Monday, August 6, 2012

The Toasters, "Indonesia, here we come!"

          Setelah bertahun-tahun menanti, para fans musik ska di Indonesia akhirnya merasa lega setelah mendengar kabar bahwa legenda New York City Ska, The Toasters akan hadir di Indonesia pada bulan September 2012 nanti. Pada saat saya menulis artikel ini, sudah terdengar kabar bahwa Jakarta dan Malang adalah kota-kota yang rencananya menggelar konser The Toasters. Tanggal untuk Jakarta masih coming soon alias segera, sedangkan Malang tanggal 25 September. Dan untuk harga tiket belum ada informasi. Tour The Toasters di Indonesia ini masih dalam rangka anniversary mereka yang ke 30, sejak terbentuk pada tahun 1981 silam. Dalam akun facebook resmi The Toasters, mereka menyatakan kebenaran akan agenda tour mereka ke Indonesia. Coba cek screenshot di bawah ini.



          Mereka mengatakan bahwa The Toasters telah merencanakan kedatangannya ke Indonesia setelah menjalani tour di Australia pada bulan September. Mereka masih mempunyai kekosongan tanggal di sela-sela jadwal tour untuk diisi. Dan untuk informasi lebih lanjut, mereka menyarankan kita untuk mengontak di halaman facebook resmi The Toasters : http://www.facebook.com/TheToasters atau melalui email cubo.consulting@gmail.com

Jago Tarung (2012) : Movie Review

Poster Film Jago Tarung
          Jago Tarung adalah sebuah judul film produksi Liar Liar Film pimpinan Abdurrachman Sya'bani Nasution AKA Bani. Diperani nama-nama seperti Yanu N. Wibisono (The Leon's Labyrinth) Eko Aris Setyawan (Eks. Blegidize, sekarang bergabung dengan No Perfect), Wahyu Jayadi AKA Uziel (Down For Life), Natalius Telaumbanua AKA Lius dan Slamet Wiyono AKA Mamik (Tendangan Badut), serta talenta berbakat lainnya. Film pendek berdurasi 17 menit ini juga merupakan pemenang Festival Film Solo 2012 bulan Mei lalu. Mengambil setting di pemukiman padat penduduk, film ini memberikan kesan yang sangat kental akan realita yang ada di sekitar kita. Seperti susahnya mencari lapangan pekerjaan, perjudian (sabung ayam), kehidupan berumah tangga, pertikaian antar personal, hingga kekerasan yang biasa terjadi di tengah-tengah kehidupan kita. Kabarnya, akan beredar package include poster film Jago Tarung dalam waktu dekat ini.

Friday, July 27, 2012

Moonshine, Cahaya Rembulan dari Kota Pahlawan

          Kota Pahlawan, Surabaya, tak ada habisnya menghasilkan talenta-talenta berbakat. Salah satunya adalah Moonshine. Sebuah band ska yang pantas untuk kita kenali lebih jauh. Berikut adalah perkenalan dari mereka.
          Moonshine adalah sebuah band ska dari Surabaya, Indonesia. Awalnya nama ini muncul dari ide perkusi kami yang juga tergabung dalam band Oi! yang bernama Fat King. Dia bersaran untuk memberikan nama band ini dengan Moonshine, yang bermakna secara harfiah Moon adalah Bulan dan Shine adalah Terang. Moonshine adalah Terang Bulan. Dan asal tahu saja, Terang Bulan adalah salah satu makanan enak di kota kami. Ide membentuk Moonshine muncul ketika scene Menganti Ska Foundation dan Anti Famous berkumpul. Dengan beberapa teman seperti Melon - RAT (band Punk) dan Firman Angga - Roti Lapiska dan Juga Ratmi B29 ini membantu mempertemukan kedua scene ini. Padahal Menganti Ska Foundation dan Anti Famous berada di kota yang berbeda, Gresik dan Surabaya. Menganti Ska Foundation melahirkan beberapa band, Rat Captain (Ska Punk), Rayuan Pulau Kelapa/RPK (2 Tone), dan Chicken Track di awal Tahun 2004an silam. Demikian juga di Anti Famous (Jl. Arjuno) ada Roti Lapiska (Ska) dan The Fat King (Oi!). Bisa dikatakan rata-rata scene di Menganti Ska Foundation adalah mengadopsi subkultur Rude Boy dan di Anti Famous beraneka ragam, tapi yang jelas kebanyakan adalah Skinhead. Dengan berjalannya waktu 2004 sampai ke 2008, kami sering berkumpul, ke gigs bersama-sama serta saling support. Pada akhirnya kami berpikir untuk melahirkan band ska tradisional dengan komposisi anggota dari singkronisasi Menganti Ska Foundation dan Anti Famous. Maka dari itu lahirlah Moonshine Ska Band!
          Band ini seperti angin berlalu, di antara hidup dan dalam ketiadaan. Untung para sesepuh seperti Firman Angga, Herman (Heavy Monster), dan Resha Sasongko terus dan terus mencaci maki kami (support maksudnya), tanpa mereka apalah band kami ini. Belum lagi keluarga besar Menganti dan Arjuno, terus-terusan mendukung kami untuk terus bermusik dan keep root! Oh iya, ada satu lagi tokoh yang support dan membantu kami, QQ Bretel/ Fishska juga sangat membantu. Termasuk desain stiker dan kaos Moonshine, beliaulah yang mengatur semuanya, serta pendidikan yang begitu hebat untuk kami. Cukup sekian dan terima kasih, doakan selalu biar ngeband terus!

Interview dengan Aplek dari Los Javanian di Semarang Ska Fest Music Radio


          Los Javanian (Jakarta Early Ska/Original Rocksteady/Early Reggae) berdiri di awal 2008. Diawali dengan kecintaan masing-masig personil terhadap musik. Dan akhirnya terbentuklah Los Javanian. Dalam bermusik, Los Javanian tidak hanya terpaku dalam membuat lagu sendiri, namun juga mencoba untuk mengaransemen ulang lagu-lagu yang sudah jarang didengar oleh banyak orang. Meng-cover lagu penyanyi atau band lain bukan bermaksud untuk melakukan plagiat, melainkan untuk menyajikan lagu lama dengan nuansa yang baru dan dengan tidak mengurangi rasa menghargai terhadap para pencipta ataupun penyanyinya. Karena menurut kami, berkarya bukanlah terpaku pada apa yang kita ciptakan, namun mengembangkan dan menghargai ciptaan orang lain juga dapat dijadikan sebagai bentuk berkarya.
         Sekiranya, itu tadi adalah profil singkat dari Los Javanian. Merasa ingin tahu lebih lanjut, apa salahnya bertanya? Berikut adalah sebuah interview singkat dan dadakan ketika sedang bertemu dengan Aplek, frontman dari Los Javanian dalam sebuah chatroom di grup Semarang Ska Fest Music Radio menggunakan aplikasi RaidCall. Dimana kita bisa bertemu secara online dengan kawan-kawan pecinta musik Ska, ngobrol bareng, diskusi, bahkan bisa siaran serta mendengarkan dan me-request lagu. Sesi tanya jawab ini dilakukan sembari mendengar lagu-lagu dari Los Javanian yang diputar secara online di SemarangSkaFest MusicRadio dan menunggu kiriman single-single terbaru dari Los Javanian melalui email. Selamat menyimak.

Coba ceritain secara singkat dong mas, bagaimana awal mula berdirinya Los Javanian?
          Sebenarnya ini adalah band gabungan dari bandku dulu, Soulshaker yang bubar. Gabungan dari Soulshaker dan Lord Agusto and The Tropical Vibration. Dan Lord Agusto and The Tropical Vibration juga punya nasib yang sama, seiring berjalan waktu Lord Agusto pun break. Lalu saya bertemu dengan Dika AKA Lord Agusto dan bincang-bincang soal band. Akhirnya cari personil dan kami tadinya bertujuan membuat band soul, tapi endingnya tetep dapet soul ke pure original rocksteady sound. Ya, kalau sejarah singkatnya Los Javanian seperti itu tadi. Penggabungan 2 karakter musik dari Lord Agusto dan Soulshaker.

Mengapa dinamakan Los Javanian?
          Karena mayoritas tinggal di pulau Jawa. Kami merupakan orang yang berada di pulau Jawa, namun terbuang di pulau Jawa sendiri.

Kok bisa berpikir terbuang di pulau sendiri?
          Karena banyak dari kami yang belum mendapatkan suatu hasil yang maksimal pada saat itu.

Hasil seperti apa yang dimaksud?
          Semua hal, entah itu dalam bermusik maupun dalam kehidupan.

Tapi kalau sekarang gimana? Sudah merasa tak terbuang kan?
          Jadi dengan adanya nama Los Javanian kami mencoba berusaha menjadi lebih baik. Pastinya toh yo.

Dulu mas Aplek juga sempet gabung sama Apollo Ten kan?
          Saya dulu vokal setelah Anto Jahkimpling dan Piyel cabut. Saya sempat melanjutkan Apollo Ten. Sempat lah beberapa kesempatan yang cukup lama saya bersama Apollo Ten.

Tuesday, July 24, 2012

Pentingnya Dokumentasi dalam Scene Lokal

          Dokumentasi adalah sebuah kegiatan mengabadikan, merekam, menulis suatu hal maupun obyek dalam sebuah peristiwa yang dianggap penting atau memiliki nilai tertentu. Hasil dokumentasi dapat berupa foto, video, berita, dan tulisan, dan sebagainya. Lepas dari penting atau tidaknya sebuah peristiwa, menurut saya pribadi dokumentasi memiliki manfaat tersendiri. Dan kali ini, saya menulis tentang pentingnya dokumentasi dalam scene lokal.
          Solo, adalah sebuah kota dimana saya dilahirkan dan tumbuh hingga sekarang ini. Kota ini memiliki banyak scene dari keberagaman kultur anak muda. Mulai dari punk, hardcore, metal, grunge, ska, reggae, indie-pop, dan sebagainya. Saya rasa, semua tetap hidup dari masa ke masa. Meskipun beberapa diantaranya pernah mengalami pasang surut, stagnasi, dan mati suri. Hidupnya scene-scene tersebut jelas tak luput dari peran penting dokumentasi. Segala bentuk dokumentasi selalu menjadi aspek utama dalam penyampain informasi dari satu orang ke orang yang lain. Scene yang hidup ditandai dengan adanya aktivitas/pergerakan di dalam maupun di luar scene tersebut, yang tentunya bermula dan diketahui melalui andil dokumentasi.
          Beberapa contoh kegiatan dokumentasi dalam scene adalah, ketika sebuah band menjalani proses recording lalu mendistribusikannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada sekitar melalui setiap kalimat yang terkandung dalam sebuah karya/lagu yang mereka ciptakan. Jika kita datang ke sebuah gig dan menjumpai beberapa orang membidik salah satu sudut menggunakan kamera, itu juga salah satu bentuk proses dokumentasi. Entah sekedar hobi, atau apalah itu, ia pasti akan menghasilkan foto atau video yang nantinya bisa disimak pula oleh orang lain. Atau ketika kita membaca tulisan mengenai review gig maupun rilisan pada sebuah zine/blog. Sebenarnya masih ada banyak lagi contoh dokumentasi. Tak hanya berupa fisik, bahkan sampai hal kecil seperti cerita dari mulut ke mulut, yang merupakan bentuk hasil dokumentasi berupa lisan.

Bidikan Kamera pada Sebuah Gig

          Apapun bentuk dokumentasi, selalu menjadi jembatan yang sangat vital untuk menuju tersampaikannya informasi. Kelak, dokumentasi-dokumentasi tersebut tak hanya berguna sebagai komposisi pokok dalam sebuah informasi dan menunjang kelangsungan hidup sebuah scene, tetapi juga mampu menjadi warisan yang manis bagi generasi-generasi berikutnya.