Showing posts with label Video. Show all posts
Showing posts with label Video. Show all posts

Thursday, March 28, 2013

Miserable Man, The Asian Busking Tour 2012/2013 - Solo, Indonesia

Apa dan Siapakah Miserable Man?
          Seorang "pengamen" mampu berkeliling dunia. Dialah Filippo alias Peepu Maze, atau lebih dikenal dengan nama panggung Miserable Man. Seorang pria berusia 36 tahun kelahiran Vicenza, Italia yang dalam beberapa tahun terakhir ini berdomisili di Norwich, Inggris. Peepu adalah musisi serba bisa. Ska, Reggae, dan Popsteady, begitu ia menyebut musik yang ia mainkan. Berkarir sebagai one man band di Miserable Man, ia biasa mengamen di sudut-sudut kota dan tempat-tempat umum di Inggris. Bermodalkan gitar, amplifier, dan microphone,  serta mouth-brass (suara trumpet yang ia keluarkan dengan mulutnya sendiri) sambil menunggu orang-orang lewat dan menyaksikan aksinya sembari menjatuhkan koin ke dalam hardcase gitar yang ia letakkan di dekatnya. Tak lupa ia menjajakan CD lagu-lagunya yang juga ia letakkan di dalam hardcase. Lagu-lagu ciptaannya dikerjakan berdua dengan seorang kawan penabuh drum dari Italia. Sedangkan Peepu mengisi seluruh bagian lainnya mulai dari vokal, gitar, bass, keyboard, tak lupa mouth-brass yang menjadi ciri khasnya. Selain mengamen, Peepu AKA Miserable Man juga kerap mengisi acara-acara seperti pernikahan, undangan, dan di cafe-cafe. Bukan hanya musik yang ia gunakan sebagai ladang untuk menghasilkan uang, ada kalanya ia juga memasak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Bagaimana Ia Bisa Sampai di Solo, Indonesia?
          Semua berawal sejak Natal tahun 2012 lalu. Ketika seorang kawan bernama Dhimas (vokalis dari salah satu band Ska kota Solo, R Slide) sedang browsing tentang musik-musik Jamaika yang bertemakan Natal di Youtube. Ditemukanlah salah satu lagu Miserable Man yang berjudul Rocksteady Xmas. Merasa tertarik, Dhimas membuka channel Youtube yang bersangkutan, yaitu miserablemanmusic. Ditemukan lagi banyak video dari Miserable Man, mulai dari video klip, cover songs, hingga aksi-aksinya ketika mengamen. Selang beberapa hari, Dhimas menceritakan pengalaman browsing-nya tersebut kepada teman-teman termasuk saya. Langsung terbesit di benak saya, barangkali orang ini (Miserable Man) adalah perpaduan antara Chris Murray dan The Dualers, hahaha. Segera saya cari page Miserable Man di Facebook. Ketemu, dan ditemukan pula beberapa link tentang dirinya selain Youtube dan Facebook. Simak-menyimak, didapatlah info kalau Miserable Man ini ternyata sedang tour di Asia. Ia menyebutnya The Asian Busking Tour 2012/2013. Sebuah perjalanan jauh yang ditempuh seorang diri. Berangkat dari Inggris sejak akhir bulan Oktober 2012 lalu, Peepu AKA Miserable Man sudah menginjakkan kaki di beberapa negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Sebelum tour-nya tersebut, beberapa tahun lalu Peepu juga pernah mengunjungi India, bahkan Indonesia, lebih tepatnya di Bali dan Jogja. Dari seluruh perjalanannya tersebut, di Kualalumpur, Malaysia-lah ia lebih lama tinggal. Menyewa losmen, mengamen bersama para pengamen lokal, dan bermain secara regular di cafe-cafe. Selebihnya, ia hanya berjalan-jalan menikmati keberagaman yang ada di belahan bumi Asia Tenggara.


Miserable Man - The Asian Busking Tour 2012/2013

          Merasa tertarik dan berangan-angan barangkali suatu hari ia mampir ke Indonesia, iseng-iseng saya menulis di wall Facebook Miserable Man. Sekedar menanyakan, apakah ia masih dalam tour-nya di Asia. Dengan Rendah hati, ia pun membalas postingan saya, bahwa ia sedang berada di Malaysia, dan akan mengunjungi Indonesia antara bulan Februari-April 2013. Tak cukup hanya di fan-page, halaman Facebook personal Miserable Man yang bernama Peepu Maze pun langsung menambahkan saya sebagai teman. Berkenalan, sekaligu keep in touch melalui pesan. Ia berkata bahwa akan mengunjungi Indonesia, lebih tepatnya Jogja dan Bali, tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya. Mengetahui saya berasal dari kota Solo, ia pun mencantumkan Solo di daftar tempat yang akan ia kunjungi dalam rangka The Asian Busking Tour 2012/2013.

          Bulan Februari 2013, tepatnya tanggal 24, adalah hari dimana kami Rudebois Ska Foundation (sebuah scene penikmat musik Jamaika dari kota Solo) melangsungkan sebuah gig yang bertajuk Ska Duka Bersama #3. Gig tersebut menampilkan seluruh band Ska asal kota Solo dan melibatkan beberapa kawan dari luar kota seperti Salatiga, Semarang, dan Malang. Di gig itulah, kami berencana akan membawa Miserable Man bergabung. Peepu AKA Miserable Man (MM) juga sudah sepakat, namun ia masih berusaha menyesuaikan tanggal supaya tepat waktu ketika sampai di Solo. Karena pada saat itu ia masih punya jadwal manggung di Malaysia, mengurus visa, penerbangan, dan lain-lain. Belum ada kepastian, kami Rudebois Ska Foundation (RSF) belum berani mencantumkan nama Miserable Man di flyer. Hingga  kami mendapat kabar menjelang hari H, bahwa MM akan berangkat hari Minggu pagi, tepat di tanggal 24 dari Malaysia, dan akan turun di Jogja pukul 2 siang. Dari jadwal tersebut, bisa diperkirakan bahwa MM sampai di Solo sore hari. Mengingat gig Ska Duka Bersama hanya berlangsung sampai pukul 5 sore, maka kemungkinan Miserable Man ikut meramaikan gig tersebut sangatlah kecil. Akhirnya, sampai gig Ska Duka Bersama #3 selesai dan berjalan lancar, Miserable Man belum juga datang. Pasca gig Ska Duka Bersama #3, kembali saya mengontak Peepu di Facebook, ternyata ia kelelahan dan tidak bisa hadir di gig kami. Tetapi, ia akan tetap datang ke kota kami, Solo, dalam beberapa hari ke depan.

Miserable Man di Solo
          Akhirnya ia datang! Setelah 3 hari menginap di Jogja dengan menyewa losmen di Sosrowijayan, hari Rabu tanggal 27 Februari 2013 adalah hari ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di Solo. Sore hari sekitar pukul 3, Peepu yang sebelumnya sudah mencatat nomor ponsel saya, tiba-tiba menelfon ketika saya masih berada di tempat kerja. Ia mengabarkan bahwa sudah berada di Solo, turun di Stasiun Balapan setelah menumpang kereta Prameks, dan sedang berada di kafetaria sebuah hotel di dekat Stasiun Balapan, untuk sekedar minum dan memanfaatkan fasilitas wi-fi sambil menunggu saya menjemput. Sepulang kerja, saya bersiap-siap, dan bergegas menjemput Peepu sekitar pukul 7 malam dengan mengajak beberapa teman. Karena Peepu berkata, "Saya lapar." maka, tujuan selanjutnya adalah makan. Kami langsung turun di warung kare pojokan Ngapeman, kami biasa menyebutnya Ngapeman Corner (NC). Peepu yang seorang vegetarian (tidak memakan daging, tetapi masih mengkonsumsi ikan, dan dia tidak merokok) menyantap sepiring nasi kare tanpa ayam, beberapa gorengan, dan es teh. Usai makan, satu per-satu teman-teman kami datang dan mulai berkenalan dengan Peepu. Kami mengobrol satu sama lain. Bicara tentang Ska dan sub-genre-nya, Peepu mngaku lebih menyukai musik-musik asli, sesuai roots-nya, daripada musik fusion semacam Ska era 2-Tone bahkan Ska Punk/Core. Saya, dengan kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan, selalu mencoba menjadi penerjemah di antara teman-teman. Tak lupa, satu elemen utama yang mengalir dalam diri kami, bahasa universal sebagai pemersatu umat manusia, apa lagi kalau bukan musik? Dengan dua buah gitar akustik, kami mainkan hits-hits Jamaika terdahulu di citywalk tempat kami makan secara lesehan. Di tengah-tengah sesi street jamming tersebut, kami langsung berencana mengagendakan sebuah gig untuk Miserable Man, yang sebelumnya meleset dari rencana di gig Ska Duka Bersama #3.


Peepu AKA Miserable Man bersama Dhimas (Vokalis R Slide) menyantap makan malam di Ngapeman Corner. Di belakangnya, terlihat pamflet acara yang telah berlalu, Ska Duka Bersama #3 tertempel pada sebuah dinding.


Street Jam with Miserable Man

          Hujan sempat mengguyur secara tiba-tiba di lokasi kami berada malam itu. Kami pun menepi ke emperan toko. Masih mendendangkan lagu-lagu Ska/Rocksteady/Reggae untuk menjalin kebersamaan di antara kami. Dari apa yang kami lakukan malam itu, secara spontan tercipta satu lagu baru dari Miserable Man yang berjudul People Of Solo. Menceritakan tentang pengalamannya ketika menginjakkan kaki di Solo. Kata solo dalam Bahasa Italia berarti sendiri, atau alone dalam Bahasa Inggris. Meskipun Peepu berkeliling dunia sendirian, namun ia tidak merasa kesepian karena bertemu dengan orang-orang seperti kami, People Of Solo!
          Waktu sudah hampir tengah malam, saatnya bergerak dari Ngapeman. Kami mengumpulkan uang untuk membeli jamuan malam penghantar tidur, beberapa botol bir dan Ciu, minuman beralkohol khas kota Solo. Di malam pertama itu, Peepu akan menginap di kediaman Rio (The Glow), karena kondisi yang kurang memungkinkan untuk mencari penginapan, mengingat waktu sudah tengah malam. Sebelum menuju ke rumah Rio, kami semua sempat mampir di Ngarsopuro. Sebuah tempat berupa jalan, taman, dan pasar barang antik yang berlokasi tepat di depan pintu gerbang Kraton Mangkunegaran.


Di Ngarsopuro, berdiri di tepi jalan, menyantap jajanan Bakso Bakar, dan berbincang mengenai banyak hal, salah satunya adalah tentang skuter (Vespa).

          Tak lama di Ngarsopuro, kami segera bergegas menuju rumah Rio. Meletakkan barang-barang, dan segera beristirahat. Tapi, seperti yang telah direncanakan sebelumnya, sesampainya di rumah Rio kami menenggak beberapa botol dan kembali berbincang mengenai banyak hal. Antara lain, tentang bahasa, gaya hidup, sepakbola, dan tentunya musik.  Intinya, kami saling berbagi pengetahuan tentang keberagaman yang ada di dunia, khususnya dari ketiga negara. Kami dari Indonesia, dan Peepu yang berasal dari Italia dan menetap di Inggris.



Di belakang rumah Rio, duduk melingkar, berbincang, dan menikmati minuman sebelum tidur. Menurut Peepu, Ciu memiliki rasa yang hampir mirip seperti Grappa, minuman dari Italia hasil distilasi anggur.

          Keasyikan mengobrol, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, saatnya memejamkan mata. Bangun di pagi hari, saya segera pulang ke rumah, bersiap diri karena harus kembali bekerja. Teman-teman yang punya waktu luang tetap bertugas menjadi guide untuk menemani Peepu. Di siang hari, Rio, Peepu, dan teman-teman menanyakan losmen yang cocok untuk disewa. Mereka bertanya kepada Megan, tetangga sebelah Rio yang juga seorang perantau. Ia berasal dari Los Angeles, California, Amerika Serikat. Megan adalah seorang perempuan yang sedang menuntut ilmu dalam bidang kesenian di Solo sekaligus berprofesi sebagai sindhen. Ia merekomendasikan sebuah losmen yang bernama Paradiso Guesthouse. Sebuah rumah inap di daerah Kemlayan yang letaknya agak terpencil di gang sempit di tengah ramainya kota Solo. Peepu menyewa satu kamar untuk beberapa hari ke depan.

          Hari-hari kami lalui dengan seorang teman baru yang kedatangannya sangat tak terduga. Kami sangat senang dan berterima kasih, bisa mengenal orang seperti Peepu. Saya dan teman-teman secara bergiliran menemani Peepu selama kunjungannya di Solo. Menyesuaikan jadwal kami masing-masing, yang masih disibukkan dengan pekerjaan dan pendidikan. Peepu sangat senang, menurutnya kami melayani dia seperti raja. Karena kami selalu siap sedia mengantar dan menemani Peepu kapanpun dan dimanapun. Di waktu luang, kami biasa nongkrong di Pose Breakstuff Space, sebuah tempat yang menyediakan menu minuman berupa kopi dan cokelat, sekaligus fasilitas wi-fi. Koneksi internet seakan menjadi barang berharga bagi Peepu. Ia adalah seorang yang hobi menjelajah internet. Bermodalkan laptop, itulah satu-satunya alat komunikasi yang ia gunakan, karena selama tour ia tidak membawa ponsel ataupun alat komunikasi lainnya. Menuliskan tour-report, meng-upload foto-foto yang ia ambil selama tour, memberikan informasi terkini tentang Miserable Man, adalah hal-hal yang biasa ia lakukan setiap harinya. Dan juga merekam materi-materi lagu untuk proyek terbarunya yang diberi nama Afronesia. Sebuah album yang terinspirasi oleh keindahan negara-negara Asia dipadu dengan musik kulit hitam.


Ketika kami sedang berada di Pose Breakstuff Space.

          Saya dan teman-teman RSF juga akan segera merealisasikan rencana tentang gig Miserable Man di Solo. Yang akan kami beri judul Jamaican Accoustic Night with Miserable Man. Kami memberikan opsi waktu antara hari Sabtu, 2 Maret 2013 atau Minggu, 3 Maret 2013. Peepu memilih hari Sabtu, malam hari. Untuk tempat, kami memilih CS Coffee Shop, sebuah warung kopi di daerah Mendungan, Pabelan (Depan SMA Negeri 2 Sukoharjo) yang biasa digunakan untuk akustik performance, stand up comedy, dan tempat berkumpulnya berbagai kalangan. Untuk peralatan dan soundsystem, kami meminjam dari teman-teman dan menyewa dari studio dengan dana seadanya, uang sisa acara Ska Duka Bersama #3 plus dana kolektif perorangan.

          Tidak cukup jamming on the street, kami bersama Peepu juga jamming di studio. Menyewa studio dengan durasi satu jam, cukup bagi kami untuk memainkan musik-musik Jamaika. Peepu bermain gitar dan bernyanyi seperti biasanya. Tak hanya itu, ia juga bermain bass, serta mengambil foto dan video di dalam studio. Setelah dari studio, kami lanjutkan lagi street jamming sambil menenggak beberapa botol bir di kawasan Pasar Gede, dengan gemerlap lampion-lampion yang menghiasi suasana malam, karena waktu itu masih dalam suasana Imlek.


Jamming di studio bersama Miserable Man.

Jamming on the street di kawasan Pasar Gede, dengan background lampion perayaan Imlek.

Jamaican Accoustic Night with Miserable Man
          Sabtu , 2 Maret 2013, sesuai rencana adalah hari dilangsungkannya gig dari kami teman-teman Rudebois Ska Foundation, Jamaican Accoustic Night with Miserable Man di CS Coffee Shop, Mendungan, Pabelan. Sebuah gig yang serba dadakan, hanya dipersiapkan dalam hitungan hari, dan menjadi gig pertama Miserable Man di Indonesia. Sejak Sabtu sore teman-teman RSF sudah mempersiapkan gig tersebut. Menyusun peralatan musik beserta soundsystem yang telah dipinjam dan disewa, kami konsep secara semi-akustik. Tepat pukul 7 malam, semuanya sudah siap. Langsung saja acara dibuka dengan penampilan Surakarta Allstars. Begitulah kami menyebutnya, hanyalah penampilan kolaborasi dari kami teman-teman RSF, dengan sukarela jamming di panggung sederhana dengan peralatan yang seadanya. Saya juga ambil bagian dengan menyanyikan beberapa lagu.


Sesi ngejam sebagai pembukaan acara Jamaican Accoustic Night with Miserable Man.

          Usai bernyanyi, panggung masih diisi penampilan dari teman-teman. Sementara mereka mengisi acara, saya dan Peepu berkeliling mencari minimarket terdekat untuk membeli beberapa botol bir. Sayangnya, di sekitar lokasi acara tak ada satupun toko yang menjual bir. Mungkin karena lokasi acara berdekatan dengan salah satu universitas swasta berbasis agama. Kami berdua kembali ke CS Coffee Shop. Jam-session dari teman-teman Rudebois Ska Foundation diakhiri sekitar pukul setengah 9 malam. Berikutnya, giliran Peepu naik ke panggung. Dua buah lagu ia bawakan sendiri, bernyanyi diiringi gitar akustik yang ia bawa selama tour dan menginjak tamborine kecil yang dikaitkan pada kakinya. Memasuki lagu ketiga, yaitu lagu cover dari Radiohead - Creep, Miserable Man mengajak dua orang untuk naik ke atas panggung, sebagai backing-band-nya. Yang berkesempatan malam itu adalah Alfian AKA Ateng pada posisi drum, dan Riswan AKA Black pada bass. Seterusnya sampai lagu terakhir, mereka mengiringi Miserable Man membawakan lagu-lagu andalannya. Pada awalnya, audience sekaligus pengunjung CS Coffeeshop hanya duduk manis menikmati penampilan Miserable Man. Memasuki lagu Creep itulah awal para penonton menjadi lebih apresiatif. Sedikit demi sedikit mereka berdiri, maju ke depan, bernyanyi bersama, dan skankin pun tak tertahankan. Lagu baru dari Miserable Man yang diciptakan ketika ia baru saja menginjakkan kaki di Solo pun ia bawakan di tengah-tengah penampilannya, People Of Solo. Otomatis, kami orang-orang Solo pun merasa bangga dan dengan senang hati bernyanyi dan berdansa bersama. Saya juga ikut bernyanyi ketika membawakan lagu dari Alton Ellis - Rocksteady. Belasan lagu telah dibawakan selama kurang lebih satu jam lamanya. Lagu-lagu karya Miserable Man sendiri ditambah beberapa lagu-lagu cover dari hits-hits Jamaika terdahulu, termasuk beberapa masterpiece dari Robert Nesta Marley yang berhasil dibawakan Miserable Man dengan gayanya sendiri.



Jamaican Accoustic Night, gig pertama Miserable Man di Indonesia. Ia tampil dengan posisi duduk, berhadapan dengan penonton yang sedang bernyanyi dan berdansa.

Tak biasanya, CS Coffee Shop seramai dan semeriah ini.

          Penampilan Miserable Man diakhiri tanpa banyak basa-basi, berpamitan dengan penonton lalu turun panggung dan menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian, ia terlihat kegerahan. Lalu Peepu mengajak saya keluar untuk mencari makan. Ada pertanyaan yang muncul dari saya, mengapa ia tidak memilih makan di lokasi acara? Peepu mengaku merasa pengap dan sesak nafas karena padatnya pengunjung dan ditambah kepulan asap rokok yang memenuhi venue. Itu yang membuatnya meninggalkan panggung tanpa banyak bicara dan mengajak makan di luar sekaligus mencari udara segar. Menurutnya, satu hal yang kurang ia sukai selama di Indonesia adalah perihal rokok. Banyak orang yang merokok secara seenaknya tanpa memperhatikan orang disekitarnya. Dan peraturan yang mengatur para perokok seperti di tempat-tempat umum misalnya, juga kurang ketat seperti di negara-negara lain. Saya, Dhimas, dan Wedha (kakak dari Dhimas) keluar menemani Peepu makan. Tak lama, kami langsung kembali lagi ke CS Coffee Shop. Teman-teman Surakarta Allstars ternyata masih bermain mengisi panggung yang kosong. Sekitar hampir pukul 11 malam, acara selesai. Kami berberes-beres ria, melunasi uang sewa soundsystem dari studio, berfoto bersama, berpamitan, dan berterima kasih dengan pihak CS Coffeeshop yang telah bersedia menyediakan tempat bagi kami. Tak lupa Peepu kami beri beberapa keping CD kompilasi berisi lagu-lagu dari band-band Ska asal kota Solo yang tadinya juga kami bagikan secara cuma-cuma sebagai bonus atas pembelian tiket gig Ska Duka Bersma #3 sepekan sebelumnya.

Late Night Street Jam
          Tujuan selanjutnya adalah kembali ke lampion-lampion di kawasan Pasar Gede. Untuk memuaskan dahaga, saya yang memboncengkan Peepu mampir terlebih dahulu di sebuah minimarket yang terletak di tengah kota. Tentu saja mereka menyediakan apa yang kami cari, bir! Tiba di Pasar Gede, kami berdiri di tepi jembatan yang berada di atas sungai kecil. Meminum bir, mengambil foto dan video, dan lagi kami melakukan street jam untuk ke sekian kalinya. Merasa lelah, hampir pukul 1 dini hari Peepu mengajak saya untuk pulang (kembali ke losmen). Sementara teman-teman masih berada di Pasar Gede, Peepu saya boncengkan menuju losmen, saya juga langsung pulang karena esok paginya masih harus bekerja.


Late night street jam with Miserable Man.


MM with the kids.

Video Miserable Man menyanyikan lagu People Of Solo, bernyanyi dan berdansa di tengah malam pasca gig Jamaican Accoustic Night.

Hari-Hari Terakhir di Solo
          Tak terasa sudah hari Minggu, hari ke 5 Peepu berada di Solo alias hari terakhirnya di kota kami. Terakhir dalam artian besok hari Senin ia sudah harus bertolak menuju Banyuwangi sebelum menyeberang ke tujuannya selanjutnya, yaitu Bali dan Gili (pulau kecil yang terletak di antara Bali dengan Lombok, tempat pertama kali muncul ide untuk membuat sebuah proyek yang diberi nama Miserable Man beberapa tahun silam). Tiket kereta Sri Tanjung tujuan Banyuwangi didiapat hari Minggu siang, teman-teman dengan senang hati mengantar Peepu ke stasiun untuk membeli tiket. Jadwal keberangkatannya adalah Senin pagi pukul 08.40 WIB. Minggu malam sepulang bekerja, saya kembali menyusul Peepu dan teman-teman yang sedang nongkrong di Pose. Malam itu ia sempat berkata demikian, "Sebuah pengalaman yang hebat bisa bermain bersama orang-orang Solo. Kalian adalah musisi yang memiliki talenta, rendah hati, dan bersemangat yang pernah saya kenal. Sambutan dan dukungannya juga sangat luar biasa. Saya juga telah menciptakan lagu tentang orang-orang Solo, yang berjudul “People Of Solo”. Dan saya akan merekam lagu baru tersebut secepatnya."
          Keakraban dari kami semakin terjalin dengan erat. Sepertinya sudah tak ada lagi perbedaan yang memisahkan antara kami dengan bule penggemar nasi sayur dan tahu tempe tersebut. Perbedaan yang mencolok seperti fisik, suku bangsa, dan bahasa bukan menjadi masalah yang berarti bagi kami. Peepu seakan-akan sudah menjadi bagian dari kami, anak-anak Solo. Bulan April ia sudah harus kembali ke Malaysia karena masih menyisakan beberapa jadwal mengisi acara di cafe-cafe. Menengok jadwal Miserable Man di situsnya, ternyata ia sudah memiliki jadwal manggung sampai bulan Agustus 2013 pada bermacam-macam acara di Inggris.
          Senin pagi tiba, pukul 6 pagi saya sudah bangun, mandi, dan bersiap-siap untuk mengantar Peepu menuju Stasiun Jebres, tempat berangkatnya kereta api tujuan Banyuwangi. Tepat pukul 7 saya sampai di Paradiso Guesthouse, losmen tempat Peepu menginap. Peepu yang masih tertidur dibangunkan oleh pemilik losmen, sementara saya duduk di lobi sambil menunggu Peepu bersiap-siap. Dengan mata sembab karena kurang tidur, ia datang dengan membawa semua barang-barangnya, satu backpack dan softcase berisi gitar akustik. Sesuai janji di hari sebelumnya, Peepu tak lupa memberi saya sebuah CD albumnya dan kartu nama sebagai kenang-kenangan. Kami menyempatkan diri untuk menikmati kopi panas yang dipesan di losmen sebelum menuju stasiun. Pukul 8 pagi, kami berdua segera turun ke sibuknya lalu lintas kota Solo dan meluncur ke Stasiun Jebres. Sampai di stasiun, beberapa teman-teman yang lain juga sudah hadir untuk ikut melepas keberangkatan Peepu. Padat sekali suasana stasiun pagi itu. Sambil menunggu kereta datang, Peepu membeli air mineral, nasi bungkus, dan tak lupa tahu tempe favoritnya untuk sarapan. Sekitar 15 menit sebelum jam kedatangan kereta, Peepu berpamitan untuk segera masuk ke peron. Kami saling bejabat erat dan berpelukan satu sama lain. Dengan senyum dan tawanya ia melambaikan tangan sambil berdiri di tengah antrian. Usai sudah petualangan Peepu di Solo dalam rangka Asian Busking Tour. Semoga ia selalu ingat dengan kota kecil ini, dan tentunya kami para pemuda penikmat musik Jamaika. Pasti akan ada lagi kesempatan untuk berjumpa di antara kami, entah kapan dan di mana. Have a safe trip, my friend! Ciao!

PS : Seluruh foto-foto dalam artikel ini diambil dari bidikan lensa kawan-kawan (Sigit Pradana Putra AKA Robot, Aegis Dhimas Erlangga, dan Stefanus Henry Setiawan AKA Enus).

Beberapa link dari Miserable Man,
Facebook : http://www.facebook.com/miserableman/
Youtube : http://www.youtube.com/user/miserablemanmusic/
Website : http://www.miserableman.com/
Blog : http://miserablemanmusic.wordpress.com/
Email : miserablemanmusic@gmail.com

Wednesday, September 5, 2012

The Punk Syndrome (2012) : Never Mind The Sex Pistols, Here's Pertti Kurikan Nimipäivät

          Lupakan sejenak tentang sang legenda Sex Pistols, karena kita punya Pertti Kurikan Nimipäivät, sebuah band punk rock asal Helsinki, ibu kota Finlandia. Pertti Kurikan Nimipäivät bukan sembarang band, karena band yang berdiri pada tahun 2009 ini diisi oleh orang-orang yang menderita keterbelakangan/cacat mental. Mereka adalah Pertti Kurikka (Gitar), Kari Aalto (Vokal), Sami Helle (Bass), dan Toni Välitalo (Drum). Bagian dari kisah perjalanan mereka dipresentasikan di dalam sebuah film dokumenter yang berjudul The Punk Syndrome. Film ini tayang premier di negara asal mereka, Finlandia, pada tanggal 4 Mei 2012 lalu. The Punk Syndrome adalah sebuah rangkuman dari keseharian dan suka duka di dalam sebuah band punk rock. Dimana Pertti Kurikan Nimipäivät menghabiskan waktu di studio, rekaman, tour, on stage, dan berinteraksi dengan penonton. Lagu-lagu yang mereka bawakan adalah seputar apa yang mereka hadapi di setiap harinya, masalah yang terjadi di sekitar, hingga tuntutan persamaan antar manusia. Tak hanya dalam bermusik, dalam film dokumenter ini juga diceritakan kehidupan mereka dalam berkeluarga, hingga kisah-kisah cinta yang mereka alami. Faktor psikologi/emosional menjadi bumbu yang menambah rasa dalam film ini. Kita akan melihat tingkah laku dari para personil Pertti Kurikan Nimipäivät yang nantinya mampu membuat kita salut akan keterbatasan yang mereka miliki.



Thursday, July 12, 2012

Kesepakatan Bersama #2 : Review

Flyer
          Menjelang bulan puasa tahun 2012 yang jatuh pada pertengahan bulan Juli, kota Solo banyak menyuguhkan perhelatan musik dalam skala kecil maupun besar. Banyak yang berlomba-lomba mencari hari dan tanggal yang tepat sebelum bulan Ramadhan tiba. Sampai ada beberapa acara yang hari dan tanggalnya bersamaan.
          Kali ini, saya akan mengulas salah satu gig, yaitu Kesepakatan Bersama #2 yang diadakan pada hari Minggu tanggal 8 Juli 2012. Kebetulan, setahu saya pada hari dan tanggal tersebut juga bersamaan dengan diadakannya sebuah gig yang melibatkan band-band Metal - Hardcore di Auditorium AUB. Kesepakatan Bersama #2 persembahan kawan-kawan The Teenage Fraternity yang merupakan kelanjutan dari Kesepakatan Bersama #1 kali ini melibatkan band-band Melodic Punk dan Ska di dalamnya. Tak hanya local act kota Solo, tetapi juga mendatangkan kawan-kawan luar kota seperti Stay Funny dan Write The Future dari Malang, Pyong Pyong dari Semarang, serta mereka yang menyebut dirinya sebagai Wonogiri Rudeboys, The Yanto Brothers. Dimulai pukul 8 pagi seperti yang tertera pada flyer, nampaknya budaya molor masih menjadi tradisi. But it's okay, pukul 8 pagi mungkin masih terlalu pagi untuk konteks gigs. Lagipula molornya waktu dimulainya gig ini tidak menghalangi jalannya acara dan tak mengurangi kualitas acara yang disuguhkan. Untuk rundown berjalan mulus, tidak terjadi kekacauan sampai terjadi cari-mencari band yang belum hadir. Band-band dari panitia sengaja diletakkan di awal acara demi menghindari jam karet yang fatal. Venue terletak di GOR Bulutangkis Universitas Surakarta (UNSA), Palur. Bagi yang baru pertama kali mendatangi tempat tersebut seperti saya, memang butuh perjuangan untuk mencapainya, haha. Sebelum sampai di venue, saya sempat tersesat salah gang, dan akhirnya harus bertanya pada salah satu orang yang sedang berada di tepian jalan. Memang benar apa kata pepatah, "Malu bertanya sesat di jalan." Berkaitan dengan hal tersebut, saya salut bagi semua yang telah hadir dan berpartisipasi dalam gig Kesepakatan Bersama #2. Semua band tampil dalam top form mereka, tidak setengah-setengah meskipun kuantitas penonton tidak mengisi kapasitas gedung secara penuh. Tidak adanya panggung, atau bisa dikatakan lesehan juga menciptakan aura yang lebih panas. Hingga tindakan apresiatif seperti pogo, dancing, skanking, moshing, dan crowd-surfing, bahkan ngibing tak mampu dihindarkan, hahaha. There's no border between performers and audience, it looks great! Semoga tak cukup sampai di sini, kita semua pasti akan dengan setia menunggu part-part dari Kesepakatan Bersama berikutnya. :)

Crowd of Audience
          Selain foto di atas, juga saya sisakan dokumentasi berupa video yang telah diunggah ke Youtube. Sebuah performance dari salah satu band pengisi, yaitu The Suspender dengan lagu mereka yang berjudul Realize.


Tuesday, May 29, 2012

No Perfect - Olympia WA. Live @ Genggam Erat Present : Ambisi Untuk Bersatu (2009)


          Ingat dengan video ini? Yak, sesuai judul, ini adalah penampilan dari salah satu band Melodic Punk asal kota Solo, No Perfect, pada waktu berpartisipasi dalam sebuah gig berjudul Ambisi Untuk Bersatu, persembahan sebuah komunitas kolektif bernama Genggam Erat (RIP) tanggal 4 Januari 2009 di Joglo Sriwedari, Solo. Saat itu, No Perfect menggunakan formasi bongkar pasang seperti biasanya, semenjak Andri AKA Bandeng (Bass) memutuskan untuk vakum dari band demi mencari nafkah di negara matahari terbit, Jepang. Selain Ridwan AKA Kuncung (Drum) dan Agus AKA Kenthus (Gitar & Vokal) pada formasi inti, mereka menambahkan Karak, seorang tattoo artist pada posisi gitar, dan Ian pada posisi bass. Dalam video ini, mereka membawakan lagu dari Rancid yang juga di-cover oleh NOFX, Olympia WA.
          Sebenarnya, masih ada beberapa dokumentasi berupa live video dari band-band yang juga ikut berpartisipasi dalam gig Ambisi Untuk Bersatu persembahan Genggam Erat ini, seperti Sally Brown (RIP), The Suspender, dan Underdog (RIP, cikal bakal The Working Class Symphony). Tetapi semuanya sudah hilang akibat laptop milik seorang teman bernama Faris AKA Gundul, yang menyimpan beberapa video tersebut rusak dan memakan semua data yang tersimpan. Selain menyimpan, dia juga merupakan dokumentator dari video-video tersebut. Beruntung masih tersisa video dari No Perfect ini, yang ternyata masih tersimpan di flashdisk milik Agus AKA Kenthus.

Thursday, May 17, 2012

Menangislah Jika Kau Punya Hati

          Pada suatu hari sewaktu mengikuti perkuliahan di kampus dengan mata kuliah Antropologi Sastra, dosen saya memberikan suatu tambahan di akhir jam perkuliahan. Yaitu video yang bisa dijadikan sebagai renungan dalam menjalani kehidupan. Ketika ditampilkan di muka kelas, para mahasiswa nampaknya kurang menggubris karena mungkin sudah pada lelah mengingat ditampilkannya video ini sewaktu selesai kuliah, meskipun ada beberapa yang mengapresiasi termasuk saya. Saya pribadi begitu mencermati video yang ditampilkan oleh dosen saya, karena tokoh dan bahasa yang dipergunakan dalam video tersebut adalah asing, bukan dari Indonesia. Setelah tertangkap apa yang disampaikan, saya pun tahu apa inti dan maksudnya. Yaitu, video ilustrasi yang berisi tentang kejadian menyedihkan antara ayah dan anak yang patut untuk kita renungkan. Seketika saya sedih dan tersentuh setelah melihat kedua video tersebut, tetapi jujur, saya malu untuk mengekspresikannya secara terang-terangan di dalam kelas, haha. Dalam hati, saya berniat untuk melanjutkan menonton dengan browsing kembali video tersebut di rumah, dan segera mencatat judul video tersebut di draft ponsel saya.
          Setibanya di rumah, langsung saya cari video tadi di YouTube, dengan keyword judul yang sudah saya catat di draft ponsel saya. Setelah selesai download dan menyaksikannya, tidak munafik, saya pun menitikkan air mata. Betapa tidak, kedua video tersebut sangat menusuk perasaan saya, meningat saya pribadi juga bukanlah seorang anak yang sangat taat kepada kedua orang tua. Ditambah situasi dan kondisi yang mendukung, yaitu sewaktu tengah malam dan berada di dalam kamar seorang diri.
          Video ini berjudul "There Are No Perfect Fathers, But..." Menceritakan kisah seorang ayah yang memiliki kekurangan fisik yaitu bisu dan tuli, bersama seorang anak perempuan seusia sekolah menengah yang berperangai buruk, malu dan tidak bangga dengan ayahnya sendiri yang serba berkekurangan secara fisik, ia juga sering bermasalah di sekolah dengan teman-temannya karena sering diejek perihal ayahnya, yang sering disebut dengan sebutan "Deaf Dumb Dad". Akhirnya, akibat rasa muak dan putus asa terhadap kehidupan serta ketidakterimaan kenyataan akan sosok sang ayah, anak perempuan tersebut mencoba bunuh diri di dalam kamar. Tetapi gagal, karena ketahuan sang ayah dan langsung dibawa ke rumah sakit. Dengan segala daya upaya dan keterbatasannya, sang ayah pun berusaha menolong sang anak yang mengalami pendarahan dan sedang berada dalam keadaan sekarat. Demi anak gadisnya yang harus tetap hidup, ia rela memberikan segalanya, harta, sampai darahnya. Perlahan si anak pun mulai sadarkan diri, pelan-pelan juga bangkit semua kenangan akan ayahnya sedari waktu ia kecil. Hingga pada akhirnya ia siuman dan mendapati sang ayah tergeletak di sebelahnya dan telah meregang nyawa. Anak gadis tersebut pantas untuk menyesal.


"I was born a deaf-mute, I'm sorry for that. I can't speak like other fathers, but I want you to know that I love you with all my heart."
"There are no perfect fathers, but a father will always love perfectly."
"Remember to care for those who care for you."

Friday, May 11, 2012

SuperHeavy - Miracle Worker (Video)

         Sebuah proyek grup dengan komposisi pilihan bernama SuperHeavy! Mereka adalah Mick Jagger (Vocals, Guitar), A. R. Rahman (Vocals, Piano, Synthesizer, Guitar, Bass, Percussion, String Arrangement), Joss Stone (Vocals), Damian Marley (Vocals), Dave Stewart (Guitar, Backing Vocals), Ann Marie Calhoun (Violin), Shiah Coore (Bass), dan Courtney Diedrick (Drums). Check this video out!