Mei, bertempat di Teater Besar ISI Surakarta. Festival Film Solo menjadi sebuah wadah yang terbuka luas, akrab, ramah, dan sederhana untuk menampung para penonton dan pelaku perfilman nasional. Memfokuskan pada perkembangan film-film fiksi-pendek Indonesia, melalui program-program kompetisi maupun non-kompetisi dan forum. Festival Film Solo mempercayai bahwa film pendek dan komunitas film adalah salah satu penggerak utama perfilman tanah air. Menanggapi moment yang akan hadir pada bulan Mei tersebut, muncul pula sambutan, dukungan, dan ketertarikan dari beragai pihak. Tak hanya para pelaku perfilman dan penikmat film saja, tetapi juga para street-artist. Seniman yang biasa bergerak pada bidang seni rupa tersebut mengaplikasikan respon positif mereka terhadap Festival Film Solo dengan aksi pembuatan mural. Mereka berasal dari beberapa komunitas seperti Komunitas Perupa Kepatihan (Koper-K), Love Leca, ada juga yang berasal dari Klaten, dan beberapa perorangan lainnya. Mereka secara serentak melakukannya pada hari Sabtu, 13 April 2013 di beberapa titik. Diantaranya daerah Jalan Wora Wari, dekat Masjid Solikhin, Laweyan, sekitar SMA Warga, dan belakang Solo Grand Mall.






          Aksi yang mereka lakukan pada hari Sabtu tersebut menghasilkan bermacam tema dan konsep, namun di tiap mural tersebut disisipkan info dan ajakan menganai Festival Film Solo 2013. Selain menjadi ajang unjuk gigi para street-artist, tentunya mampu mempromosikan event Festival Film Solo itu sendiri. Sehingga, FFS mampu mencapai jangkauan audience yang lebih luas, tak hanya dari pelaku dan penikmat perfilman saja. Saling support lintas komunitas seperti inilah yang pantas dijadikan teladan oleh semua orang. Dukungan secara nyata, apresiasi positif, atau apapun bentuknya akan menjadikan kita hidup dalam keharmonisan. Saling menguntungkan dan tak ada yang dirugikan.

Words : Bagas
Pix : Bani

Thursday, January 3, 2013

Support Studio Gigs!

Studio Gigs? Studio Show?
          Jika kamu adalah seorang gigs mania, tentunya akrab dengan istilah studio gigs, atau nama lainnya adalah studio show. Apakah yang dimaksud studio gigs? Tak perlu panjang lebar, dilihat dari susunan kata-katanya saja kita sudah mampu menjabarkan apa itu studio gigs. Yak, studio gigs adalah gigs yang diadakan di sebuah studio musik. Loh, bukannya studio adalah tempat untuk latihan atau rekaman? Tidak sesempit itu, studio juga mampu dimaksimalkan menjadi sebuah venue untuk sebuah gig. Mengapa harus memakai studio? Ini adalah sebuah alternatif dalam pemilihan sebuah venue untuk mengadakan sebuah gig. Di saat sebuah tempat (gedung atau lapangan misalnya) sudah tidak diperbolehkan lagi untuk menggelar gigs, di saat harga sewa tempat tersebut semakin mahal, di saat perijinan dan tetek bengek lainnya dalam hal birokrasi semakin berbelit, studio lah yang menjadi solusi. Bukan karena kepepet atau gak punya duit, membuat gigs di studio adalah langkah yang bisa diambil di tengah stagnasi. Karena kelangsungan hidup sebuah scene tidak harus bergantung pada instansi-instansi terkait seperti pemerintah dan aparat yang berwajib.

Langkah Membuat Studio Gigs
         Untuk membuatnya relatif mudah dan murah. Bisa diorganisir secara individual maupun kolektif. Tak perlu mengurus ijin dan keamanan dengan yang berwajib. Tak perlu pula menyewa alat musik dan soundsystem karena sudah jelas tersedia di dalam studio. Langkah pertama dalam pengorganisasian studio gigs biasanya adalah memilih studio yang memiliki kapasitas ruangan yang lebih besar dibanding dengan studio lainnya. Karena jumlah orang yang akan datang berkunjung ke studio di hari H nanti pasti akan lebih banyak dari biasanya ketika studio dipakai untuk latihan maupun recording. Jika sudah menemui studio yang sekiranya cocok untuk venue, bisa langsung berbincang dengan si pemilik studio. Hal-hal yang perlu dibicarakan antara lain, apakah studio yang bersangkutan diperbolehkan untuk menggelar sebuah show atau tidak. Mengapa? Karena bisa saja si pemilik was-was apabila studionya kotor atau mengalami kerusakan pasca gigs diadakan. Bisa juga mereka mempertimbangkan hubungan dengan warga sekitar studio, berkaitan dengan keramaian yang akan terjadi nantinya. Jika sudah deal, tinggal atur waktu, tanggal dan jam berapa studio gigs tersebut akan diadakan. Dan tentunya jangan lupa negosiasi harga dengan si pemilik studio, karena studio yang bersangkutan akan disewa selama berjam-jam, mengorbankan jam yang biasanya dipakai untuk rental.
          Selain berkonsep seperti gigs pada umumnya, namun memakai kapasitas venue yang minimalis, ada pula studio gigs yang berkonsep sebatas private party atau jam session yang memang dengan sengaja tidak terlalu dipublikasikan. Meski studio gigs hanyalah sebuah show dengan skala kecil, namun kekeluargaan yang terjalin di dalamnya sangat luar biasa. Di dalam ruang lingkup sekecil studio, kita mampu menjalin keakraban yang lebih dekat antara satu dengan yang lain. Mampu menghapuskan status selebriti dan idola di antara para partisipan. Semua sama, tanpa ada perbedaan.

Wednesday, January 2, 2013

Bugil Bareng

Bukan Acara Sex Party
          Bugil Bareng, nama yang terdengar erotis, namun bukan sebuah acara pesta seks ataupun acara berbau nudis lainnya. Bugil Bareng adalah sebuah wadah/komunitas apresiasi seni yang pada mulanya digagas oleh seorang kawan bernama Pata Bara, lalu dilaksanakan secara kolektif oleh kawan-kawan penggiat seni di kota Solo. Bugil Bareng bertujuan untuk memacu ruang dialog publik yang intim antara pelaku seni, pengkaji seni, dan penikmat seni yang sengaja dikemas secara sederhana dan akrab. Mengapa dinamakan Bugil Bareng? Karena dalam wadah ini, semua karya yang diapresiasi akan "ditelanjangi" dan dikupas habis. Diadakanlah forum dialog yang bersifat buka-bukaan dan intim di antara pihak-pihak yang sudah disebutkan tadi, yaitu pelaku seni, pengkaji seni, dan penikmat seni.

Kelangsungan Acara Bugil Bareng
          Bugil Bareng sejauh ini sudah dilaksanakan sebanyak dua kali. Yang pertama dilangsungkan pada hari Rabu, tanggal 24 Oktober 2012 mulai pukul 7 malam di Kedai Kopi 7 yang terletak di sekitar kampus ISI Surakarta. Pada edisi perdana tersebut, Bugil Bareng menelanjangi sebuah band indie-pop, Homealone. Membuka diskusi tentang wawasan bermusik mereka, sekaligus diskusi materi pre-launching pada album perdana mereka yang akan segera release. Lalu, Bugil Bareng yang kedua diselenggarakan pada Jumat malam, tanggal 2 November 2012 di atas jembatan penyeberangan depan kampus UNS. Sengaja mengambil tempat yang memang ekstrim karena keterbatasan tersedianya tempat/venue acara yang semakin lama semakin mahal dan dipersulit oleh birokrasi. Namun hal tersebut tidak menghalangi kelangsungan berjalannya acara Bugil Bareng ini. Hujan yang sempat turun malam itu juga tak menghalangi jalannya acara, Bugil Bareng #2 tetap dilaksanakan meski waktu dimulainya acara terpaksa mundur beberapa saat akibat turunnya hujan. Kali ini, menelanjangi karya dari sebuah band punk rock, Mooca Caboel, yang dalam waktu dekat juga akan merilis full album. Disajikan dalam format akustik dengan instrumen seadanya. Tak hanya presentasi musikal, tetapi juga menyajikan bedah karya tulis bersama Obby Raharjo, Bagas Purwo Yulianto (Fotokopi Buram Zine), dan Stevany (Sisterhood Zine). Serta pameran fotografi yang mengambil lingkup seputar gigs karya Gagah Putra SL. Ditambah pula aksi pembenahan jembatan penyebrangan yang dilaksanakan pra dan pasca berlangsungnya Bugil Bareng #2.
          Semoga, Bugil Bareng terus berlanjut. Menjadi sebuah wadah bagi kita semua, tak peduli dengan perbedaan identitas, scene, generasi, atau apalah itu, untuk saling mempresentasikan dan mengapresiasi suatu karya. Dan menjadi tempat yang efektif untuk menjalin hubungan antara satu dengan lain secara guyub rukun, dekat, dan tanpa adanya batasan-batasan tertentu.

*Berikut adalah beberapa foto dari acara Bugil Bareng #2 yang dijepret oleh saudara Gagah Putra SL :


Pameran Fotografi Gigs Karya Gagah Putra SL

Diskusi Bersama Stevany (Sisterhood Zine) dan Obby Raharjo

Punkrockustik dari Mooca Caboel

Cover Depan Fotokopi Buram Zine

Pembagian Fotokopi Buram Zine

Tuesday, November 6, 2012

Nostalgia Kaset Pita

          Belum lengkap rasanya apabila kita seorang pecinta musik atau mungkin musisi jika belum mengenal apa itu kaset pita. Saya pribadi mengenal benda tersebut semasa kanak-kanak, sedari era Bondan Prakoso si Lumba-Lumba sampai Trio Kwek-Kwek. Yaa, sedikit contoh lagu anak-anak yang kini sudah hampir punah. Mungkin saat ini lagu anak-anak tersebut hanya mampu kita jumpai sebagai backsound wahana permainan keliling bernama odong-odong. Mulai beranjak dewasa, tentu selera musik berubah dengan sendirinya. Musik seakan menjadi kebutuhan tambahan yang harus dipenuhi pula. Berbahagialah jika pernah merasakan mencari kaset yang diinginkan dan akhirnya menemukannya setelah pusing berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Karena pada saat itu, yang kita inginkan belum pasti tersedia di toko kaset terdekat. Tak semudah men-download lagu seperti masa sekarang ini. Lebih menyenangkan lagi jika membelinya dengan uang tabunganmu sendiri. Selain membeli, ada teknik tradisional semacam barter/trade dengan orang lain. Bisa juga pinjam meminjam, sampai ada kaset yang jejaknya hilang entah kemana. Dan satu hal lagi yang unik adalah merekam lagu-lagu yang kita sukai di sebuah siaran radio menggunakan tape recorder dengan media kaset pita kosongan (blank cassette). Oh iya, generasi sekarang dan mendatang mungkin tidak akan pernah mengenal rasanya memutar kaset pita tepat di kedua lubangnya menggunakan bolpoin atau pensil ketika kaset tersebut nglokor, atau memang sengaja diputar untuk menghindari pita kaset yang bermasalah akibat terlalu sering melakukan fast forward dan rewind. Seiring berjalannya waktu, keberadaan dan peredaran kaset pita mulai tergeser oleh compact disc (CD), Kebanyakan dari para musisi pun kini merilis album mereka secara digital dengan media CD. Meski masih ada sebagian kecil yang merilis format kaset pita. Dan masih ada pula segelintir orang yang mengoleksi rilisan-rilisan dalam format kaset pita tersebut.

Donlot

          Semakin berkembang teknologi, kita pun semakin mudah untuk melakukan dan mendapatkan sesuatu. Salah satunya yang akan disoroti dalam artikel ini adalah tentang download, khususnya dalam dunia musik. Demi memenuhi kebutuhan telinga yang selalu lapar akan musik, kini kita tak perlu susah payah untuk mencari dan membeli album original. Ketersediaan akses internet yang hampir dimiliki setiap orang menjadi pendukung yang utama. Kini, kita tinggal browsing, cari file yang berkaitan/diinginkan, dan langsung download. Dengan proses se-instant itu kita dapat langsung mendengarkan musik/lagu yang kita inginkan.
          Download, untuk musik/lagu khususnya, pada dasarnya terbagi dalam dua macam. Pertama, adalah link download yang disediakan sendiri oleh pihak musisi/artist yang bersangkutan. Link download seperti ini biasanya digunakan sebagai sarana untuk membagikan sample/demo dari musisi-musisi tersebut. Namun, ada pula musisi yang memang mereka tidak pernah menjual rilisan album dan dengan sukarela membagikan karya-karya mereka. Kedua, adalah murni pembajakan, yang sengaja disebarluaskan oleh pihak tertentu tanpa sepengetahuan/izin dari musisi yang bersangkutan.
          Kita tidak perlu munafik. Banyak dari kita pasti memanfaatkan kemudahan tersebut, men-download lagu/album dari sekian banyak link yang tersedia di samudera internet. Terutama untuk lagu/album mancanegara yang kita tidak tahu dimana harus membeli jika tidak ada di toko kaset/CD terdekat. Apalagi untuk rilisan lama dan langka yang memang sudah tidak beredar di pasaran. Kita tidak perlu susah-susah mencari dan merogoh kocek lebih dalam.
          Namun, lain halnya untuk rilisan lokal, terutama bagi yang berada di jalur independen. Rilisan tersebut biasanya mampu dijangkau dan mudah ditemukan. Kita bisa menjumpainya di distro atau lapak. Selain di tempat-tempat tersebut, ada juga dengan sistem online, bahkan bisa menghubungi/mengontak langsung musisi yang bersangkutan. Yak, sudah seharusnya kita memberikan support secara langsung. Membeli t-shirt band saja mampu, mengapa tidak membeli albumnya?


Local CDs

Saturday, November 3, 2012

Pengen Support Tapi Kok Mahal? (Oleh : Jr. Miko)

          Akhir-akhir ini mungkin kita sering mendengar keluhan dari teman ataupun orang yang belum kita kenal tentang harga merchandise band dan harga tiket masuk gigs yang makin mahal. Hal tersebut bisa terjadi pasti ada faktor-faktor penyebabnya. Mari kita telaah bersama faktor-faktor tersebut.
          Pertama, naiknya bahan baku produksi kaos yg makin lama makin naik. Dengan kenaikan harga bahan baku, otomatis biaya produksi yang digunakan juga akan semakin naik pula. Kedua, design yang bagus dan menarik. Jangan dikira bikin design itu mudah. Ini membutuhkan keterampilan dan memakan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan sebuah design. Ketiga, kelangsungan hidup band. Sebuah band memproduksi merchandise salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan untung (bukan komersil). Keuntungan tersebut dimanfaatkan untuk biaya latihan, bikin merchandise, rekaman, dll.
          Jadi, jangan dikira mereka membuat merchandise hanya untuk mencari keuntungan pribadi saja. Keperluan band banyak, sewa studio buat latihan, kemudian rekaman. Itupun dengan budget yang tidak sedikit tentunya. Kalau kita mensupport mereka dengan membeli merchandise-nya secara tidak langsung kita membantu kelangsungan hidup band itu. Toh uang yang kita keluarkan nantinya juga akan kita rasakan kembali setelah band tersebut rekaman, dan kita akan menikmati hasil karyanya tersebut.
          Tapi ada juga band yang menghidupi band nya dengan modal sendiri. Jangan salah sangka ketika mereka setelah merilis album dan menjual kasetnya ke umum dengan nominal tentunya. Biaya yang mereka keluarkan untuk merampungkan sebuah album tidaklah murah, jadi wajar kalau mereka menjualnya dengan nominal tertentu. Kalau kita suka terhadap karya band tersebut ya supportlah, kalau tidak suka ya tinggalkan saja. Tak usah banyak bicara ini itu.
          Lantas bagaimana jika kita ingin mensupport mereka tapi tidak mampu membeli merchandise ataupun rilisan album mereka? Mudah saja, pinjamlah kaset/CD teman kamu yang sudah beli lalu dengarkan hasil karyanya. Saat mereka main dalam suatu gigs datanglah, ikutlah sing along dan meramaikan gigs tersebut. Dengan seperti itu kita telah mensupport mereka secara langsung, dan mereka juga akan respect kepada kita.
          Permasalahan kedua muncul. Mau support band teman yang main kok harga tiket masuknya mahal? Telah kita ketahui bikin gigs itu selain ribet juga membutuhkan budget yg tidak sedikit. Budget itu digunakan untuk memberikan fee kepada band luar kota yg diundang, sewa tempat, ijin polisi, sewa alat, sewa sound, dll. Katakanlah ada gigs yang tiketnya 10ribu. Kita merasa keberatan untuk mengeluarkan uang dengan nominal itu. Tapi disisi lain ada band teman kita yang main. Kalau bukan kita yang support lalu siapa lagi yang akan mensupport mereka? Tak usah pikir panjanglah kalau mau mensupport teman sendiri. Kalau ingin disupport ya kita juga harus mensupport. Hubungan timbal balik itu selalu ada. Tak usah ragu mengeluarkan uang segitu untuk masuk ke dalam suatu gigs, kita juga akan menikmati gigs tersebut kan akhirnya.
          Ada juga gigs dengan harga tiket masuk yg lebih mahal lagi. Kalau kita gak suka acaranya, ya gak perlu memaksakan masuk. Datang saja dan berada diluar tempat acara biar bisa ketemu teman-teman yang lain. Tak perlu membicarakan harga tiketnya yang mahal. Ngapain juga kita beli tiket kalau tidak ada kepuasan setelah berada didalam gigsnya? Yang ada cuma kecewa, "Wah, wis larang gek band e ra ono sing tak senengi, ngerti ngono duite tak nggo tuku sego tempe wae malah wareg".

Industri Seks Indonesia (Oleh : Ari "Ayik" Suryanto)

          Mendengar kata  prostitusi pasti bayangan kita langsung mengartikannya kegiatan pelacuran. Ya, memang begitu adanya, tapi kenapa masalah prostitusi ini begitu menjadi masalah klasik, menjadi hal yang umum dalam kehidupan sehari-hari kita? Kadang tercetus sebuah pertanyaan tentang cara penanggulangan, solusi atas masalah pelik ini serta bagaimana masalah ini tercipta atau sebut saja sejarah terbentuknya prostitusi itu sendiri.
Setelah melalui obrolan dengan beberapa teman yang sekali lagi hanya sekedar obrolan ringan di wedangan, salah seorang teman saya beranggapan/berargumen bahwa masalah prostitusi itu adalah budaya atau hal yang diwariskan oleh leluhur. Mengapa begitu? Teman saya menerangkan, hal ini (masalah prostitusi) sudah berjalan dari jaman kerajaan (feodal). Hal itu membuat saya semakin penasaran, dan atas rasa penasaran tersebut saya memutuskan untuk mecari-cari artikel yang menjelaskan pendapat teman saya tadi. Hingga saya menemukan dala suatu blog yang menuturkan bahwa memang prostitusi telah mengakar dan menjadi budaya dalam masyarakat kita.
          Masalah prostitusi di Indonesia sejarahnya dimulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa, di mana perdagangan perempuan pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal. Dan raja pada saat itu mempunyai kekuasaan penuh. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tertentu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. Status perempuan pada masa itu adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir. Di Bali misalnya, seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga, secara otomatis menjadi milik raja. Jika raja memutuskan tidak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana, maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur.
          Dan bentuk-bentuk industri seks yang lebih terorganisasi berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda. Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Umumnya, aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di nusantara. Pemuasan seks untuk para serdadu, pedagang, dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara. Dari semula, isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. Dari satu sisi, banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia, telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia, terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Pada sisi lain, baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu. Perkawinan antar ras umumnya ditentang atau dilarang, dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Dalam hal ini, hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka.
          Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia, karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum, tidak diterima secara baik dalam masyarakat, dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. Maka sekitar tahun 1600-an, pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan “baik-baik”. Pada tahun 1650, “panti perbaikan perempuan” (house of correction for women) didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang-orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Seratus enam belas tahun kemudian, peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan “tanpa izin” menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toleransi komersialisasi seks pada saat itu. Tahun 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengan serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Meskipun istilah-istilah yang digunakan berbeda, tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai “wanita publik” menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852. Dalam peraturan tersebut, wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi waktu itu. Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphilis atau penyakit kelamin lainnya. Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin, perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrouwen) yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks, para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil. Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks, termasuk juga membingungkan pemerintah. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. Meskipun perbedaan antara pengakuan dan persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah, tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri.
          Dua dekade kemudian tanggung jawab pengawasan rumah bordil dialihkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Peraturan pemerintah tahun 1852 secara efektif dicabut digantikan dengan peraturan penguasa daerah setempat. Berkaitan dengan aktivitas industri seks ini, penyakit kelamin merupakan persoalan serius yang paling mengkhawatirkan pemerintah daerah. Tetapi terbatasnya tenaga medis dan terbatasnya alternatif cara pencegahan membuat upaya mengurangi penyebaran penyakit tersebut menjadi sia-sia.
Pengalihan tanggung jawab pengawasan rumah bordil ini menghendaki upaya tertentu agar setiap lingkungan permukiman membuat sendiri peraturan untuk mengendalikan aktivitas prostitusi setempat. Di Surabaya misalnya, pemerintah daerah menetapkan tiga daerah lokalisasi di tiga desa sebagai upaya untuk mengendalikan aktivitas pelacuran dan penyebaran penyakit kelamin. Selain itu, para pelacur dilarang beroperasi di luar lokalisasi tersebut. Semua pelacur di lokalisasi ini terdaftar dan diharuskan mengikuti pemeriksaan kesehatan secara berkala .Tahun 1875, pemerintah Batavia (kini Jakarta), mengeluarkan peraturan berkenaan dengan pemeriksaan kesehatan. Peraturan tersebut menyebutkan, antara lain bahwa para petugas kesehatan bertanggung jawab untuk memeriksa kesehatan para wanita publik. Para petugas kesehatan ini pada peringkat kerja ketiga (tidak setara dengan eselon III zaman sekarang yaitu kepala biro pada organisasi pemerintahan) mempunyai kewajiban untuk mengunjungi dan memeriksa wanita publik pada setiap hari Sabtu pagi. Sedangkan para petugas pada peringkat lebih tinggi (peringkat II) bertanggung jawab untuk mengatur wadah yang diperuntukkan bagi wanita umumnya yang sakit dan perawatan lebih lanjut. Berdasarkan laporan pada umumnya meskipun telah dikeluarkan banyak peraturan, aktivitas pelacuran tetap saja meningkat secara drastis pada abad ke-19, terutama setelah diadakannya pembenahan hukum agraria tahun 1870, di mana pada saat itu perekonomian negara jajahan terbuka bagi para penanam modal swasta. Perluasan areal perkebunan terutama di Jawa Barat, pertumbuhan industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah, pendirian perkebunan-perkebunan di Sumatera dan pembangunan jalan raya serta jalur kereta api telah merangsang terjadinya migrasi tenaga kerja laki-laki secara besar-besaran. Sebagian besar dari pekerja tersebut adalah bujangan yang akan menciptakan permintaan terhada aktivitas prostitusi. Selama pembangunan kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa seperti Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Cilacap, Yogyarakta, dan Surabaya tahun 1884, tak hanya aktivitas pelacuran yang timbul untuk melayani para pekerja bangunan di setiap kota yang dilalui kereta api, tapi juga pembangunan tempat-tempat penginapan dan fasilitas lainnya meningkat bersamaan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan konstruksi jalan kereta api. Oleh sebab itu dapat dimengerti mengapa banyak kompleks pelacuran tumbuh di sekitar stasiun kereta api hampir di setiap kota. Contohnya di Bandung, kompleks pelacuran berkembang di beberapa lokasi di sekitar stasiun kereta api termasuk Kebonjeruk, Kebontangkil, Sukamanah, dan Saritem. Di Yogyakarta , kompleks pelacuran didirikan di daerah Pasar Kembang, Balongan, dan Sosrowijayan. Di Surabaya, kawasan pelacuran pertama adalah di dekat Stasiun Semut dan di dekat pelabuhan di daerah Kremil, Tandes, dan Bangunsari. Sebagian besar dari kompleks pelacuran ini masih beroperasi sampai sekarang, meskipun peranan kereta api sebagai angkutan umum telah menurun dan keberadaan tempat-tempat penginapan atau hotel-hotel di sekitar stasiun kereta api juga telah berubah.
          Nah, dari artikel di atas kita sudah tahu akar dan sejarah bagaimana masalah prostitusi tersebut. Lantas bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi masalah prostitusiitu sendiri? Apakah dengan melegalkan industri prostistusi? Dari artikel di atas juga sebenarnya cara melegalkan industri prostitusi dengan membangunkan sebuah lokalisai, memberlakukan cek kesehatan kepada  WTS (Wanita Tuna Susila)/wanita publik/pelacur (istilah kasarnya), melakukan pendataan, pengawasan hingga membuat peraturan-peraturan yang melarang atau tidaknya membatasi industri prostitusi itu semua sudah dilakukan. Namun, toh masalah prostistusi masih berjalan.
          Ini adalah masalah mental, kesadaran, dan budaya. Masalah mental, pemerintah kita patut bertanggung jawab untuk membangun mental masyarakat dengan cara memberikan pendidikan yang layak kepada masyarakatnya agar wawasan, pengetahuan serta keterampilan yang bisa dijadikan pegangan untuk hidup. Lihat saja dunia pendidikan kita sekarang, masih banyak sekolah-sekolah yang tidak layak dijadikan tempat berlangsung belajar-mengajar. Masih banyak sekolah-sekolah yang rubuh, masih banyak juga tenaga didik yang tidak tersebar merata, belum lagi bantuan-bantuan seperti beasiswa atau BOS (Bantuan Operasi Sekolah) yang tidak tepat tujuan atau malah tidak sampai tujuan. Belum lagi ketersediaan lapangan kerja yang sangat-sangatlah berbanding terbalik dengan jumlah populasi penduduk di negeri ini. Sementara masyarakat kita belum sadar akan berwirausaha, meskipun sadar, mereka sudah pasti terbentur pada masalah modal, dll. Sangat tidaklah patut jika masalah sekompleks ini kita hanya menyalahkan pemeritah sepenuhnya. Masyarakat kita, saya, kamu, anda, dan semuanya harus sadar bahwa pelacur bukanlah predikat kerja. Dan yang terlebih penting sekarang adalah kesadaran kita akan bahaya industri prostitusi itu sendiri. Balik lagi, kesadaran dan bagaimana membentuk mental serta karakter tersebut bisa berjalan bila masyarakat kita terbekali dengan pengetahuan, wawasan, dan keterampilan yang bisa kita dapat dari pendidikan yang layak dan sehat. Lalu saya menemukan lagi artikel mengenai solusi masalah prostistusi  yang masih berkaitan dengan pendidikan. Dalam metrotv.com tepatnya di rubrik Lifestyle + / Rabu, 21 April 2010 13:39 WIB. Dalam artikel “Meredam Bibit Prostitusi” saya tertarik dengan sebuah pendapat dari Rahayu Dewi Mende, dosen Universitas Negeri Surabaya yang juga seorang aktifis yang memerangi prostitusi. Wanita yang akrab dipanggil Dewi, menerangkan, “Supaya mereka sadar sesadarsadarnya, tidak hanya sadar bersekolah, tetapi juga sadar untuk kelanjutan pendidikan. Kalau sudah punya pendidikan, mereka bisa berpikir bahwa menjadi PSK bukan suatu pekerjaan."
          Demikian sejarah sekilas bagaimana "industri" pelacuran berkembang di negara kita, tidak lepas dari peran "penjajah" negara kita dulu. Sekarang mungkin "praktek" dan jenis pelacuran semakin canggih sesuai perkembangan jaman. Tidak hanya pelacur perempuan, pelacur lelaki juga semakin marak. Yang menakutkan selain meningkatnya resiko penyebaran penyakit kelamin dan AIDS, adalah pelacuran yang dilakukan oleh anak-anak dibawah umur. Inilah yang harus segera diantisipasi oleh pemerintah.


*Dari berbagai sumber.

Smartphone for Smart People? (Oleh : Ari "Ayik" Suryanto)

          Mungkin memang sudah terlambat untuk menyampaikan hal ini, tapi memang sangat perlu hal ini untuk kita paparkan lagi. Mari kita urai masalah ini dari awal, seiring dengan pesatnya perkembangan/kemajuan teknologi yang mau tak mau ikut juga menyeret pada kemajuan aspek lainnya yang masih mempunyai benang yang saling berhubungan. Salah satunya adalah aspek tekhnologi komunikasi yang ditandai dengan semakin mudahnya menggunakan akses internet. Saking mudahnya,kita bisa mengakses internet via handphone.
          Nah, mari kita langsung ke fenomena smartphone. "Smartphone for Smart People". Benarkah? Yakin? Ciyus? Miapah? :p Quote yang benar hanya untuk segelintir orang saja menurut saya. Sekarang banyak orang memiliki berbagai merk, series, jenis, jembut dari smartphone tersebut tanpa memperhatikan segi fungsi, porsi, dan kemampuan. Mereka lebih mengedepankan gengsi. Gadget up to date sama dengan gaul, terus pamer kanan kiri. :D
          Hampir setiap orang kini sudah memegang smartphone. Gadget tersebut memang smart, bekerja layaknya komputer, memberi kemudahan bagi kita dari segi teknologi, khusunya komunikasi. Dari segi fungsi, pastinya bermanfaat bagi kita untuk mengakses apa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tentu dengan porsi yang sesuai. Apakah kalian mau menjadi orang yang gagap berkomunikasi secara langsung akibat pemberian porsi berlebih dalam penggunaan smartphone? Seringkali kita jumpai, ketika nongkrong bareng pasti ada dari pengguna smartphone yang justru sibuk dengan gadget pujaannya tersebut. Dewasa ini banyak generasi muda kita yang menjadikan produk-produk canggih tersebut sebagai kebutuhan eksistensi diri, kebutuhan palsu (false need), dan bukan karena kebutuhan sejati. Kebutuhan palsu diciptakan melalui rayuan iklan yang berbarengan dengan  rayuan gaya hidup, gaya bicara, gaya bertingkahlaku, obsesi, dan kebiasaan lainya. Jadi, point yang saya tekankan dan perlu kalian garis bawahi disini  adalah mereka (generai muda sekarang ini) membeli atau mengkonsumsi barang-barang atau gadget-gadget canggih tersebut bukan untuk memenuhi kebutuhan sejati mereka, tapi hanya untuk memenuhi kebutuhan palsu mereka saja dan hanya untuk menunjukan bahwa mereka itu gaul, up to date, modis, keren, dll. Contoh nyatanya, sesorang yang sudah punya Blekberi ingin membeli AyPhone. It’s okay jika kalian mampu, namun akan miris jadinya jika user pecandu gadget tersebut adalah orang yang masih berada dalam tanggungan orang tua. Mereka belum mampu mencukupi kebutuhan hidup sendiri tetapi sudah merengek dan memaksa orang tua mereka untuk membelikan berhala-berhala canggih tersebut. Apakah kalian termasuk di dalamnya? Jadi, apakah benar istilah "Smartphone for Smart People" itu? Silakan nilai sendiri.

Apa Kau Sudah Bangun? (Oleh : Cix Moreno)

          Terkadang saya melihat di sekitar, hidup seakan-akan adalah suatu hal yang mudah di tebak, dan seakan-akan pula banyak orang yang bisa membuat dunianya sendiri. Ada yang bilang ini modernisasi, ini era globalisasi, ini jaman modern, segala sesuatu bisa di akses, bisa dibeli, bisa didapatkan! Benarkah? Hhmm??!!! Kita memang bisa membuat dunia kita sendiri “sekedar kiasan” seperti ketika kita asik dengan telepon genggam/ipad kita, dan kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia manapun dan dimanapun kita berada dengan mudah, hanya dengan cara mengakses berita melalui media online. Memang itu terkesan suatu hal yang mengasyikan, dan suatu cara yang menunjukan bahwasanya manusia semakin pintar, “tentu bagus bukan?” Saya rasa itu wajar, karena biar bagaimanapun kita tidak bisa menolak kemudahan-kemudahan itu “bagi sebagian orang”. Tetapi terkadang saya heran, tipis sekali batasan antara maya dan nyata. Bukankah pada dasarnya itu adalah 2 hal yang sangat jauh berbeda, bahkan bisa dibilang mereka berantonim?! Bagai hitam dan putih naturalnya, tapi menjadi hal yang dipaksa kontaminasi oleh jaman dan menjadi abu-abu. Banyak pangkal problematika yang bermula dari media online. Dari hal yang paling konyol semisal adu argumen di status facebook/YM/BBM/twitter, atau saling meng-intrik lewat blogspot pribadi yang bisa di akses siapa saja. Ada yang bilang mencemarkan nama baik, ada yang bilang ini masalah harga diri! Ahh!! Watefak! Bagi saya situs jejaring sosial seperti di atas sekarang sudah sedikit alih fungsi. Siapa yang salah? Medianya? Penggunanya? Retoris jika saya harus bertanya, anda pasti tahu jawabanya. Itu dari segi permasalahan kecil, ada juga yang menjadikan jejaring sosial seperti itu sebagai ajang cari jodoh “wajar sih sebenarnya, karena itu menjadi bagian dari hidup” bahkan parahnya ada yang bisa membeli ideologi dari situ dan maraknya kasus pembajakan karya. Memang saya tidak begitu paham untuk apa jejaring sosial seperti itu dibuat, untuk benefit si owner-owner terkaitkah, atau untuk mempermudah komunikasi, atau untuk apa saya tidak tau, yang pasti alasan itu saya rasa bersimbiosis. Ada kritikus yang berpendapat bahwa media seperti itu malah memisahkan manusia dengan manusia lainya. Tidak begitu juga sih kalau menurut saya, kembali lagi bagaimana kita memberi porsi dalam setiap aktivitas hidup kita masing-masing. Jika semua bisa berjalan seimbang saya rasa itu tidak menjadi sebuah masalah besar. Tapi jika kita begitu menghamba dengan hal-hal seperti itu memang terkadang kita menjadi apatis (autis) terhadap dunia sekitar kita. Hidup yang kita jalani sebenarnya adalah kehidupan yang nyata, dan jangan mengabaikan itu! Bagi orang jaman dulu mungkin kemudahan seperti ini adalah mimpi, dan sekarang mimpi itu menjadi nyata, tapi kita malah asyik bermain di dalam mimpi kita, dan kita terkadang melupakan kehidupan kita yang sebenarnya. Jangan begitu larut dalam mimpi-mimpi seperti itu, karena sejatinya kita sudah diberi kemudahan yang lebih bisa membuat kita mengerti arti kehidupan itu sendiri. Coba buka mata kita, dunia ini luas tidak hanya seluas layar HP yang sedang anda genggam, dan semua hal yang ada di dunia ini adalah bagian dari sebuah proses.
          Saya bukan orang yang anti media atau anti apapun, hanya sekedar mencoba merespon apa yang terjadi di sekitar saya, dan ini sangat saya rasakan, apakah kau juga merasakan? Mungkin sudah, mungkin juga belum. Kenapa kau bingung? Apa kau masih larut dalam mimpi itu? Dan sekarang, apakah kau sudah bangun?

Playlist :
Efek Rumah Kaca - Kenakalan Remaja di Era Informatika
Efek Rumah Kaca - Laki-Laki Pemalu
Efek Rumah Kaca - Lagu Kesepian
Sore - Aku
Sore - Cermin
Sore - Keangkuhanku
Monopolice - Arti Kehidupan
Pure Saturday - Langit Terbuka Luas, Mengapa Tidak Pikiranku, Pikiranmu?
Melancholic Bitch - Mars Penyembah Berhala
Melancholic Bitch - Nasihat yang Baik

Thursday, August 30, 2012

Uneg-Uneg Seputar Gigs

          Gigs adalah tempat dimana bertemunya seluruh aspek dari berbagai scene/komunitas/kolektif, band, dan personal yang saling berekspresi serta berapresiasi atas karya-karya yang ada. Bukan sekedar pertunjukan musik, gigs juga menjadi ajang reuni dan silaturahmi bagi pihak-pihak yang long time no see. Di sana kita juga menemukan deretan lapak yang menyajikan berbagai macam merchandise. Pada gigs tertentu, terdapat pula pameran artwork atau semacam poster, dan sejenisnya. Dari semua varian keindahan tentang gigs tersebut, saya mencoba mengutarakan uneg-uneg, menguak kesalahan, mungkin juga kelucuan yang terjadi di gigs. Entah faktor internal maupun eksternal, saya coba kupas pada poin-poin di bawah ini.

Sok Jagoan dan Kampungan
          Ini yang biasa terjadi di sekitar kita. Hampir di setiap gigs, apapun genre musiknya, pasti ada saja adegan-adegan perkelahian, baik dalam skala kecil maupun besar. Faktor-faktor yang memicu perkelahian biasanya adalah tersenggol-nya sesorang ketika sedang ber-pogo/mosh/dance. Sebagian dari mereka lose control akibat terlalu terpengaruh minuman keras/obat-obatan. So, drink responsibly! Selain itu, ada juga yang berkelahi atas dasar menyelesaikan masalah pribadi/dendam lama dengan pihak lain di sebuah gig. Orang-orang sok jagoan dan kampungan semacam itu benar-benar salah tempat.

Band-Band yang Tidak Disiplin
          Terdapat banyak kasus tentang ketidakdisiplinan band. Antara lain, ada sebuah band yang mendapat jatah tampil di awal acara, tetapi mereka sengaja datang terlambat, mencari waktu yang enak untuk tampil. Hal ini benar-benar menghambat jalannya sebuah gig. Bukan hanya yang tampil di awal, bagi semuanya saja. Mungkin bukan menjadi suatu masalah, jika band-band di urutan rundown berikutnya sudah siap dan mampu mengisi kekosongan ini. Jika tidak, waktu akan molor, dan band-band berikutnya terancam pemotongan durasi. Bahkan ada yang sampai batal tampil karena keterbatasan waktu. Merugikan yang lain bukan?

Faktor Organizer
          Kesalahan-kesalahan tidak hanya datang dari audience dan performers. Pihak-pihak penyelenggara sebuah gig (sebut saja di sini sebagai organizer) juga punya beberapa poin-poin kesalahan. Dari hal-hal yang wajar dan mendasar, sampai yang berbau kelucuan. Pada umumnya, kesalahan yang biasa terjadi seperti kurangnya persiapan yang matang dari organizer. Sehingga banyak hal sepele yang terlupakan dan berjalan kurang maksimal. Entah itu sistem kepanitiaan dan pembagian tugas, venue, alat, sound, mungkin juga perijinan dan keamanan, sampai publikasi. Imbasnya, gigs menjadi berjalan tak sesuai dari yang diperkirakan. Di samping hal-hal tersebut, saya pernah mendengar dan melihat langsung kasus-kasus yang saya rasa lucu dari beberapa organizer gigs. Sebagai salah satu contoh, band teman saya pernah mendapat tawaran untuk berpartisipasi secara kolektif dalam sebuah gig. Okay, but that's fuckin' funny! Mengapa? Karena, katanya semakin besar dana kolektif yang diberikan, semakin besar pula ukuran logo/font band yang tertera dalam pamflet. No comment lah, cukup tertawa saja. Lalu, ada pula organizer yang terlalu profit-oriented. Sewajarnya, tidak perlu terlalu mengharapkan keuntungan finansial dari sebuah gig, toh dana yang terkumpul sebaiknya juga dikembalikan ke scene/komunitas/kolektif, demi kepentingan bersama. Atau mungkin digunakan untuk gigs berikutnya, bukan untuk konsumsi pribadi.

Aparat Rakus
          Biasanya berlaku di gigs yang menggunakan ruang-ruang publik seperti gedung pertemuan, aula, dan semacamnya. Proses pengorganisasian gigs di tempat-tempat tersebut membutuhkan perijinan sewa tempat dan keamanan. Birokrasi semcam ini harus melalui pihak yang berwajib, pada umumnya kepolisian. Di kantor polisi ketika mengurus perijinan, kita sudah diharuskan memberikan uang dengan nominal tertentu. Tetapi, mengapa ketika gigs berlangsung beberapa personil polisi yang hadir untuk mengamankan jalannya acara terkadang masih meminta uang tambahan? Yang katanya buat beli pulsa atau rokok.

          Sedikit atau banyak, pasti masih ada lagi kesalahan dan kelucuan seputar gigs yang belum tersampaikan oleh tulisan saya. Hanya sebatas uneg-uneg atas apa yang terjadi di sekitar kita, bukan bermaksud menggurui. Karena saya pribadi juga bukan manusia yang tak luput dari kesalahan. Dengan adanya poin-poin yang saya berikan di atas, saya berharap kita semua, tanpa terkecuali, mampu belajar dari kesalahan dan mengintrospeksi diri masing-masing.

Friday, August 17, 2012

Budi AKA Bubee, Seorang Artworker yang Bicara Soal Poster Gig

Siapakah Bubee?
         Siapa yang tak kenal dengan pemuda satu ini? Jika kalian berdomisili di wilayah Solo, Jogja, dan sekitarnya, pasti nama Budi alias Bubee sudah akrab di telinga. Pemuda asal Macan Mati, Simo, Boyolali yang menuntut ilmu di Institut Seni Indonesia Jogjakarta dan juga kerap menyambangi kota Solo ini memiliki hasil karya berupa artwork dan desain yang telah menghiasi berbagai logo/t-shirt/merchandise dari bermacam-macam band maupun clothing line. Ia juga menjadi flyer/poster artist di Solo Rumble Crew (SRC), salah satu scene HC/Punk di kota Solo. Dan pada suatu malam di jejaring sosial twitter, ia melalui akun pribadinya @budibubee mencurahkan beberapa buah pikirannya mengenai salah satu bidang yang ditekuninya, yaitu poster gig dengan hashtag #postergik. Saya rasa, informasi yang ia berikan sangat menarik. Karena kebetulan saya hobi mengoleksi bermacam-macam lembaran flyer/poster yang menempel penuh di dinding kamar saya. Seluruh twit darinya coba saya rangkum menjadi sebuah artikel di bawah ini, dengan sedikit editing tanpa merubah makna sekaligus maksud dari sumbernya.

Berikut Cerita dari Bubee...

          "...Poster gig adalah sebuah poster untuk sebuah acara musik, biasanya di Indonesia band-bandnya indie, teater, dan sebagainya. Awalnya, poster gig hanya untuk acara musik saja. Terus apa bedanya poster gig dengan acara musik biasa? Biasanya poster gig dibuat oleh seorang ilustrator atau tukang gambar atau apalah itu, ya kayak aku juga gapapa sih. :p Biasanya sang tukang gambar mempunyai gaya gambar (ada yang punya gaya desain juga) dengan khas mereka sendiri untuk membuat poster gig tersebut. Munculnya poster gig diperkirakan pada tahun 50-an dimana cetak plakat sedang naik daun atau sedang nge-trend. Selain munculnya cetak plakat, poster gig juga disebabkan adanya gerakan D.I.Y (Do It Yourself) yang muncul pada era itu. Beberapa artis poster gig sudah mendedikasikan hidupnya untuk membuat karya dari jaman itu. Seiring berkembangnya waktu, istilah poster gig juga dipakai untuk pertunjukan teater dan pemutaran film indie, tapi saya membahas poster gig di ranah musik saja ya. Pada era punk, poster gig identik degan gaya desain kolase atau dadaisme. Di era metal atau rock, poster gig menggunakan gaya yang surealis, dan masih diikuti sampai sekarang. Dalam sebuah scene biasanya ada (minimal) 1 orang artworker untuk membuat poster gig di setiap eranya. Beberapa nama besar pembuat poster gig yang sekarang masih terdengar di telinga, antara lain tukang gambar seperti Pushead, Raymon Pettibon, Florian, dan sebagainya. Nah, kalo ada yang selo (punya waktu luang), silakan download karya-karya poster gig dari angkatan 70-an sampai sekarang, selalu ada perkembangan gaya desain/gambar dari waktu ke waktu. Gaya gambar yang berubah-ubah tersebut selain karena perkembangan skill juga karena tren desain dan alat bantu yang maju. Meski beberapa artis poster gig masih istiqomah dengan gaya dan cara mereka, karena untuk mereka ini adalah karya mereka. Beberapa artis poster gig yang dikenal di negara masing-masing ada interview-nya di sini : crewchro.blogspot.com. Di beberapa gig di luar negeri, poster gig biasanya jadi barang merchandise lho. Di Indonesia baru belakangan ini ada yang mau mencetak poster gig sebagai merchandise, diantaranya The SIGIT. Oh iya, kenapa poster gig biasanya dijual dengan harga mahal? Karena itu karya, atau karena biasanya dicetak sabln dengan jumlah terbatas. Nah, bagaimana dengan poster gig fotokopian? Ato flyer sih tepatnya. Kalo yang format fotokopian itu masih masuk kategori poster gig lho. Poster gig fotokopian biasanya dibuat untuk acara HC/Punk atau semacamnya lah. Alasannya, gig HC/Punk biasanya bersifat D.I.Y jadi ga ada waktu buat cetak rumit, karena biasanya dadakan. Selain itu yang bermain di gig punk biasanya "kalau sempat", jadi sering ada perubahan dalam poster gig yang disebar. Eits, sebentar, poster gig fotokopian cuma buat info aja dong? Ah, gak juga. Justru karena fotokopian ada hal tersendiri yang membuat pengerjaannya asik lho, misalnya kolase. Dan dari poster gig ala punk ini kita bisa melihat venue yang asik di sebuah kota untuk mengadakan gig kecil yang bersahabat. Coba deh kalian cari poster gig acara besar, dan poster gig ala punk di sebuah kota dalam 2 tahun, ada yang beda lho. Gig besar biasanya tempatnya itu-itu saja, kalo gig kecil ada yang hilang dan ada yang baru. Justru dari poster gig fotokopian ini kita bisa tahu kekuatan scene sebuah kota. Kalo kalian ngefans sama band besar, kalian bisa lebih menghargai mereka bila tahu perjalanan karir mereka dari nol. Nah sekarang ada beberapa fungsi dari poster gig, tapi menurut saya lho. Nah, dari segi pemerhati musik, dalam poster gig bisa dilihat bagaimana perkembangan scene di sebuah kota. Ada juga yang mengoleksi poster gig karena kecintaan mereka pada sebuah band. Ada juga yang memang menganggap poster gig itu sebuah benda koleksi. Ada juga yang mengoleksi poster gig karena suka karya dari tukang gambarnya. Kalo dari sudut pandang artworker gimana mas? Bagi saya, membuat poster gig itu kesempatan membantu teman sekaligus bersenang-senang. Begitulah cerita saya, kapan-kapan update lagi..."

          Oh iya, simak juga interview bersama Bubee dari sebuah blog internasional Crewkoos Rock Poster Artists Interviews di sini : http://crewchro.blogspot.com/2011/10/budi-bubee-indonesia.html

Tuesday, July 24, 2012

Pentingnya Dokumentasi dalam Scene Lokal

          Dokumentasi adalah sebuah kegiatan mengabadikan, merekam, menulis suatu hal maupun obyek dalam sebuah peristiwa yang dianggap penting atau memiliki nilai tertentu. Hasil dokumentasi dapat berupa foto, video, berita, dan tulisan, dan sebagainya. Lepas dari penting atau tidaknya sebuah peristiwa, menurut saya pribadi dokumentasi memiliki manfaat tersendiri. Dan kali ini, saya menulis tentang pentingnya dokumentasi dalam scene lokal.
          Solo, adalah sebuah kota dimana saya dilahirkan dan tumbuh hingga sekarang ini. Kota ini memiliki banyak scene dari keberagaman kultur anak muda. Mulai dari punk, hardcore, metal, grunge, ska, reggae, indie-pop, dan sebagainya. Saya rasa, semua tetap hidup dari masa ke masa. Meskipun beberapa diantaranya pernah mengalami pasang surut, stagnasi, dan mati suri. Hidupnya scene-scene tersebut jelas tak luput dari peran penting dokumentasi. Segala bentuk dokumentasi selalu menjadi aspek utama dalam penyampain informasi dari satu orang ke orang yang lain. Scene yang hidup ditandai dengan adanya aktivitas/pergerakan di dalam maupun di luar scene tersebut, yang tentunya bermula dan diketahui melalui andil dokumentasi.
          Beberapa contoh kegiatan dokumentasi dalam scene adalah, ketika sebuah band menjalani proses recording lalu mendistribusikannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada sekitar melalui setiap kalimat yang terkandung dalam sebuah karya/lagu yang mereka ciptakan. Jika kita datang ke sebuah gig dan menjumpai beberapa orang membidik salah satu sudut menggunakan kamera, itu juga salah satu bentuk proses dokumentasi. Entah sekedar hobi, atau apalah itu, ia pasti akan menghasilkan foto atau video yang nantinya bisa disimak pula oleh orang lain. Atau ketika kita membaca tulisan mengenai review gig maupun rilisan pada sebuah zine/blog. Sebenarnya masih ada banyak lagi contoh dokumentasi. Tak hanya berupa fisik, bahkan sampai hal kecil seperti cerita dari mulut ke mulut, yang merupakan bentuk hasil dokumentasi berupa lisan.

Bidikan Kamera pada Sebuah Gig

          Apapun bentuk dokumentasi, selalu menjadi jembatan yang sangat vital untuk menuju tersampaikannya informasi. Kelak, dokumentasi-dokumentasi tersebut tak hanya berguna sebagai komposisi pokok dalam sebuah informasi dan menunjang kelangsungan hidup sebuah scene, tetapi juga mampu menjadi warisan yang manis bagi generasi-generasi berikutnya.

Friday, July 13, 2012

Muchas Gracias, Supeltas!

          Saya sebagai warga kota Solo sangat berterima kasih dengan keberadaan Supeltas. Mereka biasa memakai rompi hijau menyala, membawa peluit, dan mengatur lalu lintas, tetapi mereka bukanlah Polisi. Lalu siapakah Supeltas? Kepanjangan dari Supeltas adalah Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas. Sudah jelas apa tugas dari Supeltas, yaitu sebagai sukarelawan yang mengatur lalu lintas di beberapa ruas jalan tanpa rambu maupun lampu lalu lintas, dimana pada titik tersebut biasa terjadi kemacetan bahkan kecelakaan. Seperti yang sering dijumpai di daerah perempatan Coyudan, bundaran Baron, bundaran Purwosari, Lawang Gapit sebelah barat, dan masih banyak lagi.
Keramahan Supeltas
          Tidak bisa dipungkiri, Supeltas memang sebuah evolusi dari  Pak Ogah atau Polisi Cepek yang dibina oleh kepolisian. Tugas mereka pun juga membantu Polantas. Tetapi apa yang terjadi? Menurut saya kinerja Supeltas malah lebih nyata, lebih hebat mengalahkan para Polisi yang sebenarnya. Pihak kepolisian sudah seharusnya merasa malu. Yang saya lihat berdasarkan apa yang terjadi di sekitar, ada oknum-oknum Polantas (Polisi Lalu Lintas) yang seringkali hanya duduk manis di pos perempatan jalan raya sembari memantau jalanan untuk mencari-cari kesalahan dari para pengguna jalan, lalu secara halus memalak dengan dalih memberikan tilang. Memang, menertibkan pengguna jalan merupakan salah satu tugas mereka, sayangnya banyak oknum Polantas yang menerapkan praktek "damai di tempat", membebaskan si pengguna jalan yang kena tilang namun diharuskan membayar denda, lebih tepatnya saya sebut "uang damai" yang akhirnya masuk ke kantong Polisi itu sendiri. Berbeda dengan para Supeltas yang dengan sukarela turun berpanas-panas di jalanan hingga berpeluh. Bekerja secara ikhlas tanpa perlu meminta-minta dan hanya menerima uang sukarela sebagai tanda terima kasih dari para pengguna jalan. Mereka juga murah senyum dan rendah hati ketika mengatur lalu lintas.
          Ke depannya, saya berharap keberadaan Supeltas di kota Solo ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah atau dari pihak manapun. Syukur-syukur juga diberi penghargaan khusus atas jasa mereka sebagai sukarelawan pengatur lalu lintas. Muchas gracias, Supeltas!

Monday, May 7, 2012

Adakah Ruang Untuk Kami?

          "Adakah Ruang Untuk Kami?", adalah sebuah judul hasil jepretan karya Cahyo Daryanto S, atau lebih akrab dipanggil Ucil. Beberapa tahun ini, ia telah menekuni dunia fotografi sebagai hobi dan pekerjaan sambilannya. Dulunya, Ucil adalah drummer dari band Melodic Punk bernama Tabutea (RIP) yang sekarang para personilnya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing seperti pekerjaan. Selain sebagai fotografer dan drummer, ia pun juga mampu bermain skateboard. "Adakah Ruang Untuk Kami?", sebuah kalimat yang mewakili para skater, di kota Solo khususnya, yang mengalami krisis tempat untuk berekspresi, menyalurkan hobi, atau sekedar meluncurkan papan mereka.
          "Foto ini adalah salah satu bentuk kritik terhadap Pemkot Surakarta, yang kurang peduli terhadap anak muda di kota ini, contohnya para skater. Kurang sekali adanya pembuatan taman kota, dan tidak ada tempat khusus semacam skatepark seperti di kota-kota besar lainnya. Yang ada, tanah ataupun lahan di kota ini hanya dibangun gedung-gedung bertingkat dan dijual kepada para investor. Sehingga, jika mau bermain papan, harus menunggu tengah malam sampai jalanan sepi. Atau malah di tempat-tempat yang tidak layak, bahkan berbahaya, misalnya di atap sebuah bangunan seperti di foto tersebut.", ungkapnya ketika sedang berbincang dengan saya di kantin Mbok Jum, kampus UNS, mengenai karya fotonya.
          Dalam foto ini, menggunakan talent bernama Darwin AKA Jadah, mahasiswa jurusan Sejarah, Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS yang juga merupakan salah satu skater di kota Solo. Selain menggeluti dunia skateboard maupun fingerboard, Jadah adalah seorang gitaris sekaligus merangkap sebagai vokalis sebuah band Skate Punk asal kota Solo yang sampai saat ini masih aktif, bernama Something Suck. Berikut adalah foto-fotonya :


Thursday, May 3, 2012

Filosofi Kecoa

          Kita semua pasti tahu tentang salah satu hewan yang menjijikkan ini. Kecoa biasa kita jumpai hampir setiap hari, dimana saja kita berada. Di kamar mandi, sudut dapur, selokan, bahkan hewan ini suka nyasar dan kadang terbang memasuki kamar tempat kita tidur. Tetapi pada umumnya, kecoa hidup di tempat yang kotor, tersembunyi, dan susah dijangkau. Dengan bentuknya yang menjijikkan, kecoa mampu membuat sebagian besar orang merinding jika melihat apalagi sampai menyentuh baik sengaja ataupun tidak, bahkan ada orang yang sampai memiliki ketakutan secara berlebihan atau phobia terhadap hewan ini. Sehingga, kecoa menjadi salah satu hewan yang dijauhi dan dibenci umat manusia.
          Dari semua ciri-ciri kecoa yang mayoritas negatif tadi, saya akan mengambil sebagian kecil sisi positif dari hewan yang dibenci manusia ini. Kita semua pasti sering terganggu dengan keberadaan kecoa. Pernahkah kalian melihat hewan ini dalam posisi terbalik/terjungkal? Pasti pernah, dalam posisi seperti ini, kecoa pasti akan berusaha dengan sangat amat keras untuk kembali membalikkan tubuhnya ke posisi normal agar mampu berjalan atau terbang seperti sedia kala. Bahkan saking jijiknya, ketika hendak mengusir, kita biasanya langsung mencoba untuk membunuhnya. Apa yang kita lakukan untuk mengusir kecoa selalu berlangsung secara tragis, entah menyemprotnya dengan racun serangga atau langsung menebasnya dengan suatu benda bahkan menginjaknya hingga gepeng dan hancur.
          Berdasarkan pengamatan bodoh saya tentang berbagai macam sifat kecoa, saya langsung menghubungkan hal-hal tersebut dengan karakteristik kita sebagai umat manusia. Kecoa tidak pernah mempunyai niat untuk mengganggu manusia, mereka hanya menjalani hidup mereka sewajarnya. Begitu pula manusia, kadang kala apa saja yang kita lakukan, baik maupun buruk, sengaja maupun tidak, tanpa kita sadari mungkin ada orang lain yang tidak menyukainya, hingga mungkin membenci kita, bahkan menghancurkan kita. Masalah, beban, resiko, halangan, dan rintangan telah menjadi pendamping setia dalam kehidupan.
          Kita boleh saja dibenci, kita boleh saja down, kita boleh saja mengalami depresi, kita boleh saja terjungkal dan terhempas keras. Tetapi, apakah semua hal tersebut kita diamkan begitu saja? Tidak! Kita harus meniru apa yang dilakukan oleh kecoa ketika mereka terbalik/terjungkal, mereka selalu berusaha keras untuk mencoba bangkit kembali, meskipun memiliki resiko yang menakutkan, yaitu kematian. Jika kita hanya diam dan tak mampu berjuang, semestinya kita malu terhadap makhluk yang selama ini kita anggap menjijikkan tersebut.

Tuesday, September 14, 2010

Ironi Jejaring Sosial

          Berikut ini hanyalah beberapa omong kosong dari saya yang sedikit membahas fenomena kecil dalam dunia maya, lebih khususnya dalam pembahasan ini menjurus pada konteks jejaring sosial. Adalah sebuah ironi, ketika individu ataupun kelompok apapun dan siapapun itu memiliki tabiat, kesan sifat yang berbeda antara dunia maya dengan dunia nyata. Tidak ada yang perlu disalahkan atau dibenarkan dalam permasalahan ini.
          Begitulah, dunia maya memang seperti tempat berekspresi dan itu tidak salah, bahkan bisa dikatakan sangat benar. Juga merupakan tempat berinteraksi dan bertukar informasi. Tetapi, apakah kita sadar atas segala aktivitas yang kita lakukan di dunia maya sama dengan yang kita lakukan di dunia nyata? Entahlah, memang susah untuk menyadarinya. Secara tidak munafik, saya pun rancu untuk menjawabnya.
          Sebagai contoh mudahnya, kita bisa berkata A di dunia maya, namun belum tentu bisa kita bertindak A di dunia nyata, atau malah sangat melenceng dengan kita bertindak B, C, D, atau apalah itu. Dengan demikian, marilah kita berhati-hati dalam setiap perkataan dan tingkah laku, munculkan anggapan bahwa sebenarnya dunia maya dengan dunia nyata itu adalah sama. Sekali lagi, tidak ada yang perlu disalahkan atau dibenarkan dalam permasalahan ini. Apa salahnya menjadi lebih baik dengan sedikit introspeksi? :)