Showing posts with label Interview. Show all posts
Showing posts with label Interview. Show all posts

Monday, April 8, 2013

Tanya Jawab dengan Akatz (Bilbao, Spanyol)

          Akatz adalah band asal Bilbao, Spanyol. Salah satu dari sekian banyak pengusung musik asli pulau kecil di Kepulauan Karibia, Jamaika (Ska, Rocksteady, Reggae) yang kini sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Akatz memainkan musik yang masih berpegang erat pada akarnya, namun mereka memiliki style sendiri dalam memainkannya. Berdiri pada tahun 1992, band ini bertahan cukup lama dan sudah merasakan pahit manis dalam bermusik. Selama kurang lebih 20 tahun, Akatz baru menghasilkan 3 album. Album pertama mereka baru keluar di tahun 2004, 12 tahun setelah mereka terbentuk. Meski kurang produktif dalam hal rilisan, tetapi dalam urusan penggung ke panggung Akatz sudah pantas disejajarkan dengan musisi-musisi hebat pengusung musik Jamaika dari Eropa lainnya, bahkan dunia. Jam terbang mereka sudah tak dapat diragukan lagi. Berikut tanya jawab saya dengan Akatz. Mereka bercerita banyak hal mulai awal mereka terbentuk hingga sekarang, serta moment-moment pahit dan manis yang pernah mereka lalui selama bermusik. Selamat menyimak!

Apa arti di balik nama band kalian, Akatz?
          Ah! Soal nama ya... Kami membentuk band seperti bagaimana band-band lain memulai sebuah band. Tanpa pengetahuan musik yang bagus, musik yang dimainkan pun kacau dan tidak rapi. And error is beautiful. Kami menyukai ke-error-an tersebut, kesempurnaan bukan milik manusia, dan kami memainkan musik yang alami diciptakan oleh manusia. Dan, Akatz, atau sebenarnya tertulis Akats dalam bahasa Basque sendiri memiliki arti yaitu error. Ke-error-an kami tambah dengan sengaja mengganti huruf belakang dari S menjadi Z. Arti lainnya, Akatz juga merupakan nama dari sebuah pulau kecil di kota kelahiran kami, Bakio, Propinsi Bizkaia, Basque Country (Nama daerah otonom di Spanyol yang terdiri dari beberapa propinsi). Bicara soal pulau kecil, kami juga memainkan musik yang berasal dari sebuah pulau kecil, yaitu Jamaika.

Apa yang sedang kalian kerjakan?
          Kami baru saja menyelenggarakan konser ulang tahun kami yang ke 20 dan memilih lagu-lagu untuk album kompilasi yang bertemakan perayaan ulang tahun kami. Di konser tersebut, kami mengumpulkan musisi-musisi yang pernah berkolaborasi bersama kami, dan melibatkan pula bermacam grup yang pernah berbagi panggung bersama kami. Saya selalu tertawa jika melihat foto-foto dan video kenangan tersebut. Kami juga akan melanjutkan pengerjaan lagu-lagu yang akan menjadi bagian dari album ketiga, semoga selesai di tahun 2013 ini.

Apa influence kalian selain musik Jamaika?
          Sebenarnya, kami menyukai seluruh musik Jamaika yang berkembang sejak akhir tahun 50an seperti mento, calypso, rhythm and blues, lalu ska dan rocksteady di tahun 60 - 70an, early reggae, skinhead reggae, roots reggae, dub, juga mendengarkan dancehall di awal perkembangannya, dan rub a dub yang muncul di awal 80an. Kami telah mengikuti perkembangan dan evolusi scene musik Jamaika seperti ragga muffin, new roots, singjay. Tetapi beberapa tahun kami bermusik, musik kami lebih terkesan oldies seperti tahun 50-60an. Di luar musik Jamaika, ingatlah selalu bahwa musik adalah bagian dari perasaan yang mampu menyentuh hati. Jika sebuah musik kamu rasa bagus, mengapa tidak untuk mendengarkannya?

Seperti apakah scene musik Jamaika di Bilbao?
Akatz
          Pada tahun 80an sebagai pelajar, kami mendengarkan Kortatu, sebuah band Ska yang berbau 2 Tone. Tetapi band pertama yang kami rasa sebagai pioneer adalah Potato, dari kota Vitoria, Basque Country, memainkan musik Jamaika bersama band asal kota Vitoria lainnya yang bernama Cannabis, dan Banana Boats dari kota La Rioja. Ketika kami mulai berdiri, kembali ke tahun 1992, di Bilbao banyak band reggae bermunculan, kebanyakan dari mereka mengusung musik yang komersil. Namun, salah satu dari mereka, Basque Dub Foundation menjadi group pertama yang mengusung dub dengan sentuhan gaya British. Disusul beberapa band yang mengusung musik roots seperti kami, antara lain Ambassadors , Xuia, 12Tribu, Doctor Deslay. Memasuki era millenium, ada Ttak dan Cyprinidians dengan rude ska sounds mereka. Selama bertahun-tahun kami mempertahankan style musik kami yang sesuai dengan roots tersebut. Tetapi akhir-akhir ini sudah mulai banyak bermunculan grup-grup yang mengusung Jamaican sounds seperti kami, antara lain Chalwa Band, Bilbomatiks, Skalones, Early Reflections, Materia Gris, Luz de Putas, Tacumah, dan tentunya proyek-proyek soundsystem. Scene yang terdiri dari band-band pengusung sound-sound oldies tersebut, sebenarnya tidak begitu murni oldies, karena di sini ada kultur musik dan kelompok-kelompok yang menyukai sound yang lebih rebel, mereka memodifikasinya. Bilbao, Basque Country adalah kota dan daerah kecil, tetapi memiliki aktivitas dan pergerakan kultur yang besar. Dari sekian banyak band-band yang saya sebutkan tadi, semuanya berasal dari kota-kota kecil di negeri ini. Seperti yang kamu lihat, kami tidak memberda-bedakan mana yang mengusung sound oldies, roots, dan soundsystem. Kami berasal dari daerah kecil dan kami mengerti persatuan di antara kami yang memang sudah menjadi seperti sebuah "pasukan". Selain musik Jamaika, pada dasarnya Basque Country adalah daerah yang lebih kental dengan musik rock.

Bagaimana hubungan kalian dengan genre musik lain?
          Kami bukan orang Jamaika dan tidak sedang berada di tahun 60an. Kami adalah musisi dari Basque yang memainkan musik Jamaika. Kami menjadi bagian dari scene musik di kota kami, yaitu musik Jamaika. Meski demikian, kami bukanlah orang asing di scene genre lain, seperti musik-musik perkembangan atau yang masih berhubungan dengan musik Jamaika. Kami sudah biasa menjadi bagian dan berkolaborasi dengan mereka. Black music seperti jazz, soul, dan funk sangatlah memotivasi kami. Dan juga, rock, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Bilbao adalah kota rocker dan kami senang berhubungan dengan mereka. Kami bukanlah mods dan skinheads Inggris di tahun 70an yang bermusuhan dengan para rocker. Tetapi jika mereka mencari gara-gara, kami siap! Hahaha, bercanda, kami adalah orang yang cinta damai dan suka bekerjasama dengan siapa saja.

Moment pahit selama bermusik?
          Ketika personil kami harus berhenti/keluar adalah sebuah moment yang pahit. Karena dasar dalam bermusik, terutama pada sebuah band adalah cinta dan rasa hormat. Tetapi, kami adalah orang-orang yang pantang menyerah. Terbukti dengan album pertama kami yang berjudul 12 Años De Exitos (12 Years Of Success). Dihasilkan bersama personil kami yang tersisa dan dengan jarak waktu yang panjang pula. Saya pikir hal tersebut adalah kunci bagi kami yang merupakan sebuah grup non-professional untuk bisa bertahan sampai 20 tahun ini. Meski demikian, ada juga promotor yang masih memiliki hutang uang terhadap kami. Walaupun kami adalah orang yang cinta damai, seperti yang saya katakan kepadamu tadi, pernah ada bajingan-bajingan yang mengambil keuntungan dari kami. Hal tersebut menjadi satu-satunya penyebab kami berkelahi, secara kontak fisik, bukan hanya adu mulut.

Bagaiana menurutmu tentang perkembangan dan penyebaran musik Jamaika di dunia sekarang ini?
          Kami senang. Kami beruntung pernah bermain bersama The Skatalites, Rico Rodriguez, Desmond Dekker. Menyenangkan, menjawab interview dari Indonesia dan menerima ratusan pesan dari California, Meksiko, Kolombia. Kami juga beruntung pernah berbagi panggung bersama Tokyo Ska Paradise Orchestra, New York Ska Jazz Ensemble, Mr. T-Bone, Eastern Standard Time, David Hillyard, dan banyak band-band Eropa, Amerika, Jepang, dan juga dari Catalunya seperti Soweto dan Root Diamoons, dan tentunya dari Spanyol antara lain Upsttemians, Lone Ark, dan Transilvanians. Semuanya adalah hasil dari kemajuan dalam bidang komunikasi. Salah satu hal positif dari globalisasi.
          Banyak band bagus bermunculan. Jika mereka mengusung sound baru ke dalam scene, menurut saya itu lebih bagus, saya kurang menyukai jika band tersebut terlalu meniru band lain. Dan jika di masa depan, ada negara-negara yang merasa kami klasik/legenda dan mengundang kami di acara mereka, itu akan sangat menarik.


Akatz in Action

Apa saja hal-hal yang kalian sukai di luar bermusik?
          Setiap personil Akatz memiliki hobi dan kesukaan yang berbeda-beda. Masing-masing dari kami juga memiliki profesi dan selera yang beragam. Tapi tentu saja, kami semua memiliki kesukaan yang sama dalam bidang seni, seperti membaca, film, teater, lukis, tari. Selain itu humor, makanan, minuman, dan marijuana adalah hal-hal yang paling kami sukai. Meski tidak semua dari kami minum dan merokok. Kami juga suka olahraga, terutama sepakbola. Beberapa dari kami adalah supporter fanatik Athletic Bilbao. Olahraga surfing menjadi hal pertama yang mempersatukan kami di Bakio, desa yang memiliki pantai-pantai dengan ombaknya yang indah dan tempat pertama kali kami melakukan latihan. Olahraga lainnya yang kami sukai adalah Jai Alai (Olahraga indoor asli Basque, menggunakan semacam bet dari kayu dan bola kecil yang dipantulkan ke tembok). Kami juga suka pergi ke pegunungan dan membicarakan politik.
          Oh iya saya lupa, wanita! Apa yang bisa kami lakukan tanpa wanita? Mereka menginspirasi kami, mereka mencintai kami, dan kami juga mencintai mereka. Mereka adalah gairah bagi kami. Dan yang terakhir, kami selalu siap untuk mencari teman baru.

Adakah band atau musisi lainnya yang berasal dari kota kalian, mungkin juga teman kalian, yang recomended untuk didengarkan?
          Semua band yang sudah saya sebutkan di atas adalah band-band yang bagus. Kebanyakan dari mereka bisa kalian jumpai di Youtube. Band-band dengan sound oldies dari kota kami masih perlu melakukan improvisasi atas musikalitas mereka. Mereka yang juga merupakan teman-teman kami antara lain The Starlites, sekarang Los Tremendos Corquettes y sus Aeromozos All Stars, Lone Ark with Alpheus. Dari Spanyol saya memilih Los Granadians dan Le Grand Miercoles. Jika kalian suka funk, silakan cek The Cherry Boppers atau Priscilla band. Jika kalian suka jazz, Juan Ortiz Trio cocok untuk kalian dengarkan. Dan jika kalian lebih memilih rock, ada BC Bombs dan Sonic Trash. Mereka semua adalah teman kami, teman yang pernah bekerjasama dan saling berkolaborasi dengan kami.

Kata-kata terakhir untuk para pembaca?
          Pertama, kami mengharapkan yang terbaik untukmu. Panjang umur dan dapat melanjutkan zine ini selama bertahun-tahun ke depan. Terima kasih sudah bekerjasama dengan kami. Jika ingin menghubungi kami, silakan kontak kami di :
Like halaman Facebook kami : Akatz
Kunjungi website kami di : www.akatz.net
Kirim pesan kami melalui Email : superakatz@akatz.net
Cari video kami di Youtube dan ceritakan ke teman-temanmu. Lagu-lagu kami juga ada di iTunes dan Amazon, silakan download.
Alamat kami di : Akatz, C / Prim 28. 2 º Izq-dcha, 48006, Bilbao, Basque Country, Spain
          Kami berharap, dengan adanya orang sepertimu, musik Jamaika mampu berumur panjang di dunia. Dikarenakan adanya pesan-pesan pemberontakan, kedamaian, keadilan, cinta, rasa hormat, dan solidaritas yang kita miliki selalu dibutuhkan. Applause dari saya beserta band.

Bita, Akatz

Wednesday, December 5, 2012

Interview with Rude Rich & The High Notes (Bahasa Indonesia)

          Dibentuk pada tahun 1998, Rude Rich & The High Notes digawangi muka-muka lama yang sudah aktif di scene sejak akhir dekade 70an. Band asal Amsterdam, Belanda pengusung Authentic Jamaican Music (Ska, Rocksteady, Reggae, Dub) ini sudah melanglang buana ke penjuru Eropa. Bermain di berbagai macam gigs dan festival, serta menjadi backing-band musisi Jamaika pendahulu seperti Alton Ellis, Derrick Morgan, Rico Rodriguez, Dennis Alcapone, Winston Francis, The Heptones, Ernest Ranglin, Ken Boothe, dan sebagainya. Kecintaan dan dedikasi mereka terhadap musik ini membuat mereka dihargai dan dihormati sebagai duta musik Jamaika. Berikut adalah tanya jawab yang saya lakukan bersama mereka.

Hai Rude Rich & The High Notes, salam hangat dari Indonesia. Apa yang saat ini sedang kalian kerjakan?
          Salam, saya yang menjawab pertanyaan ini adalah Ras P, pemain keyboard dan co-founder dari The High Notes. Saai ini kami sedang menjalani beberapa show di Belanda dan Jerman. Kami juga sedang membangun sebuah studio rekaman baru di Amsterdam. Serta mempersiapkan diri untuk gig-gig di awal tahun dan festival di musim panas.

Band kalian sudah berjalan kira-kira 15 tahun. Bagaimana cara mempertahankan suapaya band kalian tetap jalan?
          Ya, sudah cukup lama. Masih ada tiga personil inti yang juga merupakan personil asli, yang jelas kami sudah mengalami pergantian personil selama bertahun-tahun. Sebagian besar musisi yang terlibat bersama kami telah memainkan musik ini selama lebih dari 20 tahun dan sudah mengenal segala seluk-beluk tentang musik ini. Tetapi yang benar-benar membuat kami tetap jalan adalah kecintaan kami akan musik yang indah ini, dan juga reaksi positif dari audience di seluruh dunia.

Bagaimana rasanya menjadi backing-band dari sekian banyak musisi Jamaika pendahulu?
          Ini adalah salah satu hal terindah yang bisa terwujud bagi sebuah band (tidak peduli musik apa yang kamu mainkan) untuk tampil dan berkolaborasi dengan musisi idolanya di panggung. Bagi kami, karena musisi-musisi Jamaika tersebut berasal dari tempat lahirnya musik yang kami mainkan, mereka memiliki banyak hal yang bisa diajarkan dan dibagikan. Ini adalah sebuah kehormatan bagi kami, dan kami selalu menjaga kualitas kami sebaik-baiknya untuk dapat memainkan musik yang berasal dari Jamaika ini se-otentik mungkin. Sehingga mereka menghargai dan selalu memberi kami pujian seperti ini, "Musik kalian terdengar seperti era Studio One atau Treasure Isle."

Ceritakan tentang rilisan terbaru kalian!
          Rilisan terbaru kami adalah sebuah album tribute yang berisi kumpulan lagu-lagu dari musisi-musisi yang telah pergi mendahului kita. Kami memilih beberapa lagu yang paling kami sukai, lalu merekamnya. Album ini seperti yang telah dikatakan, adalah sebuah penghargaan kepada musisi-musisi yang warisan musiknya akan selalu menginspirasi orang di seluruh dunia.

Apa kegiatan para personil di luar band?
          Hampir semua dari kami memiliki pekerjaan tetap di luar band, untuk membayar sewa dan tagihan bulanan serta makan dan minum sehari-hari. Pada masa sekarang ini, tidak memungkinkan bagi kami untuk hidup dengan mengandalkan pendapatan dari bermusik saja. Dan di sini, di Belanda, semakin sulit dari tahun ke tahun dengan adanya hukum dan peraturan pajak yang setiap waktu diubah-ubah oleh pemerintah. Hal ini juga berpengaruh bagi band dan musisi-musisi baru serta venue-venue skala kecil, mereka sedang dalam masa sulit sekarang ini.

Kalian memainkan musik asli Jamaika seperti Ska, Rocksteady, Reggae, dan Dub. Apa pendapat kalian tentang modifikasi dari musik-musik tersebut seperti Ska-Punk/Core dan sebagainya?
          Seperti yang kamu katakan, kami memainkan musik asli Jamaika, dengan kata lain, memainkan musik seperti yang dimainkan pada masa lalu di tempat musik tersebut berasal. Kami mempertahankan keasliannya. Tetapi musik tetaplah musik, jika memang musisi merasa harus mencampuradukkan/memodifikasi musik-musik tersebut, boleh-boleh saja. Namun bagi saya pribadi, saya lebih memilih untuk membiarkan musik tersebut sebagaimana adanya, sesuai dengan akarnya.

Bagaimana dengan scene Ska/musik Jamaika di Belanda? Kapan dimulainya? Dan bagaimana keadaan scene di sana sekarang?
          Semuanya dimulai pada akhir 1970an, itulah waktu ketika band Reggae pertama kali muncul di sini. Saya sendiri mulai terlibat pada tahun 1979 bersama band Reggae yang bernama Inity. Pada tahun 80an musik ini benar-benar booming, banyak band bermunculan, dan venue yang selalu penuh merupakan hal yang biasa terjadi. Ska dan Rocksteady belum benar-benar dimainkan pada waktu itu. Keduanya adalah akar sebenarnya dan musik pendahulu yang dipandang rendah. Ketertarikan pada Ska dan Rocksteady muncul melalui adanya scene Two Tone di Inggris, yang membuat orang mempelajari lebih dalam tentang sejarah musik Reggae, tetapi belum ada band yang benar-benar bisa memainkan Ska dan Rocksteady. Sampai akhirnya, Ska dan Rocksteady mulai dimainkan di sini pada tahun 90an ketika Rude Rich & The High Notes terbentuk dan terlibat di scene. Apa yang saya lihat sekarang ini adalah perubahan dari audience yang sangat berbeda dari biasanya, banyak orang dari berbagai kalangan yang memberikan apresiasi mereka terhadap musik Jamaika sekarang ini, dan itu merupakan hal yang bagus.

Apa yang kamu tahu tentang scene Ska/musik Jamaika di Indonesia?
          Sejujurnya, kami tak tahu apa-apa tentang scene Ska/musik Jamaika di Indonesia. Kami baru mempelajarinya semenjak kamu meng-interview kami. Tetapi lagi-lagi saya tidak kaget. Musik yang berasal dari pulau kecil di Karibia yang bernama Jamaika, di sebuah ibukota kecil yang bernama Kingston, di bagian kecil dari ibukota yang bernama Trenchtown (Ghetto di wilayah barat Kingston), kini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Musik ini sekarang sudah dimainkan dimana-mana, hebat!

Ngomong-ngomong, bagaimana dengan penggunaan dan jual beli marijuana di Belanda?
          Di sini, penjualan dan pemakaian ganja tidak sepenuhnya legal. Dinyatakan ilegal jika barang tersebut dibawa masuk dan dipakai di coffeshop, tetapi bagi pihak coffeeshop diperbolehkan/legal untuk menjualnya, dalam jumlah yang terbatas. Coffeeshop tersebut juga diwajibkan membayar pajak atas ganja yang mereka jual. Pemerintah Belanda kini telah memperkenalkan Weedpass bagi warga Belanda di wilayah-wilayah tertentu. Mereka memberlakukan ini untuk mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke Belanda, terutama Amsterdam. Warga Amsterdam tidak senang dengan peraturan pemerintah tersebut, karena wisatawan yang datang untuk merasakan pengalaman menghisap ganja secara bebas di coffeeshop tanpa takut ditangkap tersebut memberikan pendapatan dalam jumlah besar.

Kata-kata penutup bagi para pembaca?
          Ya, bagi kalian semua pecinta musik, keep on listening to the real authentic music, keep in touch dengan kami Rude Rich & The High Notes, dan nikmati hidupmu sepenuhnya. Nuff respect and love to all.

Ras P, Rude Rich and the High Notes

PS : Kami sangat ingin mengunjungimu dan bermain di beberapa show di Indonesia. Mungkin kamu bisa membantu kami?


          Nah, itu tadi interview dengan Rude Rich & The High Notes yang dijawab oleh Ras P, keyboardist dan co-founder dari band tersebut. Banyak informasi tentang band, scene, ganja, dan sebagainya. Mereka juga mengutarakan keinginan untuk mengunjungi Indonesia. Mungkin bagi kalian yang ingin mengorganisir show bagi Rude Rich & The High Notes, dalam artian mengundang atau menampung jika barangkali mereka mengadakan tour, bisa mengontak langsung via facebook : Rude Rich and the High Notes. Dan kunjungi website mereka di : www.ruderich.nl

Interview with Rude Rich & The High Notes (Netherlands)

          Dibentuk pada tahun 1998, Rude Rich & The High Notes digawangi muka-muka lama yang sudah aktif di scene sejak akhir dekade 70an. Band asal Amsterdam, Belanda pengusung Authentic Jamaican Music (Ska, Rocksteady, Reggae, Dub) ini sudah melanglang buana ke penjuru Eropa. Bermain di berbagai macam gigs dan festival, serta menjadi backing-band musisi Jamaika pendahulu seperti Alton Ellis, Derrick Morgan, Rico Rodriguez, Dennis Alcapone, Winston Francis, The Heptones, Ernest Ranglin, Ken Boothe, dan sebagainya. Kecintaan dan dedikasi mereka terhadap musik ini membuat mereka dihargai dan dihormati sebagai duta musik Jamaika. Berikut adalah tanya jawab yang saya lakukan bersama mereka.

Hi Rude Rich and The High Notes, greeting from Indonesia! What are you currently doing in the band?
          Greetings, I, personally, am the keyboard player and co-founder of the High Notes.Currently we are doing some shows in the Netherlands and Germany and building a new recording studio in Amsterdam and preparing for next year's gigs and fetivals for the summer season.

It's about 15 years on, how to keep your band alive?
          Yes it has been a while. There is still a core of three original members so obviously we had some personel changes over the years. Most of the musicians that we worked with have been playing this music for more than 20 years and know every aspect of it. But what really keeps us going is the love of this wonderfull music and the possitive reactions of our audiences all over the world.

How it feels to be a backing band for many Jamaican artists?
          This is one of the greatest things that can happen to a band (whatever kind of music you play) to actually perform with your musical hero's on stage. Because these people stood at the cradle of reggae music they have so much to teach and share. It is a great honour for us and we allways put the standard real high to play their music as authentic as is possible. This they do appreciate very much and allways give us compliments like; "You guys sound just like Studio One or Treasure Isle".

Tell me about your latest release!
          Our latest release is a compilation album of artists who are sadly no longer with us. We picked out certain tunes which we liked best and recorded them. The album is what it says it is, a tribute to these wonderful artists who's musical legacy will allways inspire people all over the globe.

What's the activities of each members outside the bands?
          Most of us have a regular job besides the band to pay the rent and the monthly bills and to eat and drink. At this stage it is not possible for us to live from musical incomes alone and here in Holland it's getting harder year by year with different laws and tax regulations made up by the government every time. This is also relevant for upcomming new artist and bands and small venues, they are having a hard time now.

You play authentic Jamaican music such as ska, rocksteady, reggae, and dub. What do you think about the modification of itself like ska-punk/core, etc?
          As you say, we play authentic, in other words, the real stuff as it was played at the time it was originated. We are purists so to speak. But music is music and if artists feel like they have to mix it all up, that's fine with me, but speaking for myself, I prevere to keep things as they are, stick with the roots of things.

How about the ska/Jamaican music scene in Netherlands? When it's started? And how's the scene today?
          It all started here in the late 1970ties that's the time when the first reggae bands emerged. I myself started in 1979 with a reggae band called "Inity". In the 80ties it was really booming, a lot of bands and sold out venues was the order of the day. Ska and Rocksteady wasn't done in those days, it was stricktly Roots and what came before that was looked down upon. Interest in Ska and Rocksteady came through the English Two Tone scene which made some people look further into the history of reggae music but there weren't any bands who could actually play the authentic Ska and Rocksteady. That all started to happen in the 90ties when Rude Rich and the High Notes hit the scene. What I see nowadays is that the make up of the audiences is very different from what it used to be, a lot of different people appreciate Jamaican music now, which is a very good thing.

What do you know about the ska/Jamaican music scene in Indonesia?
          To tell you the honest truth, we didn't know anything about that, we looked in to it because of your interview. But then again I am not surprised. This music that started in a small Island in the Carribean, called Jamaica, in a small capital city of Kingston, in a small part of that capital called Trenchtown (Ghetto of Western Kingston) has spread to the four corners of the globe. This music is now played everywhere, which is great!

By the way, how about the usage also buying-and-selling of marijuana in Netherlands?
          Here in the Netherlands it is kind of legal to sell and use herb. It's illegal though to bring it to the so called "Coffeeshops, but once in the shop it is legal to sell, up to a certain amount. These shops are also entittled to pay taxes over what they sell! The Dutch government has now introduced a "Weedpass" for Dutch people, in certain parts of Holland. They did this in order to reduce the amount of tourists that come to the Netherlands and particular Amsterdam just to smoke freely. The city of Amsterdam is not happy with this for it will cost them an enormous amount of income since the majority of tourists come to the city just to do that; experience a visit to a coffeeshop and smoke some herb without being afraid of getting arrested.

Any last words for our readers?
Yes, all you music lovers, keep on listening to the real authentic music, keep in touch with Rude Rich and the High Notes and enjoy live to the fullness. Nuff respect and love to all.

Ras P, Rude Rich and the High Notes

PS : We would really love to visit you and do some shows in your beatiful country! Mabey u can help us out?


          Nah, itu tadi interview dengan Rude Rich & The High Notes yang dijawab oleh Ras P, keyboardist dan co-founder dari band tersebut. Banyak informasi tentang band, scene, ganja, dan sebagainya. Mereka juga mengutarakan keinginan untuk mengunjungi Indonesia. Mungkin bagi kalian yang ingin mengorganisir show bagi Rude Rich & The High Notes, dalam artian mengundang atau menampung jika barangkali mereka mengadakan tour, bisa mengontak langsung via facebook : Ride Rich and the High Notes. Dan kunjungi website mereka di : www.ruderich.nl

Interview with Count Kutu & The Balmers (Bahasa Indonesia)


          Count Kutu & The Balmers adalah sebuah band yang berasal dari Manila, Filipina. Mengusung musik Mento/Calypso yang merupakan akar dari musik Ska, Rocksteady, Reggae, Dub, Dancehall, dan musik-musik kulit hitam lainnya. Terbentuk pada tahun 2002 oleh nama-nama seperti Count Kutu (Ryan), Senyor Lucca (Greg), Don Ustollano (Joy), Lord Santadio (Corlasito), dan Doctor Turbo (Ompong). Namun beberapa diantara mereka sudah menikah dan tidak aktif lagi di band. Sempat mengalami masa sulit setelah ditinggal beberapa personil asli mereka, akhirnya pada tahun 2010 Count Kutu dan Senyor Lucca mendirikan kembali Count Kutu & The Balmers bersama Cardinal Jones (Jong), Lord Francis (Francis), Bob Marlou (Marlou), dan Atty Justin. Masih mengusung musik Mento/Calypso dengan ciri khas vokal sengau dan menggunakan instrumen-instrumen seperti gitar akustik, tenor banjo, marakas, catacoo, sand block, bamboo drum, dan rumba box. Jalan mereka tidaklah mulus, album-album yang mereka hasilkan tidak begitu laku. Pembelinya kebanyakan adalah wisatawan dan pejalan kaki yang melintas di tempat Count Kutu & The Balmers biasa mengamen, seperti di kawasan pantai dan sudut-sudut kota. Akhirnya, kerja keras mereka membuahkan hasil. Pada tahun 2012, album terbaru mereka dirilis dalam format vinyl 10 inch oleh Jump Up Records, sebuah label rekaman asal Chicago, Amerika Serikat. Label yang berdiri tahun 1993 ini mengawali langkah dengan merilis kompilasi-kompilasi yang memperkenalkan band-band Amerika seperti Mustard Plug, Suicide Machines, dan sebagainya. Kini, Jump Up sudah menegeluarkan ratusan rilisan dari berbagai musisi Ska, Rocksteady, Reggae, dan Calypso dari seluruh dunia, antara lain Mr. Symarip, Mr. T-Bone, Moon Invaders, Firebug, Go Jimmy Go, See Spot, Babylove & The Van Dangos, Dr. Ring Ding, dan lain-lain, termasuk Count Kutu & The Balmers. Sehingga, penjualan album terbaru dari Count Kutu & The Balmers kini sudah mampu menjangkau seluruh belahan bumi. Semakin penasaran dengan Count Kutu & The Balmers, akhirnya saya ajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Tidak terlalu panjang lebar, namun sudah cukup sebagai info tambahan dan mencakup pula segala seluk beluk band ini. Berikut adalah interview kami.

Mengapa kalian memilih nama Count Kutu & The Balmers?
          Kami hanya mengadaptasi cara musisi-musisi Mento dalam memberi nama band mereka. Sama seperti halnya kebanyakan musisi Mento Jamaika mengadopsi gaya musisi Calypso dalam memberi nama. Berikut adalah sejarah singkat dan sedikit lebih dalam tentang sejarah nama musisi Calypso. Musisi Calypso yang merupakan budak memilih nama mereka dengan meniru nama depan tuan mereka seperti Lord, King, Great, Mighty, dll. Mereka mengejek secara licik satu sama lain, terutama mengejek tuan mereka, dengan menyanyikan lagu-lagu Calypso.

Kalian biasa bermain dalam pertunjukan seperti apa?
          Kami biasa bermain di sudut-sudut jalanan dan tempat-tempat umum di sekitar Metro Manila, serta di pantai-pantai lokal sekaligus sebagai rekreasi bagi kami. Memancing kerumunan penonton dan orang-orang yang lewat supaya membeli CD kami dan menjatuhkan koin ke dalam kotak gitar banjo sebagai sumbangan atas lagu-lagu Calypso yang kami nyanyikan. Kami juga bermain secara regular di bar lokal yang berbeda-beda seperti Scarlet Café, B-Sides, Mercy’s, dan Black Bird. Serta event-event seperti festival Ska atau Reggae pada waktu tertentu.

Bagaimana kalian bisa menjalin hubungan kerjasama dengan Jump Up Records?
          Teman kami yang bernama Hil (seorang organizer gig lokal) mengirimkan video-video band yang berbeda-beda termasuk video kami, Count Kutu & The Balmers di halaman facebook Jump Up Records. Barangkali Jump Up menyukai musik kami. Lalu, mereka mulai mengontak kami dan mengirimkan proposal via email. Begitulah cara kami mendapat kesepakatan kontrak dengan Jump Up Records. Terima kasih untuk Hil, dialah yang membuat seluruh kesepakatan kontrak ini terwujud, dan untuk Luv Gaerlan Nogoy atas dukungan dan bantuannya yang sangat berharga.

Ceritakan tentang album kalian yang dirilis oleh Jump Up Records tersebut!
          Album yang berjudul "Take Me" ini adalah album ke lima kami, dirilis oleh Jump Up Records dalam format vinyl 10 inch. Kami tidak mengharapkan kesuksesan yang muluk-muluk, karena target pemasaran kami adalah menjual merchandise kami dalam wilayah lokal saja. Tetapi mengejutkan bagi kami, sekarang mulai dijual ke seluruh belahan bumi semenjak bekerjasama dengan Jump Up. Terima kasih kepada Tuhan atas berkat-Nya yang diberikan kepada kami.

Kebanyakan lagu kalian ditulis menggunakan bahasa daerah kalian. Lagu-lagu kalian menceritakan tentang apa saja?
          Lagu-lagu kami bercerita tentang apa yang terjadi di sekitar, skandal, penghinaan, politik, gosip, keberanian, dan sindiran-sindiran. Yang jelas, kami mempelajari teknik-teknik yang banyak terpengaruh dari ketrampilan musisi-musisi Calypso tradisional, serta musisi Calypso lokal, Max Surban.

Bagaimana dengan scene musik di kota dan negara kalian?
          Musik Reggae dan Ska baik tradisional maupun modern merajalela di negara kami saat ini. Sebagian besar memiliki kualitas yang pantas diacungi jempol. Scene Ska, Reggae, dan Mento di Filipina memang selalu ramai. Kami sangat menikmati menjadi bagian dari scene tersebut. Selalu menyenangkan karena semuanya memberikan support secara antusias terhadap scene baik penggemar musik Jamaika maupun bukan.

Ini sebuah karir atau hanya hobi bagi kalian? Adakah proyek lain?
          Sebenarnya, Count Kutu & The Balmers adalah sebuah band side project dan hanya merupakan hobi bagi kami. Band asli kami adalah The Sneekers, sebuah band Punk Rock/Psychobilly, dan band tersebut juga masih aktif.

Banyak yang masih bingung dalam membedakan Mento dengan Calypso karena keduanya memang hampir sama. Apa perbedaan diantara keduanya?
          Perbedaan antara Calypso dengan Mento adalah sebagai berikut, yang jelas, Calypso berasal dari Trinidad & Tobago, sedangkan Mento berasal dari Jamaika. Keduanya memiliki gaya yang hampir sama pada kecerdasan lirik, mungkin karena keduanya memiliki akar yang sama, dari Afrika. Perbedaanya hanya dari suaranya, Mento memiliki sound yang unik dan eksotis, sebagai contoh, Mento biasanya menggunakan banjo sebagai lead guitar, dan dipetik dengan gaya mirip Early Reggae, atau teknik memetik yang tak terduga namun teratur. Sedangkan Calypso menggunakan gitar akustik khusus yang dipetik atau bermain lead dengan sedikit nge-jazz. Tetapi itu tidak mempengaruhi antusiasme saya terhadap Calypso, karena saya benar-benar menyukai keduanya, baik Mento maupun Calypso. Perbedaan yang lain, Mento menggunakan rumba box yang menghasilkan suara bass yang jelas dan dalam seperti jantung berdebar, sedangkan Calypso menggunakan kontra bass. Menurut saya, itu tadi adalah beberapa perbedaan antara Mento dan Calypso.

Kalimat-kalimat penutup untuk para pembaca?
          Untuk orang-orang Indonesia yang selalu memberikan support, terima kasih atas sambutan kalian yang hangat kepada band kami. Ini adalah sebuah kehormatan besar bagi kami bisa berpartisipasi dalam zine lokal kalian (Fotokopi Buram Zine). Kami sangat menghargainya. Kami berharap supaya bisa mengunjungi Indonesia suatu hari nanti. Sukses buat kalian. Terima kasih untuk semuanya.

Interview with Count Kutu & The Balmers (Philippines)


          Count Kutu & The Balmers adalah sebuah band yang berasal dari Manila, Filipina. Mengusung musik Mento/Calypso yang merupakan akar dari musik Ska, Rocksteady, Reggae, Dub, Dancehall, dan musik-musik kulit hitam lainnya. Terbentuk pada tahun 2002 oleh nama-nama seperti Count Kutu (Ryan), Senyor Lucca (Greg), Don Ustollano (Joy), Lord Santadio (Corlasito), dan Doctor Turbo (Ompong). Namun beberapa diantara mereka sudah menikah dan tidak aktif lagi di band. Sempat mengalami masa sulit setelah ditinggal beberapa personil asli mereka, akhirnya pada tahun 2010 Count Kutu dan Senyor Lucca mendirikan kembali Count Kutu & The Balmers bersama Cardinal Jones (Jong), Lord Francis (Francis), Bob Marlou (Marlou), dan Atty Justin. Masih mengusung musik Mento/Calypso dengan ciri khas vokal sengau dan menggunakan instrumen-instrumen seperti gitar akustik, tenor banjo, marakas, catacoo, sand block, bamboo drum, dan rumba box. Jalan mereka tidaklah mulus, album-album yang mereka hasilkan tidak begitu laku. Pembelinya kebanyakan adalah wisatawan dan pejalan kaki yang melintas di tempat Count Kutu & The Balmers biasa mengamen, seperti di kawasan pantai dan sudut-sudut kota. Akhirnya, kerja keras mereka membuahkan hasil. Pada tahun 2012, album terbaru mereka dirilis dalam format vinyl 10 inch oleh Jump Up Records, sebuah label rekaman asal Chicago, Amerika Serikat. Label yang berdiri tahun 1993 ini mengawali langkah dengan merilis kompilasi-kompilasi yang memperkenalkan band-band Amerika seperti Mustard Plug, Suicide Machines, dan sebagainya. Kini, Jump Up sudah menegeluarkan ratusan rilisan dari berbagai musisi Ska, Rocksteady, Reggae, dan Calypso dari seluruh dunia, antara lain Mr. Symarip, Mr. T-Bone, Moon Invaders, Firebug, Go Jimmy Go, See Spot, Babylove & The Van Dangos, Dr. Ring Ding, dan lain-lain, termasuk Count Kutu & The Balmers. Sehingga, penjualan album terbaru dari Count Kutu & The Balmers kini sudah mampu menjangkau seluruh belahan bumi. Semakin penasaran dengan Count Kutu & The Balmers, akhirnya saya ajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Tidak terlalu panjang lebar, namun sudah cukup sebagai info tambahan dan mencakup pula segala seluk beluk band ini. Berikut adalah interview kami.

Why do you choose the name "Count Kutu and The Balmers"?
          We simply adopt the mento musician's idea of naming their band. The same theory as most Jamaican mento musicians adopt the Calypsonians style of naming theirs. Here's somewhat very short and a bit deeper history of Calypsonians names. Slave Calypsonians have pick their names by mimicking their masters first names such as Lord, King, Great, Mighty just to name a few and they mock slyly each other but mostly their masters by singing calypso songs.

What kind of shows do you play?
          We used to play on the street corners and public places around Metro Manila and local beaches as our pastime, hustling the onlookers and passersby to buy our cd’s and to drop their coins into the banjo guitar box as donations by singing calypso songs. And we regularly play to our different local bars like Scarlet Café, B-Sides, Mercy’s, Black Bird and event like ska festival or reggae festival in different schedules.

You release 10 inch records from Jump up records in US. How do you get relationship with Jump Up Records?
          My friend named Hil (local gig organizer) posted different band videos including Count Kutu & The Balmers on Jump Up facebook page. Perhaps the Jump Up liked CK&TB's sound as the effect, so they start to contact us and sending proposal via email. That’s how we got the Jump Up record deal. Thanks to sir Hil, he made this whole deal happen and to Luv Gaerlan Nogoy for her valued support and assistance.

Tell me the story about your album that released by Jump Up Records!
          "Take Me" album is our fifth album that was released by Jump Up Records in vinyls. We did not expect such success would come to us because our main target-market of this business is to sell our merchandise for locals only. But to our surprise it appeared now to be selling worldwide since Jump Up's. Thanks to God for giving us these blessings.

Many of your songs are written in your mother-tongue/local language. What are your songs talking about?
          It's all about local news, scandals, insults, politics, gossips, bravado and innuendos. Of course, we have learned these technics from cunning traditional Calypsonians and our local calypsonian Max Surban.

How about the music scene in your town also your country?
          Reggae and Ska music both traditional and modern are rampant in my country nowadays. Most of them are good. Philippine Ska, Reggae, and Mento scene are always great. We really enjoy most of the scenes. It was always joyful because everyone supports the scenes with enthusiasm both Jamaican music supporters and non-supporters.

Is a career or just a hobby for you? Any other project outside the band?
          Actually, Count Kutu & The Balmers is my side project band and it is only a hobby for us. Our original band is The Sneekers - a Punk Rock/Psychobilly band and still active.

Mento is often confused with Calypso because of their similarities. What are the differences between them?
          The differences between calypso and mento is that, of course, calypso was originated in Trinidad and Tobago, and mento was originated in Jamaica. They have almost the same style of wit on their lyrics, maybe because they have the same african roots. It differs only to the sound because mento has very uniquely exotic sound like for example, mento usually used banjo as lead guitar and strummed in antediluvian reggae style or in predictably unpredictable strumming technics, while calypso used typical acostic guitars and strummed or lead in slight jazz form but it does not affect my enthusiasm in calypso because I simply like them both. Another example, mento used Rumba box that produces very distinctly deep and heart-pounding sound of bass, while calypso used upright bass. I think those are some of the differences between calypso and mento.

Any last words for our readers?
          To all Indonesian supporters thank you for your warm patronage to the band. It’s a great honor for the band to be featured of your local fanzine (Fotokopi Buram Zine). We really appreciate this stuff. We hope to see Indonesia someday. We wish you all god speed. Thanks to everyone.

Saturday, November 3, 2012

Interview with Mooca Caboel

"..We've been blessed with the power to survive, after all these years we're still alive.."


Ceritakan dulu tentang Mooca Caboel, dari awal berdiri hingga sekarang!
          Kisaran 2005, kami : Alby (Encik) - Gitar, Iman (Kece) Bass/Vocal, Nanda (Gundul) - Gitar, Wiwin - Drum. Bicara soal masalah genre musik ya tentu saja kami dari awal hingga sekarang masih memainkan genre musik punk rock. Karena memang kita lahir dari scene punk, hehehe. Dulu scene kami bernama Berondongan Punk yang sekarang menjadi Maladaptif Terror Crew. Dan selama kurun waktu lebih dari 7 tahun, banyak sekali sebenarnya hal-hal yang bisa saya muat dalam zine ini, tapi saya rasa ada yang lebih penting, hehehe. Dan rasanya bicara masalah histori, kami tidak jauh berbeda dengan band-band minor label yang lain, mulai dari show kecil acara kampung (bazar) hingga gigs underground yang menjadi wadah kreatifitas kita semua.

Line up (personil) dari awal hingga sekarang?
          Awal mula band kami digawangi oleh 4 orang dari scene yang sama, seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Dan untuk pergantian personil di mulai di awal tahun 2006, yaitu di posisi drumer awal Wiwin, dengan alasan yang tidak harus saya jelaskan di media ini, digantikan oleh Budi, Budi awalnya adalah drumer dari and melodic punk dari kota Solo juga "Kambing Hitam". Kemudian di kisaran tahun 2008, Iman atau Kece pada posisi bassis keluar dengan alasan yang tidak perlu saya sebutkan juga, dan di gantikan oleh Yusuf, vokalis "The Partner". Bertahan hingga beberapa tahun dengan formasi ini kita pikir ini adalah line up terakhir kami, tapi di akhir tahun 2011 Yusuf keluar dan posisi bassis digantikan oleh Tommy yang sampai sekarang masih aktif dengan band d-beat punk-nya "Street Army". Sedikit menambah armada kami di pertengahan 2012 ini kami memasukkan Iwan Prakoso, ex-"Something Suck" sebagai gitaris kami. Hingga sekarang line up kami adalah Alby (Encik) Vocal - Nanda (Gundul) - Gitar, Iwan - Gitar, Tommy (Tombol) - Bass, dan Budi (Capres) - Drum. Dan kami berharap ini yang terakhir.

Influence?
          Berbicara masalah influence, sebenarnya boleh dibilang kami sangat abstrak dalam memilih influence "secara musik", kami coba untuk merespon kejadian di sekitar kami,dan kami sadur ke dalam bait-bait lagu kami. Tapi untuk beberapa band yang sedikit banyak berpengaruh dalam musikalitas kami antara lain Social Distortion, Misfits, Rancid, Bad Religion, Ramones, Black Flag, Dead Kennedys, Crass, G.I.S.M, Anti-Nowhere League, Johnny Thunders & The Heartbreakers, Against Me!, Dropkick Murphys, New York Dolls, Iwan Fals, dan masih banyak sebenernya. Bisa dibilang kita semua cinta musik gitu lah, hehehe.

Diskografi?
EP Against! (2009)
V/A The Gank Is Back (2009)
Split Album with Gerbang Singa (2010)
V/A Don't Let Them Take Over (2011)
4 Way Split Maladaptif Terror Crew (2011)

Dalam waktu dekat ini Mooca Caboel akan merilis full album bukan? Ceritakan tentang album tersebut!
          Yah, benar. Sedikit review tentang album kami yang akan rilis tahun ini oleh Trapin Records, ada 12 track yang akan kami record, tepatnya di Biru Studio. Sedikit beda mungkin dengan beberapa band punk rock sejenis kami, musik kami yang akan kami kemas dalam album ini tidak bertendensi pada apapun, yang pasti lagu-lagu kami menyorot tentang apa yang ada di sekitar kami. Alam, politik, pertemanan, cinta, perdamaian, dan yang pasti tentang kebersamaan dalam koridor sebuah komunitas. Dan di album ini kami mencoba berkolaborasi dengan beberapa musisi lokal dari kota Solo sendiri. Diantaranya, Meisinta ,dia adalah seorang penyanyi classic rock yang kami paksa menyumbangkan suara merdunya dalam satu lagu yang berjudul Aku, Tuhan, dan Semesta. Kemudian ada Tedjowulan, notabenenya dia bukanlah seorang penyanyi sih, tapi gak ada salahnya ketika saya harus melibatkan dia di dalam salah satu lagu kita yang berjudul Kita Selalu Bersama, karena kita memang bukan sedang mencari/mengaudisi penyanyi sih. Dan berikutnya di dalam lagu yang berjudul Konsolidasi Harga Mati kami berkolaborasi dengan Catur, vokalis The Obstinate, sebuah band crust punk, dengan alasan kita ingin menambah sentuhan crust dalam lagu ini. Berikutnya dalam lagu Muda Penuh Ambisi kita berkolaborasi dengan Wahyu Mbelek "Sampah Pribadi", kebetulan dia adalah pencipta lagu ini. Dan masih banyak yang akan kita sajikan dalam album kita ini, tunggu saja albumnya, dan respon balik ya? 

Akan ada berapa lagu? Sedikit minta bocoran, ceritakan juga tentang satu atau beberapa lagu baru yang akan keluar dalam full album kalian!
          Pertanyaan nomer lima saya rasa sudah mewakili jawaban saya untuk pertanyaan yang ini, hehehe.

Lalu, tentang scene/komunitas/kolektif tempat kalian lahir dan tumbuh, Maladaptif Terror Crew. Apa makna dari nama Maladaptif Terror Crew itu sendiri?
          Nama ini sebenarnya bisa kalian buka atau bertanya pada kawan-kawan yang kebetulan mendalami dunia psychology. Bukan arti sebenarnya yang kami gunakan disini, ada beberapa hal yang hampir mirip dengan pribadi kawan-kawan saat itu seperti sensitif terhadap kritik, individu tidak bias merespon secara positif terhadap koreksi, juga tidak dapat mengkritisi diri sendiri, individu hanya mau berkompetisi dengan kawan yang jelas dapat dikalahkan. Ya, itu sebenarnya hanya sekedar sarkasme untuk orang-orang yang "mungkin" mengalami pribadi seperti itu, dan kami mencoba meng-counter situasi tersebut, dalam scene kami.

Maladaptif Terror Crew (MTC) adalah sebuah scene/komunitas/kolektif yang cukup aktif di kota Solo, aktivitasnya pun beragam. Tentu ada tujuannya bukan? Apa saja? Sebutkan!
          Sebenarnya jika berbicara masalah movement, kami tidak jauh berbeda dengan scene-scene yang lain. Seperti masih aktif dalam gigs "do it yourself", seperti apa gigs do it yourself (DIY)? Saya rasa tidak perlu ber-eksplanasi panjang lebar di sini. Kegiatan lain seperti Food Not Bombs (FNB) yang masih rutin kami lakukan setiap 1 bulan sekali. Tujuan? Tujuan dari aksi itu bukan semata-mata karena kami ingin berbagi atas nama "PUNK", lebih dari itu kami melakukan itu atas dasar kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama. Aksi yang lain yang pernah kami lakukan antara lain, aksi penghormatan pejalan kaki, dengan turun ke jalan dan memberikan himbauan terhadap para pengendara motor untuk lebih taat terhadap pejalan kaki. Berikutnya aksi reboisasi atau yang kami sebut dengan "green vacation", aksi penanaman pohon di daerah yang bisa di bilang sangat membutuhkan reboisasi itu sendiri. Dari mana dana kita untuk melakukan aksi itu? Tidak ada sama sekali campur tangan sponsor/media dalam setiap aksi kami, semua murni kita kumpulkan dari dana kolektif kita bersama baik dari kawan-kawan MTC atau semua volunteer yang terlibat dalam aksi-aksi kami.

Pendapat tentang pandangan negatif terhadap punk?
          Haha, itu masalah kolosal! Saya rasa stigma yang dibikin orang terhadap punk itu, sudah ada ketika kita mengenal adat istiadat di kota yang saya tempati saat ini, mungkin juga di kota lain. Punk negatif, mabuk-mabukan, radikal, gembel, atau apalah judgement orang terhadap punk, saya sedikit apatis masalah itu. Kita tidak bisa mendikte orang untuk merubah citra dan stigma orang terhadap punk itu sendiri. Sekarang jika kita selalu berfikir bahwasanya semua hal yang luarnya negatif pasti dalamnya negatif, itu konyol! Menjadi pelajaran untuk kedua pelaku dalam kasus ini, masyarakat dan punkers. Orang semakin pintar untuk menilai suatu hal, jadi jika memang kita ingin membuktikan bahwasanya stigma itu salah, tunjukan dari individu kita sendiri dulu. Banyak esensi positif yang bisa kita dapatkan dari empat huruf pembangkangan itu sendiri, "P.U.N.K" Jadi, apapun judgement orang terhadap kita, tanggapi dengan positif, karena kekerasan bukan solusi untuk memecahkan sebuah masalah! berfikirlah pintar!

Pesan-pesan untuk pembaca? Oh iya, tambahkan pula kalau ada yang perlu ditambahkan, terutama informasi tentang album baru kalian!
          Untuk para pembaca, saya rasa jangan hanya sekedar mengkoleksi zine atau apapun untuk perbendaharaan pola pikir kalian. Karena parahnya itu akan bisa jadi doktrin yang salah jika kalian tidak bisa memahami esensi dari setiap bait yang kalian baca. Making zine threat again! Share ke temen-temen kalian, make friend not war! Untuk album baru kita saya rasa review di atas sudah cukup untuk mewakili seperti apa album kita yang akan rilis tahun ini. Matur suwun, making punk threat again, don't make the punk for violence! Oi!

Interview with Solo Pop Punk


          Solo Pop Punk, sebuah komunitas yang belum lama terbentuk. Menjadi sebuah wadah bagi para Po-Punkers di kota Solo pada khususnya. Kali ini adalah sebuah interview dengan salah satu member sekaligus founder Solo Pop Punk, Dimas, drummer dari Plunktone.

Kenalan dulu dim, apa dan siapakah Solo Pop Punk?
Solo Pop Punk itu suatu komunitas musik yang terdiri dari sebagian besar orang-orang Solo pecinta musik pop punk pastinya. Kami terdiri dari band maupun beberapa individu sebagai penikmat musik pop punk dan penyemangat (support) semua teman pop punk di Solo ataupun sekitarnya.

Kapan berdirinya Solo Pop Punk?
Tanggal 09 Juni 2012

Apa yang mendasari berdirinya Solo Pop Punk? Dan siapa yang memeloporinya?
Yang mendasari kita yaitu rasa kepedulian alias niat'an kita semua untuk mengembangkan dan menguatkan musik pop punk terutama di Solo dan semakin berkembang biaknya band beraliran pop punk di Solo.

Sebutkan visi dan misi dari Solo Pop Punk!
Visi dan Misi Solo Pop Punk adalah men-support apapun soal pop punk di wilayah Solo maupun sekitarnya. Seperti support karya band-band beraliran pop punk, mengembangkan karya musik dari keluarga Solo Pop Punk, memperat silaturahmi antar pecinta pop punk, saling bertukar pikiran soal pop punk, dan masih banyak lagi.

Sebutkan band-band yang sudah menjadi anggota keluarga Solo Pop Punk!
Plunktone, Hai Nama Saya Brenda, Descender, Hot Afternoon, No Perfect, After School Before Sunset, Hello Morning, Rise Team Fun, Hello Sucker Punch, Shit!!! You Awesome, After Youth, Wild Race, Nothing Memory, Roccaberry, Sunday Late Dinner, All The Kid, Having Fun, dan masih banyak lagi.

Ada persyaratan tertentu ngga nih buat masuk jadi anggota solo Pop Punk? :p
Kalau syarat khusus sebenarnya tidak ada, tapi buat teman - teman yang berminat gabung sama kita juga harus paham betul apa dasar tujuan kita & apa Solo Pop Punk itu.

Beberapa waktu lalu, Solo Pop Punk berhasil mengorganisasi sebuah gig dan aksi Food Not Bombs. Ceritakan bagaimana suka dukanya!
Kita bersyukur dan tak menyangka juga bisa mendapat hasil yang istimewa seperti itu, padahal di usia yang terbilang masih dini. Sukanya kita semua bisa menyampaikan apresiasi yang terkonsep apalagi bertema budaya. Bisa berbagi dengan sesama. Dukanya kita mengorbankan waktu, tenaga, dan materi. Tapi semuanya demi Solo Pop Punk serta Kota Solo.

Apa makna slogan "Kita Muda dan Berbudaya" di gig perdana Solo Pop Punk?
Kita Muda dan Berbudaya itu bermakna bahwa Solo Pop Punk sebagai anak-anak muda tidak hanya sekedar mengadakan event musik tapi bisa mempersembahkan musik beraliran pop punk mampu cover lagu-lagu Jawa yang sudah terkonsep dan mengenakan pakaian batik dengan maksud memantapkan tema berbudaya itu sendiri.

Kalo ngumpul-ngumpul biasanya kapan dan di mana?
Kita biasa kumpul setiap hari Jumat sekitar jam 21.00 malam di Wedangan Kijo (depan Lapangan Kota Barat).

Pesan-pesan atau salam-salam mungkin buat para pembaca?
Saya mewakili Solo Pop Punk alias saya sebagai pelopornya (kembali ke pertanyaan nomor 3). Pesan buat semua pembaca, teruslah membaca dan carilah ilmu sejauh mungkin. Karena di berani bermusik itu juga harus mempunyai amunisi banyak ilmu.

Contact Person : 085647527245 - 088806719148
Twitter : @SOLOPOPPUNK

Interview with Occupation Decay


          Kembali meng-interview band lokal, kali ini ada barisan noise/grind dari Ungaran yang berdiri sejak 2006, Occupation Decay. Dan saya berkesampatan mengajukan beberapa pertanyaan kepada sang mikroponis, Anom Baskoro AKA Bandhot.

Apa kabar? Occupation Decay lagi sibuk apa nih?
Baik-baik mas Bagas. Heheheh.

Pernah bongkar pasang personil? Atau masih solid dengan personil tetap sejak 2006?
Pernah mas. Ya karena satu dan laen hal, dan karena kurang sepaham juga. Hehhe.

Ceritakan suka duka yang pernah dialami Occupation Decay dari awal berdiri hingga sekarang!
Suka, sukanya tak terhingga hahha, dari subtansi mana aja heheh. Alcoholnya, temen-temen yang udah support kita, bikin materi baru, dan yang pasti nambah saudara mas. Duka, pas lagi bokek tapi pengen ngejam, hahaha. Dan yang paling bikin kesel, di saat perform, ada yang berantem ga jelas.

Sebutkan diskografi Occupation Decay!
2011 : First Demo "Untuk Kalian" berisi 7 lagu include intro dan outro.
2012 : "Lakukan Atau Tidak" Kompilasi. Kompilasi atas kerjasama temen-temen dari Bogor dan temen-temen dari slowXfast (Semarang Fastcore).
2012 : Illegal Split "Sounds of Blast". Occupation Decay VS Genocide (Jogja).

Bisa diceritakan tentang arti logo anti-music/anti-sound?
Hampir seluruh band-band noise pasti pakai lambang itu. Untuk saya pribadi, yaitu perlawanan ke major label. Di major label sendiri kita dituntut untuk memenuhi selera pasar (bukankah itu pembunuhan karakter namanya). Sedangkan apa yang mayoritas orang suka, kami belum tentu suka, heheh. Ya intinya, Raw! Heehehe. Tapi itu buat saya mas, ga tau kalau pemikiran orang lain, hehehe.

Anda satu-satunya skinhead di band ini. Dan pada umumnya skinhead hanya memainkan musik Jamaika (ska, rocksteady, reggae, dan semacamnya), atau Oi!/Punk Rock, dan paling banter oldschool hardcore. Bagaimana tanggapan anda tentang skinhead di sebuah band grindcore seperti anda ini?
Kenapa ada skinhead di band noise? (Dalam hal ini, saya) Skinhead, sebuah subkultur atau way of life dari kelas pekerja (yang saya kira mas bagas pasti udah tau, hehe) Jadi, skinhead bukan genre. Dan saya tetap mencintai musik-musik dari roots itu sendiri (ska, reggae, oi!, hc) Saya mengenal subkultur ini pertengahan 2007. Dan band saya sudah ada sejak 2003. Kenapa di sini saya sebut 2006? Karena itu tahun pertama OD perform (sebelumnya ga pernah niat perform, maklum bukan musisi, hehe)

Terakhir, bagaimana tanggapan anda tentang segala hal yang berbau hardcore dan metal yang sepertinya sedang nge-trend di kalangan anak muda akhir-akhir ini?
Hehehe, hc dan metal yang mulai merebak. Di sini saya melihat, dari kakak-kakak senior yang jelas ikut andil besar dalam perkembangan trend yang ada di hc dan metal. Senioritas dan doktrin artis-artis hc dan metal begitu kuat, hingga pemikiran yang berbau profit dan modus vagina sangat kental akhir2 ini. Buat kami ya senioritas ngentot!!! Berkedok membesarkan scene, tetapi ujungnya modus dan duit juga.

Tuesday, August 28, 2012

Data dan Fakta tentang Not For Child, Dedengkot Band Ska Kota Hujan

          Beberapa data dan fakta mengenai Not For Child ini sengaja dirangkum dari percakapan melalui sebuah grup radio online, Semarang Ska Fest Music Radio. Tak begitu banyak memang, namun diharap bisa memberikan informasi tambahan tentang dedengkot band ska asal kota hujan, Bogor ini. Berikut rangkuman dari tulisan Yudi Pongo, salah satu personil NFC.
NFC's Artwork
          Dulu, Not For Child (NFC) adalah salah satu grup yang terbentuk dari sebuah tongkrongan yang bernama Matahari Squad, saat ini berganti nama menjadi Matahari Rudeska Rainytown. NFC terbentuk tahun 1998, dimana saat itu musik ska sedang booming di Bogor. Sebenarnya, saya (Yudi Pongo) tahun itu belum masuk Not For Child, band saya waktu itu adalah Skinny Dolls. NFC sendiri awalnya ter-influence dari Operation Ivy. Personil awalnya adalah Tenyom dan Beny di vokal, Must di bass, Popo di drum, dan satu lagi yang megang gitar daritadi saya nyoba inget-inget tapi ga berhasil euy. NFC mengeluarkan mini album pertama pada tahun 2000. Nah, nama mini albumnya juga lupa. NFC waktu itu sempet vakum karena faktor pekerjaan, kuliah, dan jail. Lalu, waktu tahun 2004 baru deh saya (Yudi Pongo) masuk ke NFC. NFC baru mengeluarkan 3 album. Dan sekarang personil NFC adalah saya (Yudi Pongo) pada gitar sebelah kiri, Agung pada gitar sebelah kanan, Must pada bass, Tenyom pada vokal, Ikbal pada keyboard, dan Asa pada drum. Sebenernya masih banyak yang belum diketik. Misalnya tentang Drummer kedua kami, Japra Distortion, yang kami sayangi meninggal akibat kecelakaan, terjatuh dari lantai 12 sebuah hotel. Dan yang paling baru adalah, malam minggu kemarin bassist kami ditusuk oleh oknum aparat yang rese. Tolong bantu doanya ya, supaya cepat sembuh, si pelaku cepat tertangkap, dan diadili sesuai hukum yang berlaku.

*More Info :
Facebook Page : not for child
Twitter : @NFC_RAINCITYSKA

Wednesday, August 22, 2012

Interview with Chris Murray

Chris Murray at New York, 1996
          Chris Murray adalah salah satu dari sekian banyak musisi ska/rocksteady/reggae yang saya idolakan. Memulai karir di kisaran akhir tahun 80-an, mantan vokalis King Apparatus (band ini sekarang sudah bubar) tersebut kini ber-solo karir dan juga bermain dalam trio Chris Murray Combo. Ia juga pernah berkolaborasi dengan band-band seperti Firebug, sampai The Slackers. Gitar akustik, kadang bermain harmonika, serta suaranya yang khas menjadi ciri yang menonjol darinya.
          Beberapa waktu yang lalu, saya beruntung bisa berinteraksi dengannya. Berawal dari pesan yang saya kirim ke akun facebook pribadi Chris Murray, berisi ajakan untuk mengadakan sebuah interview yang akhirnya saya post di halaman blog ini. Awalnya, saya tak menyangka kalau pesan saya akan dibalas. Dan ia mengajak kontak lanjut via email. Lalu, saya kirim beberapa pertanyaan untuk Chris Murray, sekedar berisi tentang hal-hal yang saya ingin tahu. Cukup lama dan tak sabar saya menunggu balasan, tiap hari tak lupa saya membuka kotak masuk email, berharap balasan atas pertanyaan-pertanyaan saya tersebut telah dikirim. Setelah sekitar dua pekan, akhirnya dikirimlah balasan darinya. Banyak informasi yang saya dapat dari interview ini, mulai dari karir Chris Murray, scene ska di tempat ia tinggal, proyek yang sedang ia kerjakan, sampai tips membuat lagu. Chris Murray juga menyatakan keinginannya untuk bermain di Indonesia. Selamat menyimak interview saya dengan Chris Murray, semoga bermanfaat!

Who are the people or figure who inspire your musical career?
          I think the most important musical influences in my life have been my family.  My grandmother had a Hammond organ and a Leslie speaker. She would mostly play church music on her organ, and the sound of a Hammond with a Leslie speaker is something I have loved since being a very young child.
          My parents were both school teachers, but very musical. They both play piano and sang i choirs. My mother played violin and my father played guitar. When I grew up there was always music at home, and playing music has always been a natural part of my life.
          When I was a teenager I was a counselor at summer camp, and that's where I really got my earliest experiences standing on a small platform playing guitar and singing, and encouraging everyone to sing along. Really, this is exactly the same as what I do today, except that I am mostly singing songs I have written.

Why do you choose a solo career, just trio with your Combo band, and not making a full band like your previous band King Apparatus?

Chris Murray Combo
          When King Apparatus ended I had been in that band for about eight years, and it was a lot of work and responsibility making sure six people were making a living. So, when the band stopped working as a solo artist left me with a lot of freedom to do whatever I wanted to do, and whatever was right for me rather than what the band needed to do to keep working.
          Chris Murray Combo developed in a very casual way here in LA. I was performing regularly at Bluebeat Lounge as a solo act, then Ben Farrar started playing drums with me. It wasn't something we discussed, it just started to happen and has continued. A few months after Ben joined me, we asked Jef Roffredo (now in The Aggrolites) to play bass with us for one show, and he stayed with us for a year. When Jeff left to join Tiger Army for a tour, Chiquis joined the combo and has been with the group the last eight years.  Through all the time of the combo things seemed to happen on their own somewhat, and things that were working we kept doing.
          For me, Chris Murray Combo feels very much like a full band. I love other instruments, but what I love most is a good rhythm section and good vocal harmonies. Whenever we play it always feel very complete to me. Sometimes we will have a guest join us, and that's always cool, but when it's the three piece band I never find myself thinking there should be anything more. Having only three people in the group keeps it easy to organize. We all make our living fully from music, so fewer people makes that easier too.

You’ve played through the world. Someday, would you wanna play here in Indonesia? I think it would be awesome.
          I would love to play in Indonesia!!

Is there any requests from persons or event organizer who want to invite you to play in Indonesia?
          I've been talking to some people in the Indonesia ska scene on Facebook, and I know there is good interest there for me to come a perform. I think it will happen when the time is right. I am ready to come!

Where’s the place that you feel most memorable of your wold tour?
          This is a very hard question because I've been many very cool places. I love Japan and Brazil very much. I love England and Mexico. A couple of years ago I went to Australia and New Zealand, which is an especially beautiful country. I think I have never been to a place I didn't like.
          What I like most about touring, beyond sharing my music with people, is seeing how life is in different places, how it is different and how it is the same. More and more the world has become one place for me.

I thought you belong to any ska scenes, tell me the differences about it between Canada and LA!
          Because Canada and Britain are very closely connected culturally (even more when I was growing up than now), when Two Tone hit it made a big impression in Toronto, the largest English speaking city in Canada, where I grew up.
          When I first started coming to LA in 1993, the traditional ska/rock steady scene had started and I was amazed to see it, and knew it was something very special that I wanted to be part of. I had toured all around North America and never seen bands trying to re-create the original sound the way many bands were doing in LA. Even though King Apparatus was mostly playing modern ska, I had already started writing in a more roots style and the band was playing songs like Rock Steady and So Many Roads that I still play at most shows today.
          Although the authentic sound has now spread around the world, the biggest scene I know for that music has always been in LA, and that is a big part of the ska scene here still, although there truly are several ska scenes in southern California, which sometimes mix and sometimes keep separate.
          As the roots sound has spread through the ska world, it has also become a big part of the Canada ska scene, although I think the influence of Two Tone and third wave ska it still very strong there. Canada is a huge country with not so many people and big distances between major cities, so I find that in Canada people in the ska scene are more connected with the national scene because there are not so many bands as there are in some countries with bigger population. And bands playing different styles of ska play shows together much more than happens in LA.

I love the way you wrote song lyrics. Any tips for create a good lyric?
          Thanks! To me, the most important part of writing songs is to say something honest and true that I feel personally and that can relate to everyone's lives. I try to write songs that are general in theme so that people can interpret the message and how it relates to their own lives in their own personal ways.
          The best songs for me are ones that communicate a truth that anyone will feel no matter who they are or what they think about politics, no matter what their culture. Everyone loves freedom and happiness. Everyone needs love. Everyone feels joy and sadness. Everyone wants to feel hope for a better tomorrow.
          As far as actual lyric writing, I try to keep the words simple even when the ideas are more complicated. Sometimes the less that is said, the more that is said. When I'm writing a song there will come a time when a lyric and melody stick in my head, and this is when I know the song can stay in the mind of another listener.

What’s your latest musical project? Record a new album? Tell me a lil strory ‘bout it!
          For the last year Chris Murray Combo has been making our second album in a 16 track analog home studio I created last summer. Because I travel a lot and the other band members also have busy lives, it has taken a while to finish our album, but I think this has been the best way for us to work on this album, without feeling pressure of deadlines, making music that we think sounds cool and spending the time we feel is needed to get good results.
          For this album we decided to record all new original material, which has also made recording slower because we are learning the songs as we record. When we made Why So Rude we knew we didn't have much time to record so we chose songs that were working well on stage at the time that we knew we could make good versions of quickly. With the new album we have been writing bass parts after the drums have been recorded, and we figure out the vocal arrangements after the instruments are recorded.
          As well, I have become much better with operating the studio equipment. It has been a learning experience every step of the way. Once we have fully completed making this album I know we will understand how to make great tracks much more quickly than we have been doing right now.
          I'm very happy with how the album is sounding. I think we will have one more singing session this week and then all the vocals for the album will be finished!
          We've already shot two videos with a Russian film director, who is a fan. He has started to edit the videos, and I think they will be ready by the time we're ready to release out album.  The videos are going to look very cool!

Recommend me some music albums or releases that you currently listened!  Also include non-ska/other Jamaican music that you love to listen!
          Here are some Jamaican albums that I really love. If I could only listen to three albums for the rest of my life, these would be my picks!
1. The Upsetters - Super Ape
2. The Skatalites - Stretching Out
3. The Ethiopians - The Original Reggae Hitsound
          As I grew up I listened to many styles of music, but roots music has always been a favorite for me so, although mostly I listen to old Jamaican recordings these days, I still enjoy listening to old blues and folk recordings. I love the sound of a great band making music live, and older recordings have this quality much more than modern studio recordings tend to have.

Any last words for your fans in Indonesia also ska fans around the world?
          It is always exciting to me to learn about a ska scene that is very active in a place where I did not know there was a ska scene at all. In the last two or three years I have learned about the Indonesia ska scene, and it seems to be very exciting. That people in places I have never been are enjoying music I make really makes me happy, and especially to see clips of bands playing their versions of my songs to crowds who know the songs and are happy to hear them live. I am very excited to come to Indonesia to perform whenever it happens!

Hi, thanks for the interview. I hope to meet you in Indonesia one day!!

Peace,
Chris