Showing posts with label Profile. Show all posts
Showing posts with label Profile. Show all posts

Tuesday, May 7, 2013

Dance Ska For Have Fun #3, Solo Menginvasi Malang

          Gerombolan pemuda yang menamakan diri mereka Contong Kampoeng Ska kembali mengadakan gig total Ska bertajuk Dance Ska For Have Fun. Kali ini gig tersebut sudah memasuki part ketiga, dimana gig tersebut pertama kali diadakan pada tanggal 2 Oktober 2011 lalu. Contong Kampoeng Ska adalah sebuah komunitas dibentuk oleh beberapa pemuda Kota Malang yang biasa berkumpul di kawasan Jl. Mawar, Kampung Contong, Lowokwaru sebagai tempat untuk berbagi atas dasar persamaan minat dan kecintaan akan musik Ska, serta visi dan misi untuk menunjukkan kualitas band-band Ska Indonesia pada umumnya.

Perkembangan Musik Ska di Kota Malang
          Malang, kota berhawa dingin di Jawa Timur tersebut mengalami perkembangan yang cukup mencolok akan warna musik Ska-nya dalam beberapa tahun terakhir. Kembali ke tahun 2009 dimana saya untuk pertama kalinya bertandang ke Malang dalam rangka menghadiri sebuah gig yang berjudul "Ska-Core, The Devil, And More". Gig total Ska yang namanya diambil dari salah satu judul album Mighty Mighty Bosstones tersebut selain diisi band-band lokal asal Malang juga melibatkan band-band asal Surabaya, Sidoarjo, dan Solo. Waktu itu band-band Ska asal Malang masih cenderung membawakan warna musik Ska gelombang ketiga, American Ska semacam Ska-Punk dan Ska-Core. Sebut saja Mad Brothers, Spiky In Venus, Youngster City Rockers, Javanese Bugs, dll. Sedangkan untuk sekarang ini, Malang mulai melahirkan banyak band-band Ska, dan warna musiknya pun sudah beragam. Mereka mulai mencoba back to the roots, memainkan musik Ska kembali seperti akarnya di Jamaika dulu. Diantaranya Pitskankin, Skarikatur, Skarasa, Richcracker, Skakster, Veskaria, One Struggle, dll.

From Solo To Malang, Dance Ska For Have Fun #3
          Itu tadi sekilas tentang perkembangan musik Ska di Kota Malang yang saya ketahui dalam beberapa tahun ini. Kembali ke gig Dance Ska For Have Fun persembahan kawan-kawan Contong Kampoeng Ska. Setelah melalui dua episode, gig Dance Ska For Have Fun kini memasuki part ketiga. Diadakan di Paradiso Garden, Soekarno-Hatta pada hari Sabtu tanggal 4 Mei 2013. Sebelum mengambil tempat di Paradiso Garden, sebenarnya gig tersebut akan diadakan di aula bawah tanah AK Land pada tanggal 18 Mei 2013. Namun, akibat kendala birokrasi yang rumit, tempat dipindahkan dan tanggal dimajukan. Selain diisi band lokal Malang, Dance Ska For Have Fun #3 juga mendatangkan band-band luar kota seperti dari Pandaan dan Solo. Kali ini tidak tanggung-tanggung, mereka mengundang 4 band dari Solo sekaligus, yaitu The Mobster, The Suspender, Skaturnus, dan Baling-Baling Bambo. Untuk The Mobster dan Skaturnus, mereka sebelumnya pernah pula bermain di Malang beberapa kali. Sedangkan untuk The Suspender dan Baling-Baling Bambo, adalah kesempatan pertama kali bagi mereka bermain di Malang.
          Kebersamaan dan kekeluargaan yang erat di dalam scene Ska di Kota Solo mendorong kami untuk berangkat bersama-sama menuju Malang. Kami berangkat bersama kurang lebih 30 orang dengan 1 buah bus sewaan. Berisi 4 band dan kawan-kawan lain dari keluarga Rudebois Ska Foundation yang ikut serta menginvasi Malang.


Berkumpul di Tugu Kebangkitan Nasional sebelum berangkat.


Bus yang mengangkut kami menuju Malang.

          Jumat tengah malam kami berangkat dan Sabtu pagi tiba di Malang. Seperti biasa, kami transit di basecamp si tuan rumah, di kawasan Jl. Mawar, Kampung Contong, Lowokwaru. Istirahat, mandi, makan, dan tidur adalah hal-hal wajib yang harus dilakukan sebelum menuju venue. Sekitar pukul 3 sore setelah semuanya beres, kami semua menuju tempat dilangsungkannya Dance Ska For Have Fun #3 di Paradiso Garden. Sebuah cafe dengan konsep seperti taman atau halaman belakang rumah lengkap dengan gazebo-nya. Mendung sempat mengkhawatirkan kami mengingat acara berjalan di ruangan terbuka. Namun untung saja tidak turun hujan pada hari itu. Seperti belakangan ini, penonton acara Ska di Malang selalu menunjukkan antusiasme mereka dengan bagus. Hadir berbondong-bondong, membeli tiket, tak peduli usia dan jenis kelamin, mereka semua berbaur menjadi satu kesatuan di lantai dansa. Ska memang sedang naik daun di Kota Malang ini. Tak hanya ditandai dengan audience yang selalu membludag di setiap show-nya, tetapi juga dari kelahiran band-bandnya. Banyak nama-nama baru ikut meramaikan scene Ska di Malang. Venue sudah ramai sejak awal. Tak peduli apa dan bagaimana band yang mengisi, penonton selalu memberikan respon yang positif dengan memadati lantai dansa. Di luar musik, gig tersebut juga menjadi ajang reuni bagi kami dan teman-teman antar kota antar propinsi.



Lantai dansa tak pernah kosong sejak awal acara.

          Band-band tuan rumah yang tampil pada sore hari antara lain Woody Woodpecker, Veskaria, Sweet Seven Ska, One Struggle, Skarikatur, dll. Rombongan dari Solo yang pertama kali berskesempatan untuk unjuk gigi adalah Baling-Baling Bambo. Mereka naik panggung sekitar pukul 4 sore. Disusul Skaturnus ketika menjelang matahari terbenam.



Baling-Baling Bambo


Skaturnus

          Usai break maghrib dilanjutkan dengan penampilan salah satu dedengkot Ska-Punk tuan rumah, yaitu Mad Brothers. Saat langit mulai gelap, penonton lebih menggila. Bernyanyi dan berdansa bersama di mana-mana. Seakan tak ada batasan antara performers dan audience. Setelah Mad Brothers, disusul Pitskankin, Skakster, dan Bisikan Papa. Kemudian giliran pasukan dari Solo lainnya berkesempatan untuk mengisi, yaitu The Suspender dan The Mobster. Band terakhir sebagai penutup adalah Ska Rats dari Pandaan.



Mad Brothers

The Suspender

The Mobster

Suasana dalam bus seusai gig.

          Gig berakhir, semua merasa senang dan puas meski sempat ada insiden perkelahian kecil. Hasil pemasukan dari tiket semoga mampu menutup dana awal yang dikeluarkan guna sewa tempat dan perijinan yang mahal di Kota Malang. Dan terutama kerja keras semua teman-teman yang sudah membantu terlaksananya gig Dance Ska For Have Fun #3 ini berbuah hasil yang positif. Salute to you, Malang!

Words : Bagas
Pix : Aegis

Thursday, April 18, 2013

Mutualisme Filmmaker dan Street-Artist di Solo

          Dari tahun ke tahun, dimanapun tempat yang kita tinggali ini, seakan tak pernah kehabisan individu ataupun kelompok potensial dalam bidangnya. Point yang saya singgung di sini adalah tentang kultur anak muda, komunitas, dan karya-karyanya. Tak khayal hal tersebut seringkali memicu persaingan. Jegal-menjegal, saling nyinyir dan mengkritisi, terobsesi dan rasa tak mau kalah sudah biasa terjadi. Namun di sini saya tidak akan membahas persaingan tak sehat tersebut. Buat apa? Lebih baik membicarakan hal yang positif saja. Saling mendukung satu sama lain. Jika kalian memberikan dukungan secara riil kepada orang lain, otomatis kalian akan mendapatkan timbal balik yang sama.
          Seperti halnya yang dilakukan oleh seniman-seniman muda berbakat dari Kota Solo belum lama ini, mereka adalah para filmmaker dan street-artist. Tahun ini, Festival Film Solo atau yang biasa disingkat FFS memasuki gelaran ketiganya. Berawal pada tahun 2011 lalu, diprakarsai oleh beberapa pegiat sinema yang berkumpul di Solo, FFS selalu diagendakan pada bulan Mei di setiap tahunnya. Dan FFS ketiga tahun ini diadakan pada tanggal 1 sampai 5 Mei, bertempat di Teater Besar ISI Surakarta. Festival Film Solo menjadi sebuah wadah yang terbuka luas, akrab, ramah, dan sederhana untuk menampung para penonton dan pelaku perfilman nasional. Memfokuskan pada perkembangan film-film fiksi-pendek Indonesia, melalui program-program kompetisi maupun non-kompetisi dan forum. Festival Film Solo mempercayai bahwa film pendek dan komunitas film adalah salah satu penggerak utama perfilman tanah air. Menanggapi moment yang akan hadir pada bulan Mei tersebut, muncul pula sambutan, dukungan, dan ketertarikan dari beragai pihak. Tak hanya para pelaku perfilman dan penikmat film saja, tetapi juga para street-artist. Seniman yang biasa bergerak pada bidang seni rupa tersebut mengaplikasikan respon positif mereka terhadap Festival Film Solo dengan aksi pembuatan mural. Mereka berasal dari beberapa komunitas seperti Komunitas Perupa Kepatihan (Koper-K), Love Leca, ada juga yang berasal dari Klaten, dan beberapa perorangan lainnya. Mereka secara serentak melakukannya pada hari Sabtu, 13 April 2013 di beberapa titik. Diantaranya daerah Jalan Wora Wari, dekat Masjid Solikhin, Laweyan, sekitar SMA Warga, dan belakang Solo Grand Mall.






          Aksi yang mereka lakukan pada hari Sabtu tersebut menghasilkan bermacam tema dan konsep, namun di tiap mural tersebut disisipkan info dan ajakan menganai Festival Film Solo 2013. Selain menjadi ajang unjuk gigi para street-artist, tentunya mampu mempromosikan event Festival Film Solo itu sendiri. Sehingga, FFS mampu mencapai jangkauan audience yang lebih luas, tak hanya dari pelaku dan penikmat perfilman saja. Saling support lintas komunitas seperti inilah yang pantas dijadikan teladan oleh semua orang. Dukungan secara nyata, apresiasi positif, atau apapun bentuknya akan menjadikan kita hidup dalam keharmonisan. Saling menguntungkan dan tak ada yang dirugikan.

Words : Bagas
Pix : Bani

Monday, April 8, 2013

Tanya Jawab dengan Akatz (Bilbao, Spanyol)

          Akatz adalah band asal Bilbao, Spanyol. Salah satu dari sekian banyak pengusung musik asli pulau kecil di Kepulauan Karibia, Jamaika (Ska, Rocksteady, Reggae) yang kini sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Akatz memainkan musik yang masih berpegang erat pada akarnya, namun mereka memiliki style sendiri dalam memainkannya. Berdiri pada tahun 1992, band ini bertahan cukup lama dan sudah merasakan pahit manis dalam bermusik. Selama kurang lebih 20 tahun, Akatz baru menghasilkan 3 album. Album pertama mereka baru keluar di tahun 2004, 12 tahun setelah mereka terbentuk. Meski kurang produktif dalam hal rilisan, tetapi dalam urusan penggung ke panggung Akatz sudah pantas disejajarkan dengan musisi-musisi hebat pengusung musik Jamaika dari Eropa lainnya, bahkan dunia. Jam terbang mereka sudah tak dapat diragukan lagi. Berikut tanya jawab saya dengan Akatz. Mereka bercerita banyak hal mulai awal mereka terbentuk hingga sekarang, serta moment-moment pahit dan manis yang pernah mereka lalui selama bermusik. Selamat menyimak!

Apa arti di balik nama band kalian, Akatz?
          Ah! Soal nama ya... Kami membentuk band seperti bagaimana band-band lain memulai sebuah band. Tanpa pengetahuan musik yang bagus, musik yang dimainkan pun kacau dan tidak rapi. And error is beautiful. Kami menyukai ke-error-an tersebut, kesempurnaan bukan milik manusia, dan kami memainkan musik yang alami diciptakan oleh manusia. Dan, Akatz, atau sebenarnya tertulis Akats dalam bahasa Basque sendiri memiliki arti yaitu error. Ke-error-an kami tambah dengan sengaja mengganti huruf belakang dari S menjadi Z. Arti lainnya, Akatz juga merupakan nama dari sebuah pulau kecil di kota kelahiran kami, Bakio, Propinsi Bizkaia, Basque Country (Nama daerah otonom di Spanyol yang terdiri dari beberapa propinsi). Bicara soal pulau kecil, kami juga memainkan musik yang berasal dari sebuah pulau kecil, yaitu Jamaika.

Apa yang sedang kalian kerjakan?
          Kami baru saja menyelenggarakan konser ulang tahun kami yang ke 20 dan memilih lagu-lagu untuk album kompilasi yang bertemakan perayaan ulang tahun kami. Di konser tersebut, kami mengumpulkan musisi-musisi yang pernah berkolaborasi bersama kami, dan melibatkan pula bermacam grup yang pernah berbagi panggung bersama kami. Saya selalu tertawa jika melihat foto-foto dan video kenangan tersebut. Kami juga akan melanjutkan pengerjaan lagu-lagu yang akan menjadi bagian dari album ketiga, semoga selesai di tahun 2013 ini.

Apa influence kalian selain musik Jamaika?
          Sebenarnya, kami menyukai seluruh musik Jamaika yang berkembang sejak akhir tahun 50an seperti mento, calypso, rhythm and blues, lalu ska dan rocksteady di tahun 60 - 70an, early reggae, skinhead reggae, roots reggae, dub, juga mendengarkan dancehall di awal perkembangannya, dan rub a dub yang muncul di awal 80an. Kami telah mengikuti perkembangan dan evolusi scene musik Jamaika seperti ragga muffin, new roots, singjay. Tetapi beberapa tahun kami bermusik, musik kami lebih terkesan oldies seperti tahun 50-60an. Di luar musik Jamaika, ingatlah selalu bahwa musik adalah bagian dari perasaan yang mampu menyentuh hati. Jika sebuah musik kamu rasa bagus, mengapa tidak untuk mendengarkannya?

Seperti apakah scene musik Jamaika di Bilbao?
Akatz
          Pada tahun 80an sebagai pelajar, kami mendengarkan Kortatu, sebuah band Ska yang berbau 2 Tone. Tetapi band pertama yang kami rasa sebagai pioneer adalah Potato, dari kota Vitoria, Basque Country, memainkan musik Jamaika bersama band asal kota Vitoria lainnya yang bernama Cannabis, dan Banana Boats dari kota La Rioja. Ketika kami mulai berdiri, kembali ke tahun 1992, di Bilbao banyak band reggae bermunculan, kebanyakan dari mereka mengusung musik yang komersil. Namun, salah satu dari mereka, Basque Dub Foundation menjadi group pertama yang mengusung dub dengan sentuhan gaya British. Disusul beberapa band yang mengusung musik roots seperti kami, antara lain Ambassadors , Xuia, 12Tribu, Doctor Deslay. Memasuki era millenium, ada Ttak dan Cyprinidians dengan rude ska sounds mereka. Selama bertahun-tahun kami mempertahankan style musik kami yang sesuai dengan roots tersebut. Tetapi akhir-akhir ini sudah mulai banyak bermunculan grup-grup yang mengusung Jamaican sounds seperti kami, antara lain Chalwa Band, Bilbomatiks, Skalones, Early Reflections, Materia Gris, Luz de Putas, Tacumah, dan tentunya proyek-proyek soundsystem. Scene yang terdiri dari band-band pengusung sound-sound oldies tersebut, sebenarnya tidak begitu murni oldies, karena di sini ada kultur musik dan kelompok-kelompok yang menyukai sound yang lebih rebel, mereka memodifikasinya. Bilbao, Basque Country adalah kota dan daerah kecil, tetapi memiliki aktivitas dan pergerakan kultur yang besar. Dari sekian banyak band-band yang saya sebutkan tadi, semuanya berasal dari kota-kota kecil di negeri ini. Seperti yang kamu lihat, kami tidak memberda-bedakan mana yang mengusung sound oldies, roots, dan soundsystem. Kami berasal dari daerah kecil dan kami mengerti persatuan di antara kami yang memang sudah menjadi seperti sebuah "pasukan". Selain musik Jamaika, pada dasarnya Basque Country adalah daerah yang lebih kental dengan musik rock.

Bagaimana hubungan kalian dengan genre musik lain?
          Kami bukan orang Jamaika dan tidak sedang berada di tahun 60an. Kami adalah musisi dari Basque yang memainkan musik Jamaika. Kami menjadi bagian dari scene musik di kota kami, yaitu musik Jamaika. Meski demikian, kami bukanlah orang asing di scene genre lain, seperti musik-musik perkembangan atau yang masih berhubungan dengan musik Jamaika. Kami sudah biasa menjadi bagian dan berkolaborasi dengan mereka. Black music seperti jazz, soul, dan funk sangatlah memotivasi kami. Dan juga, rock, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Bilbao adalah kota rocker dan kami senang berhubungan dengan mereka. Kami bukanlah mods dan skinheads Inggris di tahun 70an yang bermusuhan dengan para rocker. Tetapi jika mereka mencari gara-gara, kami siap! Hahaha, bercanda, kami adalah orang yang cinta damai dan suka bekerjasama dengan siapa saja.

Moment pahit selama bermusik?
          Ketika personil kami harus berhenti/keluar adalah sebuah moment yang pahit. Karena dasar dalam bermusik, terutama pada sebuah band adalah cinta dan rasa hormat. Tetapi, kami adalah orang-orang yang pantang menyerah. Terbukti dengan album pertama kami yang berjudul 12 Años De Exitos (12 Years Of Success). Dihasilkan bersama personil kami yang tersisa dan dengan jarak waktu yang panjang pula. Saya pikir hal tersebut adalah kunci bagi kami yang merupakan sebuah grup non-professional untuk bisa bertahan sampai 20 tahun ini. Meski demikian, ada juga promotor yang masih memiliki hutang uang terhadap kami. Walaupun kami adalah orang yang cinta damai, seperti yang saya katakan kepadamu tadi, pernah ada bajingan-bajingan yang mengambil keuntungan dari kami. Hal tersebut menjadi satu-satunya penyebab kami berkelahi, secara kontak fisik, bukan hanya adu mulut.

Bagaiana menurutmu tentang perkembangan dan penyebaran musik Jamaika di dunia sekarang ini?
          Kami senang. Kami beruntung pernah bermain bersama The Skatalites, Rico Rodriguez, Desmond Dekker. Menyenangkan, menjawab interview dari Indonesia dan menerima ratusan pesan dari California, Meksiko, Kolombia. Kami juga beruntung pernah berbagi panggung bersama Tokyo Ska Paradise Orchestra, New York Ska Jazz Ensemble, Mr. T-Bone, Eastern Standard Time, David Hillyard, dan banyak band-band Eropa, Amerika, Jepang, dan juga dari Catalunya seperti Soweto dan Root Diamoons, dan tentunya dari Spanyol antara lain Upsttemians, Lone Ark, dan Transilvanians. Semuanya adalah hasil dari kemajuan dalam bidang komunikasi. Salah satu hal positif dari globalisasi.
          Banyak band bagus bermunculan. Jika mereka mengusung sound baru ke dalam scene, menurut saya itu lebih bagus, saya kurang menyukai jika band tersebut terlalu meniru band lain. Dan jika di masa depan, ada negara-negara yang merasa kami klasik/legenda dan mengundang kami di acara mereka, itu akan sangat menarik.


Akatz in Action

Apa saja hal-hal yang kalian sukai di luar bermusik?
          Setiap personil Akatz memiliki hobi dan kesukaan yang berbeda-beda. Masing-masing dari kami juga memiliki profesi dan selera yang beragam. Tapi tentu saja, kami semua memiliki kesukaan yang sama dalam bidang seni, seperti membaca, film, teater, lukis, tari. Selain itu humor, makanan, minuman, dan marijuana adalah hal-hal yang paling kami sukai. Meski tidak semua dari kami minum dan merokok. Kami juga suka olahraga, terutama sepakbola. Beberapa dari kami adalah supporter fanatik Athletic Bilbao. Olahraga surfing menjadi hal pertama yang mempersatukan kami di Bakio, desa yang memiliki pantai-pantai dengan ombaknya yang indah dan tempat pertama kali kami melakukan latihan. Olahraga lainnya yang kami sukai adalah Jai Alai (Olahraga indoor asli Basque, menggunakan semacam bet dari kayu dan bola kecil yang dipantulkan ke tembok). Kami juga suka pergi ke pegunungan dan membicarakan politik.
          Oh iya saya lupa, wanita! Apa yang bisa kami lakukan tanpa wanita? Mereka menginspirasi kami, mereka mencintai kami, dan kami juga mencintai mereka. Mereka adalah gairah bagi kami. Dan yang terakhir, kami selalu siap untuk mencari teman baru.

Adakah band atau musisi lainnya yang berasal dari kota kalian, mungkin juga teman kalian, yang recomended untuk didengarkan?
          Semua band yang sudah saya sebutkan di atas adalah band-band yang bagus. Kebanyakan dari mereka bisa kalian jumpai di Youtube. Band-band dengan sound oldies dari kota kami masih perlu melakukan improvisasi atas musikalitas mereka. Mereka yang juga merupakan teman-teman kami antara lain The Starlites, sekarang Los Tremendos Corquettes y sus Aeromozos All Stars, Lone Ark with Alpheus. Dari Spanyol saya memilih Los Granadians dan Le Grand Miercoles. Jika kalian suka funk, silakan cek The Cherry Boppers atau Priscilla band. Jika kalian suka jazz, Juan Ortiz Trio cocok untuk kalian dengarkan. Dan jika kalian lebih memilih rock, ada BC Bombs dan Sonic Trash. Mereka semua adalah teman kami, teman yang pernah bekerjasama dan saling berkolaborasi dengan kami.

Kata-kata terakhir untuk para pembaca?
          Pertama, kami mengharapkan yang terbaik untukmu. Panjang umur dan dapat melanjutkan zine ini selama bertahun-tahun ke depan. Terima kasih sudah bekerjasama dengan kami. Jika ingin menghubungi kami, silakan kontak kami di :
Like halaman Facebook kami : Akatz
Kunjungi website kami di : www.akatz.net
Kirim pesan kami melalui Email : superakatz@akatz.net
Cari video kami di Youtube dan ceritakan ke teman-temanmu. Lagu-lagu kami juga ada di iTunes dan Amazon, silakan download.
Alamat kami di : Akatz, C / Prim 28. 2 º Izq-dcha, 48006, Bilbao, Basque Country, Spain
          Kami berharap, dengan adanya orang sepertimu, musik Jamaika mampu berumur panjang di dunia. Dikarenakan adanya pesan-pesan pemberontakan, kedamaian, keadilan, cinta, rasa hormat, dan solidaritas yang kita miliki selalu dibutuhkan. Applause dari saya beserta band.

Bita, Akatz

Thursday, March 28, 2013

Miserable Man, The Asian Busking Tour 2012/2013 - Solo, Indonesia

Apa dan Siapakah Miserable Man?
          Seorang "pengamen" mampu berkeliling dunia. Dialah Filippo alias Peepu Maze, atau lebih dikenal dengan nama panggung Miserable Man. Seorang pria berusia 36 tahun kelahiran Vicenza, Italia yang dalam beberapa tahun terakhir ini berdomisili di Norwich, Inggris. Peepu adalah musisi serba bisa. Ska, Reggae, dan Popsteady, begitu ia menyebut musik yang ia mainkan. Berkarir sebagai one man band di Miserable Man, ia biasa mengamen di sudut-sudut kota dan tempat-tempat umum di Inggris. Bermodalkan gitar, amplifier, dan microphone,  serta mouth-brass (suara trumpet yang ia keluarkan dengan mulutnya sendiri) sambil menunggu orang-orang lewat dan menyaksikan aksinya sembari menjatuhkan koin ke dalam hardcase gitar yang ia letakkan di dekatnya. Tak lupa ia menjajakan CD lagu-lagunya yang juga ia letakkan di dalam hardcase. Lagu-lagu ciptaannya dikerjakan berdua dengan seorang kawan penabuh drum dari Italia. Sedangkan Peepu mengisi seluruh bagian lainnya mulai dari vokal, gitar, bass, keyboard, tak lupa mouth-brass yang menjadi ciri khasnya. Selain mengamen, Peepu AKA Miserable Man juga kerap mengisi acara-acara seperti pernikahan, undangan, dan di cafe-cafe. Bukan hanya musik yang ia gunakan sebagai ladang untuk menghasilkan uang, ada kalanya ia juga memasak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Bagaimana Ia Bisa Sampai di Solo, Indonesia?
          Semua berawal sejak Natal tahun 2012 lalu. Ketika seorang kawan bernama Dhimas (vokalis dari salah satu band Ska kota Solo, R Slide) sedang browsing tentang musik-musik Jamaika yang bertemakan Natal di Youtube. Ditemukanlah salah satu lagu Miserable Man yang berjudul Rocksteady Xmas. Merasa tertarik, Dhimas membuka channel Youtube yang bersangkutan, yaitu miserablemanmusic. Ditemukan lagi banyak video dari Miserable Man, mulai dari video klip, cover songs, hingga aksi-aksinya ketika mengamen. Selang beberapa hari, Dhimas menceritakan pengalaman browsing-nya tersebut kepada teman-teman termasuk saya. Langsung terbesit di benak saya, barangkali orang ini (Miserable Man) adalah perpaduan antara Chris Murray dan The Dualers, hahaha. Segera saya cari page Miserable Man di Facebook. Ketemu, dan ditemukan pula beberapa link tentang dirinya selain Youtube dan Facebook. Simak-menyimak, didapatlah info kalau Miserable Man ini ternyata sedang tour di Asia. Ia menyebutnya The Asian Busking Tour 2012/2013. Sebuah perjalanan jauh yang ditempuh seorang diri. Berangkat dari Inggris sejak akhir bulan Oktober 2012 lalu, Peepu AKA Miserable Man sudah menginjakkan kaki di beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Sebelum tour-nya tersebut, beberapa tahun lalu Peepu juga pernah mengunjungi India, bahkan Indonesia, lebih tepatnya di Bali dan Jogja. Dari seluruh perjalanannya tersebut, di Kualalumpur, Malaysia-lah ia lebih lama tinggal. Menyewa losmen, mengamen bersama para pengamen lokal, dan bermain secara regular di cafe-cafe. Selebihnya, ia hanya berjalan-jalan menikmati keberagaman yang ada di belahan bumi Asia Tenggara.


Miserable Man - The Asian Busking Tour 2012/2013

          Merasa tertarik dan berangan-angan barangkali suatu hari ia mampir ke Indonesia, iseng-iseng saya menulis di wall Facebook Miserable Man. Sekedar menanyakan, apakah ia masih dalam tour-nya di Asia. Dengan Rendah hati, ia pun membalas postingan saya, bahwa ia sedang berada di Malaysia, dan akan mengunjungi Indonesia antara bulan Februari-April 2013. Tak cukup hanya di fan-page, halaman Facebook personal Miserable Man yang bernama Peepu Maze pun langsung menambahkan saya sebagai teman. Berkenalan, sekaligu keep in touch melalui pesan. Ia berkata bahwa akan mengunjungi Indonesia, lebih tepatnya Jogja dan Bali, tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya. Mengetahui saya berasal dari kota Solo, ia pun mencantumkan Solo di daftar tempat yang akan ia kunjungi dalam rangka The Asian Busking Tour 2012/2013.

          Bulan Februari 2013, tepatnya tanggal 24, adalah hari dimana kami Rudebois Ska Foundation (sebuah scene penikmat musik Jamaika dari kota Solo) melangsungkan sebuah gig yang bertajuk Ska Duka Bersama #3. Gig tersebut menampilkan seluruh band Ska asal kota Solo dan melibatkan beberapa kawan dari luar kota seperti Salatiga, Semarang, dan Malang. Di gig itulah, kami berencana akan membawa Miserable Man bergabung. Peepu AKA Miserable Man (MM) juga sudah sepakat, namun ia masih berusaha menyesuaikan tanggal supaya tepat waktu ketika sampai di Solo. Karena pada saat itu ia masih punya jadwal manggung di Malaysia, mengurus visa, penerbangan, dan lain-lain. Belum ada kepastian, kami Rudebois Ska Foundation (RSF) belum berani mencantumkan nama Miserable Man di flyer. Hingga  kami mendapat kabar menjelang hari H, bahwa MM akan berangkat hari Minggu pagi, tepat di tanggal 24 dari Malaysia, dan akan turun di Jogja pukul 2 siang. Dari jadwal tersebut, bisa diperkirakan bahwa MM sampai di Solo sore hari. Mengingat gig Ska Duka Bersama hanya berlangsung sampai pukul 5 sore, maka kemungkinan Miserable Man ikut meramaikan gig tersebut sangatlah kecil. Akhirnya, sampai gig Ska Duka Bersama #3 selesai dan berjalan lancar, Miserable Man belum juga datang. Pasca gig Ska Duka Bersama #3, kembali saya mengontak Peepu di Facebook, ternyata ia kelelahan dan tidak bisa hadir di gig kami. Tetapi, ia akan tetap datang ke kota kami, Solo, dalam beberapa hari ke depan.

Miserable Man di Solo
          Akhirnya ia datang! Setelah 3 hari menginap di Jogja dengan menyewa losmen di Sosrowijayan, hari Rabu tanggal 27 Februari 2013 adalah hari ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di Solo. Sore hari sekitar pukul 3, Peepu yang sebelumnya sudah mencatat nomor ponsel saya, tiba-tiba menelfon ketika saya masih berada di tempat kerja. Ia mengabarkan bahwa sudah berada di Solo, turun di Stasiun Balapan setelah menumpang kereta Prameks, dan sedang berada di kafetaria sebuah hotel di dekat Stasiun Balapan, untuk sekedar minum dan memanfaatkan fasilitas wi-fi sambil menunggu saya menjemput. Sepulang kerja, saya bersiap-siap, dan bergegas menjemput Peepu sekitar pukul 7 malam dengan mengajak beberapa teman. Karena Peepu berkata, "Saya lapar." maka, tujuan selanjutnya adalah makan. Kami langsung turun di warung kare pojokan Ngapeman, kami biasa menyebutnya Ngapeman Corner (NC). Peepu yang seorang vegetarian (tidak memakan daging, tetapi masih mengkonsumsi ikan, dan dia tidak merokok) menyantap sepiring nasi kare tanpa ayam, beberapa gorengan, dan es teh. Usai makan, satu per-satu teman-teman kami datang dan mulai berkenalan dengan Peepu. Kami mengobrol satu sama lain. Bicara tentang Ska dan sub-genre-nya, Peepu mngaku lebih menyukai musik-musik asli, sesuai roots-nya, daripada musik fusion semacam Ska era 2-Tone bahkan Ska Punk/Core. Saya, dengan kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan, selalu mencoba menjadi penerjemah di antara teman-teman. Tak lupa, satu elemen utama yang mengalir dalam diri kami, bahasa universal sebagai pemersatu umat manusia, apa lagi kalau bukan musik? Dengan dua buah gitar akustik, kami mainkan hits-hits Jamaika terdahulu di citywalk tempat kami makan secara lesehan. Di tengah-tengah sesi street jamming tersebut, kami langsung berencana mengagendakan sebuah gig untuk Miserable Man, yang sebelumnya meleset dari rencana di gig Ska Duka Bersama #3.


Peepu AKA Miserable Man bersama Dhimas (Vokalis R Slide) menyantap makan malam di Ngapeman Corner. Di belakangnya, terlihat pamflet acara yang telah berlalu, Ska Duka Bersama #3 tertempel pada sebuah dinding.


Street Jam with Miserable Man

          Hujan sempat mengguyur secara tiba-tiba di lokasi kami berada malam itu. Kami pun menepi ke emperan toko. Masih mendendangkan lagu-lagu Ska/Rocksteady/Reggae untuk menjalin kebersamaan di antara kami. Dari apa yang kami lakukan malam itu, secara spontan tercipta satu lagu baru dari Miserable Man yang berjudul People Of Solo. Menceritakan tentang pengalamannya ketika menginjakkan kaki di Solo. Kata solo dalam Bahasa Italia berarti sendiri, atau alone dalam Bahasa Inggris. Meskipun Peepu berkeliling dunia sendirian, namun ia tidak merasa kesepian karena bertemu dengan orang-orang seperti kami, People Of Solo!
          Waktu sudah hampir tengah malam, saatnya bergerak dari Ngapeman. Kami mengumpulkan uang untuk membeli jamuan malam penghantar tidur, beberapa botol bir dan Ciu, minuman beralkohol khas kota Solo. Di malam pertama itu, Peepu akan menginap di kediaman Rio (The Glow), karena kondisi yang kurang memungkinkan untuk mencari penginapan, mengingat waktu sudah tengah malam. Sebelum menuju ke rumah Rio, kami semua sempat mampir di Ngarsopuro. Sebuah tempat berupa jalan, taman, dan pasar barang antik yang berlokasi tepat di depan pintu gerbang Kraton Mangkunegaran.


Di Ngarsopuro, berdiri di tepi jalan, menyantap jajanan Bakso Bakar, dan berbincang mengenai banyak hal, salah satunya adalah tentang skuter (Vespa).

          Tak lama di Ngarsopuro, kami segera bergegas menuju rumah Rio. Meletakkan barang-barang, dan segera beristirahat. Tapi, seperti yang telah direncanakan sebelumnya, sesampainya di rumah Rio kami menenggak beberapa botol dan kembali berbincang mengenai banyak hal. Antara lain, tentang bahasa, gaya hidup, sepakbola, dan tentunya musik.  Intinya, kami saling berbagi pengetahuan tentang keberagaman yang ada di dunia, khususnya dari ketiga negara. Kami dari Indonesia, dan Peepu yang berasal dari Italia dan menetap di Inggris.



Di belakang rumah Rio, duduk melingkar, berbincang, dan menikmati minuman sebelum tidur. Menurut Peepu, Ciu memiliki rasa yang hampir mirip seperti Grappa, minuman dari Italia hasil distilasi anggur.

          Keasyikan mengobrol, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, saatnya memejamkan mata. Bangun di pagi hari, saya segera pulang ke rumah, bersiap diri karena harus kembali bekerja. Teman-teman yang punya waktu luang tetap bertugas menjadi guide untuk menemani Peepu. Di siang hari, Rio, Peepu, dan teman-teman menanyakan losmen yang cocok untuk disewa. Mereka bertanya kepada Megan, tetangga sebelah Rio yang juga seorang perantau. Ia berasal dari Los Angeles, California, Amerika Serikat. Megan adalah seorang perempuan yang sedang menuntut ilmu dalam bidang kesenian di Solo sekaligus berprofesi sebagai sindhen. Ia merekomendasikan sebuah losmen yang bernama Paradiso Guesthouse. Sebuah rumah inap di daerah Kemlayan yang letaknya agak terpencil di gang sempit di tengah ramainya kota Solo. Peepu menyewa satu kamar untuk beberapa hari ke depan.

          Hari-hari kami lalui dengan seorang teman baru yang kedatangannya sangat tak terduga. Kami sangat senang dan berterima kasih, bisa mengenal orang seperti Peepu. Saya dan teman-teman secara bergiliran menemani Peepu selama kunjungannya di Solo. Menyesuaikan jadwal kami masing-masing, yang masih disibukkan dengan pekerjaan dan pendidikan. Peepu sangat senang, menurutnya kami melayani dia seperti raja. Karena kami selalu siap sedia mengantar dan menemani Peepu kapanpun dan dimanapun. Di waktu luang, kami biasa nongkrong di Pose Breakstuff Space, sebuah tempat yang menyediakan menu minuman berupa kopi dan cokelat, sekaligus fasilitas wi-fi. Koneksi internet seakan menjadi barang berharga bagi Peepu. Ia adalah seorang yang hobi menjelajah internet. Bermodalkan laptop, itulah satu-satunya alat komunikasi yang ia gunakan, karena selama tour ia tidak membawa ponsel ataupun alat komunikasi lainnya. Menuliskan tour-report, meng-upload foto-foto yang ia ambil selama tour, memberikan informasi terkini tentang Miserable Man, adalah hal-hal yang biasa ia lakukan setiap harinya. Dan juga merekam materi-materi lagu untuk proyek terbarunya yang diberi nama Afronesia. Sebuah album yang terinspirasi oleh keindahan negara-negara Asia dipadu dengan musik kulit hitam.


Ketika kami sedang berada di Pose Breakstuff Space.

          Saya dan teman-teman RSF juga akan segera merealisasikan rencana tentang gig Miserable Man di Solo. Yang akan kami beri judul Jamaican Accoustic Night with Miserable Man. Kami memberikan opsi waktu antara hari Sabtu, 2 Maret 2013 atau Minggu, 3 Maret 2013. Peepu memilih hari Sabtu, malam hari. Untuk tempat, kami memilih CS Coffee Shop, sebuah warung kopi di daerah Mendungan, Pabelan (Depan SMA Negeri 2 Sukoharjo) yang biasa digunakan untuk akustik performance, stand up comedy, dan tempat berkumpulnya berbagai kalangan. Untuk peralatan dan soundsystem, kami meminjam dari teman-teman dan menyewa dari studio dengan dana seadanya, uang sisa acara Ska Duka Bersama #3 plus dana kolektif perorangan.

          Tidak cukup jamming on the street, kami bersama Peepu juga jamming di studio. Menyewa studio dengan durasi satu jam, cukup bagi kami untuk memainkan musik-musik Jamaika. Peepu bermain gitar dan bernyanyi seperti biasanya. Tak hanya itu, ia juga bermain bass, serta mengambil foto dan video di dalam studio. Setelah dari studio, kami lanjutkan lagi street jamming sambil menenggak beberapa botol bir di kawasan Pasar Gede, dengan gemerlap lampion-lampion yang menghiasi suasana malam, karena waktu itu masih dalam suasana Imlek.


Jamming di studio bersama Miserable Man.

Jamming on the street di kawasan Pasar Gede, dengan background lampion perayaan Imlek.

Jamaican Accoustic Night with Miserable Man
          Sabtu , 2 Maret 2013, sesuai rencana adalah hari dilangsungkannya gig dari kami teman-teman Rudebois Ska Foundation, Jamaican Accoustic Night with Miserable Man di CS Coffee Shop, Mendungan, Pabelan. Sebuah gig yang serba dadakan, hanya dipersiapkan dalam hitungan hari, dan menjadi gig pertama Miserable Man di Indonesia. Sejak Sabtu sore teman-teman RSF sudah mempersiapkan gig tersebut. Menyusun peralatan musik beserta soundsystem yang telah dipinjam dan disewa, kami konsep secara semi-akustik. Tepat pukul 7 malam, semuanya sudah siap. Langsung saja acara dibuka dengan penampilan Surakarta Allstars. Begitulah kami menyebutnya, hanyalah penampilan kolaborasi dari kami teman-teman RSF, dengan sukarela jamming di panggung sederhana dengan peralatan yang seadanya. Saya juga ambil bagian dengan menyanyikan beberapa lagu.


Sesi ngejam sebagai pembukaan acara Jamaican Accoustic Night with Miserable Man.

          Usai bernyanyi, panggung masih diisi penampilan dari teman-teman. Sementara mereka mengisi acara, saya dan Peepu berkeliling mencari minimarket terdekat untuk membeli beberapa botol bir. Sayangnya, di sekitar lokasi acara tak ada satupun toko yang menjual bir. Mungkin karena lokasi acara berdekatan dengan salah satu universitas swasta berbasis agama. Kami berdua kembali ke CS Coffee Shop. Jam-session dari teman-teman Rudebois Ska Foundation diakhiri sekitar pukul setengah 9 malam. Berikutnya, giliran Peepu naik ke panggung. Dua buah lagu ia bawakan sendiri, bernyanyi diiringi gitar akustik yang ia bawa selama tour dan menginjak tamborine kecil yang dikaitkan pada kakinya. Memasuki lagu ketiga, yaitu lagu cover dari Radiohead - Creep, Miserable Man mengajak dua orang untuk naik ke atas panggung, sebagai backing-band-nya. Yang berkesempatan malam itu adalah Alfian AKA Ateng pada posisi drum, dan Riswan AKA Black pada bass. Seterusnya sampai lagu terakhir, mereka mengiringi Miserable Man membawakan lagu-lagu andalannya. Pada awalnya, audience sekaligus pengunjung CS Coffeeshop hanya duduk manis menikmati penampilan Miserable Man. Memasuki lagu Creep itulah awal para penonton menjadi lebih apresiatif. Sedikit demi sedikit mereka berdiri, maju ke depan, bernyanyi bersama, dan skankin pun tak tertahankan. Lagu baru dari Miserable Man yang diciptakan ketika ia baru saja menginjakkan kaki di Solo pun ia bawakan di tengah-tengah penampilannya, People Of Solo. Otomatis, kami orang-orang Solo pun merasa bangga dan dengan senang hati bernyanyi dan berdansa bersama. Saya juga ikut bernyanyi ketika membawakan lagu dari Alton Ellis - Rocksteady. Belasan lagu telah dibawakan selama kurang lebih satu jam lamanya. Lagu-lagu karya Miserable Man sendiri ditambah beberapa lagu-lagu cover dari hits-hits Jamaika terdahulu, termasuk beberapa masterpiece dari Robert Nesta Marley yang berhasil dibawakan Miserable Man dengan gayanya sendiri.



Jamaican Accoustic Night, gig pertama Miserable Man di Indonesia. Ia tampil dengan posisi duduk, berhadapan dengan penonton yang sedang bernyanyi dan berdansa.

Tak biasanya, CS Coffee Shop seramai dan semeriah ini.

          Penampilan Miserable Man diakhiri tanpa banyak basa-basi, berpamitan dengan penonton lalu turun panggung dan menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian, ia terlihat kegerahan. Lalu Peepu mengajak saya keluar untuk mencari makan. Ada pertanyaan yang muncul dari saya, mengapa ia tidak memilih makan di lokasi acara? Peepu mengaku merasa pengap dan sesak nafas karena padatnya pengunjung dan ditambah kepulan asap rokok yang memenuhi venue. Itu yang membuatnya meninggalkan panggung tanpa banyak bicara dan mengajak makan di luar sekaligus mencari udara segar. Menurutnya, satu hal yang kurang ia sukai selama di Indonesia adalah perihal rokok. Banyak orang yang merokok secara seenaknya tanpa memperhatikan orang disekitarnya. Dan peraturan yang mengatur para perokok seperti di tempat-tempat umum misalnya, juga kurang ketat seperti di negara-negara lain. Saya, Dhimas, dan Wedha (kakak dari Dhimas) keluar menemani Peepu makan. Tak lama, kami langsung kembali lagi ke CS Coffee Shop. Teman-teman Surakarta Allstars ternyata masih bermain mengisi panggung yang kosong. Sekitar hampir pukul 11 malam, acara selesai. Kami berberes-beres ria, melunasi uang sewa soundsystem dari studio, berfoto bersama, berpamitan, dan berterima kasih dengan pihak CS Coffeeshop yang telah bersedia menyediakan tempat bagi kami. Tak lupa Peepu kami beri beberapa keping CD kompilasi berisi lagu-lagu dari band-band Ska asal kota Solo yang tadinya juga kami bagikan secara cuma-cuma sebagai bonus atas pembelian tiket gig Ska Duka Bersma #3 sepekan sebelumnya.

Late Night Street Jam
          Tujuan selanjutnya adalah kembali ke lampion-lampion di kawasan Pasar Gede. Untuk memuaskan dahaga, saya yang memboncengkan Peepu mampir terlebih dahulu di sebuah minimarket yang terletak di tengah kota. Tentu saja mereka menyediakan apa yang kami cari, bir! Tiba di Pasar Gede, kami berdiri di tepi jembatan yang berada di atas sungai kecil. Meminum bir, mengambil foto dan video, dan lagi kami melakukan street jam untuk ke sekian kalinya. Merasa lelah, hampir pukul 1 dini hari Peepu mengajak saya untuk pulang (kembali ke losmen). Sementara teman-teman masih berada di Pasar Gede, Peepu saya boncengkan menuju losmen, saya juga langsung pulang karena esok paginya masih harus bekerja.


Late night street jam with Miserable Man.


MM with the kids.

Video Miserable Man menyanyikan lagu People Of Solo, bernyanyi dan berdansa di tengah malam pasca gig Jamaican Accoustic Night.

Hari-Hari Terakhir di Solo
          Tak terasa sudah hari Minggu, hari ke 5 Peepu berada di Solo alias hari terakhirnya di kota kami. Terakhir dalam artian besok hari Senin ia sudah harus bertolak menuju Banyuwangi sebelum menyeberang ke tujuannya selanjutnya, yaitu Bali dan Gili (pulau kecil yang terletak di antara Bali dengan Lombok, tempat pertama kali muncul ide untuk membuat sebuah proyek yang diberi nama Miserable Man beberapa tahun silam). Tiket kereta Sri Tanjung tujuan Banyuwangi didiapat hari Minggu siang, teman-teman dengan senang hati mengantar Peepu ke stasiun untuk membeli tiket. Jadwal keberangkatannya adalah Senin pagi pukul 08.40 WIB. Minggu malam sepulang bekerja, saya kembali menyusul Peepu dan teman-teman yang sedang nongkrong di Pose. Malam itu ia sempat berkata demikian, "Sebuah pengalaman yang hebat bisa bermain bersama orang-orang Solo. Kalian adalah musisi yang memiliki talenta, rendah hati, dan bersemangat yang pernah saya kenal. Sambutan dan dukungannya juga sangat luar biasa. Saya juga telah menciptakan lagu tentang orang-orang Solo, yang berjudul “People Of Solo”. Dan saya akan merekam lagu baru tersebut secepatnya."
          Keakraban dari kami semakin terjalin dengan erat. Sepertinya sudah tak ada lagi perbedaan yang memisahkan antara kami dengan bule penggemar nasi sayur dan tahu tempe tersebut. Perbedaan yang mencolok seperti fisik, suku bangsa, dan bahasa bukan menjadi masalah yang berarti bagi kami. Peepu seakan-akan sudah menjadi bagian dari kami, anak-anak Solo. Bulan April ia sudah harus kembali ke Malaysia karena masih menyisakan beberapa jadwal mengisi acara di cafe-cafe. Menengok jadwal Miserable Man di situsnya, ternyata ia sudah memiliki jadwal manggung sampai bulan Agustus 2013 pada bermacam-macam acara di Inggris.
          Senin pagi tiba, pukul 6 pagi saya sudah bangun, mandi, dan bersiap-siap untuk mengantar Peepu menuju Stasiun Jebres, tempat berangkatnya kereta api tujuan Banyuwangi. Tepat pukul 7 saya sampai di Paradiso Guesthouse, losmen tempat Peepu menginap. Peepu yang masih tertidur dibangunkan oleh pemilik losmen, sementara saya duduk di lobi sambil menunggu Peepu bersiap-siap. Dengan mata sembab karena kurang tidur, ia datang dengan membawa semua barang-barangnya, satu backpack dan softcase berisi gitar akustik. Sesuai janji di hari sebelumnya, Peepu tak lupa memberi saya sebuah CD albumnya dan kartu nama sebagai kenang-kenangan. Kami menyempatkan diri untuk menikmati kopi panas yang dipesan di losmen sebelum menuju stasiun. Pukul 8 pagi, kami berdua segera turun ke sibuknya lalu lintas kota Solo dan meluncur ke Stasiun Jebres. Sampai di stasiun, beberapa teman-teman yang lain juga sudah hadir untuk ikut melepas keberangkatan Peepu. Padat sekali suasana stasiun pagi itu. Sambil menunggu kereta datang, Peepu membeli air mineral, nasi bungkus, dan tak lupa tahu tempe favoritnya untuk sarapan. Sekitar 15 menit sebelum jam kedatangan kereta, Peepu berpamitan untuk segera masuk ke peron. Kami saling bejabat erat dan berpelukan satu sama lain. Dengan senyum dan tawanya ia melambaikan tangan sambil berdiri di tengah antrian. Usai sudah petualangan Peepu di Solo dalam rangka Asian Busking Tour. Semoga ia selalu ingat dengan kota kecil ini, dan tentunya kami para pemuda penikmat musik Jamaika. Pasti akan ada lagi kesempatan untuk berjumpa di antara kami, entah kapan dan di mana. Have a safe trip, my friend! Ciao!

PS : Seluruh foto-foto dalam artikel ini diambil dari bidikan lensa kawan-kawan (Sigit Pradana Putra AKA Robot, Aegis Dhimas Erlangga, dan Stefanus Henry Setiawan AKA Enus).

Beberapa link dari Miserable Man,
Facebook : http://www.facebook.com/miserableman/
Youtube : http://www.youtube.com/user/miserablemanmusic/
Website : http://www.miserableman.com/
Blog : http://miserablemanmusic.wordpress.com/
Email : miserablemanmusic@gmail.com

Wednesday, December 5, 2012

Interview with Rude Rich & The High Notes (Bahasa Indonesia)

          Dibentuk pada tahun 1998, Rude Rich & The High Notes digawangi muka-muka lama yang sudah aktif di scene sejak akhir dekade 70an. Band asal Amsterdam, Belanda pengusung Authentic Jamaican Music (Ska, Rocksteady, Reggae, Dub) ini sudah melanglang buana ke penjuru Eropa. Bermain di berbagai macam gigs dan festival, serta menjadi backing-band musisi Jamaika pendahulu seperti Alton Ellis, Derrick Morgan, Rico Rodriguez, Dennis Alcapone, Winston Francis, The Heptones, Ernest Ranglin, Ken Boothe, dan sebagainya. Kecintaan dan dedikasi mereka terhadap musik ini membuat mereka dihargai dan dihormati sebagai duta musik Jamaika. Berikut adalah tanya jawab yang saya lakukan bersama mereka.

Hai Rude Rich & The High Notes, salam hangat dari Indonesia. Apa yang saat ini sedang kalian kerjakan?
          Salam, saya yang menjawab pertanyaan ini adalah Ras P, pemain keyboard dan co-founder dari The High Notes. Saai ini kami sedang menjalani beberapa show di Belanda dan Jerman. Kami juga sedang membangun sebuah studio rekaman baru di Amsterdam. Serta mempersiapkan diri untuk gig-gig di awal tahun dan festival di musim panas.

Band kalian sudah berjalan kira-kira 15 tahun. Bagaimana cara mempertahankan suapaya band kalian tetap jalan?
          Ya, sudah cukup lama. Masih ada tiga personil inti yang juga merupakan personil asli, yang jelas kami sudah mengalami pergantian personil selama bertahun-tahun. Sebagian besar musisi yang terlibat bersama kami telah memainkan musik ini selama lebih dari 20 tahun dan sudah mengenal segala seluk-beluk tentang musik ini. Tetapi yang benar-benar membuat kami tetap jalan adalah kecintaan kami akan musik yang indah ini, dan juga reaksi positif dari audience di seluruh dunia.

Bagaimana rasanya menjadi backing-band dari sekian banyak musisi Jamaika pendahulu?
          Ini adalah salah satu hal terindah yang bisa terwujud bagi sebuah band (tidak peduli musik apa yang kamu mainkan) untuk tampil dan berkolaborasi dengan musisi idolanya di panggung. Bagi kami, karena musisi-musisi Jamaika tersebut berasal dari tempat lahirnya musik yang kami mainkan, mereka memiliki banyak hal yang bisa diajarkan dan dibagikan. Ini adalah sebuah kehormatan bagi kami, dan kami selalu menjaga kualitas kami sebaik-baiknya untuk dapat memainkan musik yang berasal dari Jamaika ini se-otentik mungkin. Sehingga mereka menghargai dan selalu memberi kami pujian seperti ini, "Musik kalian terdengar seperti era Studio One atau Treasure Isle."

Ceritakan tentang rilisan terbaru kalian!
          Rilisan terbaru kami adalah sebuah album tribute yang berisi kumpulan lagu-lagu dari musisi-musisi yang telah pergi mendahului kita. Kami memilih beberapa lagu yang paling kami sukai, lalu merekamnya. Album ini seperti yang telah dikatakan, adalah sebuah penghargaan kepada musisi-musisi yang warisan musiknya akan selalu menginspirasi orang di seluruh dunia.

Apa kegiatan para personil di luar band?
          Hampir semua dari kami memiliki pekerjaan tetap di luar band, untuk membayar sewa dan tagihan bulanan serta makan dan minum sehari-hari. Pada masa sekarang ini, tidak memungkinkan bagi kami untuk hidup dengan mengandalkan pendapatan dari bermusik saja. Dan di sini, di Belanda, semakin sulit dari tahun ke tahun dengan adanya hukum dan peraturan pajak yang setiap waktu diubah-ubah oleh pemerintah. Hal ini juga berpengaruh bagi band dan musisi-musisi baru serta venue-venue skala kecil, mereka sedang dalam masa sulit sekarang ini.

Kalian memainkan musik asli Jamaika seperti Ska, Rocksteady, Reggae, dan Dub. Apa pendapat kalian tentang modifikasi dari musik-musik tersebut seperti Ska-Punk/Core dan sebagainya?
          Seperti yang kamu katakan, kami memainkan musik asli Jamaika, dengan kata lain, memainkan musik seperti yang dimainkan pada masa lalu di tempat musik tersebut berasal. Kami mempertahankan keasliannya. Tetapi musik tetaplah musik, jika memang musisi merasa harus mencampuradukkan/memodifikasi musik-musik tersebut, boleh-boleh saja. Namun bagi saya pribadi, saya lebih memilih untuk membiarkan musik tersebut sebagaimana adanya, sesuai dengan akarnya.

Bagaimana dengan scene Ska/musik Jamaika di Belanda? Kapan dimulainya? Dan bagaimana keadaan scene di sana sekarang?
          Semuanya dimulai pada akhir 1970an, itulah waktu ketika band Reggae pertama kali muncul di sini. Saya sendiri mulai terlibat pada tahun 1979 bersama band Reggae yang bernama Inity. Pada tahun 80an musik ini benar-benar booming, banyak band bermunculan, dan venue yang selalu penuh merupakan hal yang biasa terjadi. Ska dan Rocksteady belum benar-benar dimainkan pada waktu itu. Keduanya adalah akar sebenarnya dan musik pendahulu yang dipandang rendah. Ketertarikan pada Ska dan Rocksteady muncul melalui adanya scene Two Tone di Inggris, yang membuat orang mempelajari lebih dalam tentang sejarah musik Reggae, tetapi belum ada band yang benar-benar bisa memainkan Ska dan Rocksteady. Sampai akhirnya, Ska dan Rocksteady mulai dimainkan di sini pada tahun 90an ketika Rude Rich & The High Notes terbentuk dan terlibat di scene. Apa yang saya lihat sekarang ini adalah perubahan dari audience yang sangat berbeda dari biasanya, banyak orang dari berbagai kalangan yang memberikan apresiasi mereka terhadap musik Jamaika sekarang ini, dan itu merupakan hal yang bagus.

Apa yang kamu tahu tentang scene Ska/musik Jamaika di Indonesia?
          Sejujurnya, kami tak tahu apa-apa tentang scene Ska/musik Jamaika di Indonesia. Kami baru mempelajarinya semenjak kamu meng-interview kami. Tetapi lagi-lagi saya tidak kaget. Musik yang berasal dari pulau kecil di Karibia yang bernama Jamaika, di sebuah ibukota kecil yang bernama Kingston, di bagian kecil dari ibukota yang bernama Trenchtown (Ghetto di wilayah barat Kingston), kini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Musik ini sekarang sudah dimainkan dimana-mana, hebat!

Ngomong-ngomong, bagaimana dengan penggunaan dan jual beli marijuana di Belanda?
          Di sini, penjualan dan pemakaian ganja tidak sepenuhnya legal. Dinyatakan ilegal jika barang tersebut dibawa masuk dan dipakai di coffeshop, tetapi bagi pihak coffeeshop diperbolehkan/legal untuk menjualnya, dalam jumlah yang terbatas. Coffeeshop tersebut juga diwajibkan membayar pajak atas ganja yang mereka jual. Pemerintah Belanda kini telah memperkenalkan Weedpass bagi warga Belanda di wilayah-wilayah tertentu. Mereka memberlakukan ini untuk mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke Belanda, terutama Amsterdam. Warga Amsterdam tidak senang dengan peraturan pemerintah tersebut, karena wisatawan yang datang untuk merasakan pengalaman menghisap ganja secara bebas di coffeeshop tanpa takut ditangkap tersebut memberikan pendapatan dalam jumlah besar.

Kata-kata penutup bagi para pembaca?
          Ya, bagi kalian semua pecinta musik, keep on listening to the real authentic music, keep in touch dengan kami Rude Rich & The High Notes, dan nikmati hidupmu sepenuhnya. Nuff respect and love to all.

Ras P, Rude Rich and the High Notes

PS : Kami sangat ingin mengunjungimu dan bermain di beberapa show di Indonesia. Mungkin kamu bisa membantu kami?


          Nah, itu tadi interview dengan Rude Rich & The High Notes yang dijawab oleh Ras P, keyboardist dan co-founder dari band tersebut. Banyak informasi tentang band, scene, ganja, dan sebagainya. Mereka juga mengutarakan keinginan untuk mengunjungi Indonesia. Mungkin bagi kalian yang ingin mengorganisir show bagi Rude Rich & The High Notes, dalam artian mengundang atau menampung jika barangkali mereka mengadakan tour, bisa mengontak langsung via facebook : Rude Rich and the High Notes. Dan kunjungi website mereka di : www.ruderich.nl

Interview with Rude Rich & The High Notes (Netherlands)

          Dibentuk pada tahun 1998, Rude Rich & The High Notes digawangi muka-muka lama yang sudah aktif di scene sejak akhir dekade 70an. Band asal Amsterdam, Belanda pengusung Authentic Jamaican Music (Ska, Rocksteady, Reggae, Dub) ini sudah melanglang buana ke penjuru Eropa. Bermain di berbagai macam gigs dan festival, serta menjadi backing-band musisi Jamaika pendahulu seperti Alton Ellis, Derrick Morgan, Rico Rodriguez, Dennis Alcapone, Winston Francis, The Heptones, Ernest Ranglin, Ken Boothe, dan sebagainya. Kecintaan dan dedikasi mereka terhadap musik ini membuat mereka dihargai dan dihormati sebagai duta musik Jamaika. Berikut adalah tanya jawab yang saya lakukan bersama mereka.

Hi Rude Rich and The High Notes, greeting from Indonesia! What are you currently doing in the band?
          Greetings, I, personally, am the keyboard player and co-founder of the High Notes.Currently we are doing some shows in the Netherlands and Germany and building a new recording studio in Amsterdam and preparing for next year's gigs and fetivals for the summer season.

It's about 15 years on, how to keep your band alive?
          Yes it has been a while. There is still a core of three original members so obviously we had some personel changes over the years. Most of the musicians that we worked with have been playing this music for more than 20 years and know every aspect of it. But what really keeps us going is the love of this wonderfull music and the possitive reactions of our audiences all over the world.

How it feels to be a backing band for many Jamaican artists?
          This is one of the greatest things that can happen to a band (whatever kind of music you play) to actually perform with your musical hero's on stage. Because these people stood at the cradle of reggae music they have so much to teach and share. It is a great honour for us and we allways put the standard real high to play their music as authentic as is possible. This they do appreciate very much and allways give us compliments like; "You guys sound just like Studio One or Treasure Isle".

Tell me about your latest release!
          Our latest release is a compilation album of artists who are sadly no longer with us. We picked out certain tunes which we liked best and recorded them. The album is what it says it is, a tribute to these wonderful artists who's musical legacy will allways inspire people all over the globe.

What's the activities of each members outside the bands?
          Most of us have a regular job besides the band to pay the rent and the monthly bills and to eat and drink. At this stage it is not possible for us to live from musical incomes alone and here in Holland it's getting harder year by year with different laws and tax regulations made up by the government every time. This is also relevant for upcomming new artist and bands and small venues, they are having a hard time now.

You play authentic Jamaican music such as ska, rocksteady, reggae, and dub. What do you think about the modification of itself like ska-punk/core, etc?
          As you say, we play authentic, in other words, the real stuff as it was played at the time it was originated. We are purists so to speak. But music is music and if artists feel like they have to mix it all up, that's fine with me, but speaking for myself, I prevere to keep things as they are, stick with the roots of things.

How about the ska/Jamaican music scene in Netherlands? When it's started? And how's the scene today?
          It all started here in the late 1970ties that's the time when the first reggae bands emerged. I myself started in 1979 with a reggae band called "Inity". In the 80ties it was really booming, a lot of bands and sold out venues was the order of the day. Ska and Rocksteady wasn't done in those days, it was stricktly Roots and what came before that was looked down upon. Interest in Ska and Rocksteady came through the English Two Tone scene which made some people look further into the history of reggae music but there weren't any bands who could actually play the authentic Ska and Rocksteady. That all started to happen in the 90ties when Rude Rich and the High Notes hit the scene. What I see nowadays is that the make up of the audiences is very different from what it used to be, a lot of different people appreciate Jamaican music now, which is a very good thing.

What do you know about the ska/Jamaican music scene in Indonesia?
          To tell you the honest truth, we didn't know anything about that, we looked in to it because of your interview. But then again I am not surprised. This music that started in a small Island in the Carribean, called Jamaica, in a small capital city of Kingston, in a small part of that capital called Trenchtown (Ghetto of Western Kingston) has spread to the four corners of the globe. This music is now played everywhere, which is great!

By the way, how about the usage also buying-and-selling of marijuana in Netherlands?
          Here in the Netherlands it is kind of legal to sell and use herb. It's illegal though to bring it to the so called "Coffeeshops, but once in the shop it is legal to sell, up to a certain amount. These shops are also entittled to pay taxes over what they sell! The Dutch government has now introduced a "Weedpass" for Dutch people, in certain parts of Holland. They did this in order to reduce the amount of tourists that come to the Netherlands and particular Amsterdam just to smoke freely. The city of Amsterdam is not happy with this for it will cost them an enormous amount of income since the majority of tourists come to the city just to do that; experience a visit to a coffeeshop and smoke some herb without being afraid of getting arrested.

Any last words for our readers?
Yes, all you music lovers, keep on listening to the real authentic music, keep in touch with Rude Rich and the High Notes and enjoy live to the fullness. Nuff respect and love to all.

Ras P, Rude Rich and the High Notes

PS : We would really love to visit you and do some shows in your beatiful country! Mabey u can help us out?


          Nah, itu tadi interview dengan Rude Rich & The High Notes yang dijawab oleh Ras P, keyboardist dan co-founder dari band tersebut. Banyak informasi tentang band, scene, ganja, dan sebagainya. Mereka juga mengutarakan keinginan untuk mengunjungi Indonesia. Mungkin bagi kalian yang ingin mengorganisir show bagi Rude Rich & The High Notes, dalam artian mengundang atau menampung jika barangkali mereka mengadakan tour, bisa mengontak langsung via facebook : Ride Rich and the High Notes. Dan kunjungi website mereka di : www.ruderich.nl